Seniwati Gallery: Imaji Tentang Bali Dulu dan Kini 

Oleh Hardiwan Prayogo

‘Seniwati Gallery of Art by Women’ ingin memperkenalkan karya-karya seniman perempuan di Bali ke kalangan publik yang luas, termasuk memperkenalkannya dengan pasar seni rupa. Seniwati Gallery akhirnya juga berkembang menjadi sanggar dan komunitas untuk para seniman perempuan yang mendorong regenerasi dan lahirnya seniman-seniman muda di Bali. Beberapa seniman yang pernah bergabung dengan Seniwati Gallery antara lain Ni Wayan Warti, Cok Mas Astiti, Gusti Agung Galuh, Ni Made Suciarmi, I Gusti Ayu Kadek Murniasih, dan Ni Nyoman Sani.

Tahun 2012, Seniwati Gallery berpindah lokasi dari Ubud ke Batubulan yang lebih memungkinkan menarik minat seniman-seniman muda di kota Denpasar untuk bergabung, seperti Atmi Kristiadewi, Citra Sasmita, Ni Luh Pangestu Widya Sari, dan Ni Luh Gede Widiyani. Tahun 2012, Mary Northmore memutuskan untuk tidak meneruskan operasional ruang Seniwati Gallery. Meski demikian, beberapa kegiatan yang dulunya pernah menjadi program Seniwati Gallery seperti kursus melukis untuk perempuan dan anak-anak tetap diteruskan oleh Ni Nyoman Sani, salah satu seniman perempuan yang dahulu pernah bertumbuh bersama Seniwati Gallery.

Kehadiran Seniwati Gallery ada dalam dua dinamika wacana seni rupa Bali. Pertama adalah citra Bali yang lekat atau identik dengan kehidupan orang-orang desa, upacara/ ritus-ritus keagamaan, tari tradisional, dan lanskap pemandangan sawah. Kedua adalah  perkembangan wacana kontemporer dalam seni rupa, yang tentu memiliki citra berbeda dengan poin pertama. Dalam beberapa referensi, kesenian di Bali kerap disandingkan dengan kata Baliseering, atau Balinisasi (http://art.citrasasmita.com/2019/03/07/melampaui-batas-batas-balinisasi/ , https://beritabali.com/read/2019/05/07/201905070002/Baliseering-Strategi-Belanda-Dari-Politik-Penaklukan-ke-Diplomasi.html). Maka secara singkat, Baliseering adalah sebuah upaya pada masa kolonial Belanda untuk melakukan perubahan strategi penjajahan dari politik penaklukan (perang) menuju politik diplomasi kebudayaan. Lantas apakah ada kaitan langsung antara Baliseering dengan Seniwati Gallery? Pertanyaan ini akan sulit dijawab secara langsung. Namun gambaran awalnya bisa ditelusuri dari melihat karya-karya seniman yang digawangi oleh Seniwati Gallery.

Pada era awal berdirinya Seniwati Gallery, termuat dalam katalog The First Ten Years 1991-2001, kita bisa melihat perbedaan gaya antar beberapa generasi. Untuk seniman-seniman kelahiran 1932-1938 yang dimulai dari Ni Made Suciarmi, Maria Rahayu Soeryo, Dewa Biang Raka, hingga Muntiana Tedja, melukis Bali sangat dekat dengan citra pemandangan sawah, upacara tradisi, pura, dan masyarakat Bali yang bertelanjang dada, kemben, hingga jarik. Ni Made Suciarmi bahkan disebut pelukis yang mulai langka karena memahami lukisan dan cerita Kamasan, yang kebanyakan bercerita tentang Ramayana atau Mahabarata. 

Seniman dari generasi berikutnya pun sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda, dengan mayoritas masih melukis objek-objek seputar pemandangan sawah, upacara, cerita pewayangan, dan masyarakat Bali. Lukisan pemandangan karya Gusti Agung Galuh mengingatkan kita pada gaya lukisan Walter Spies, seniman berkewarganegaraan Jerman kelahiran Moskow, Rusia, pada 15 September 1895 yang menetap di Bali sejak 1927 hingga akhirnya diekstradisi ke Eropa oleh Belanda saat perang dunia II meletus (sumber: Seni Foto Walter Spies – Bali 1930, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2013). Selain itu, beberapa seniman mencoba lepas dari citra-citra di atas, seperti I Gusti Ayu Kadek Murniasih, Titin Hartini, Nisak Indri Khayati, Ni Nyoman Sani, Ni Made Kurniati Andika, dan Erlina Doho. Mereka lahir dalam rentang tahun 1966-1976. Meski masih dalam wilayah Seniwati Gallery dan belum menggunakan diksinya, apakah mereka juga bisa dikategorikan Beyond Baliseering?

Di samping itu, beberapa tahun belakangan mulai muncul wacana untuk “melampaui” Baliseering. Tahun 2016, sebuah pameran menampilkan 11 seniman Bali di galeri Fortyfive Downstairs, Melbourne, Australia dengan tajuk Crossing: Beyond Baliseering (sumber: https://lifeasartasia.wordpress.com/2016/12/18/crossing-beyond-baliseering/ , https://www.republika.co.id/berita/internasional/abc-australia-network/16/12/08/ohul37-tatkala-seniman-bali-hendak-melampaui-baliseering). Dalam pameran ini, budaya visual Bali dieksplorasi dan dimaknai dalam interpretasi yang lebih personal. Maka tidak mengherankan jika pada beberapa karya masih menggunakan wajah Rangda hingga orang dengan pakaian khas Bali. Hanya saja medium dan narasi yang dimunculkan sudah berbeda. Mulai dari yang berbicara tentang tegangan globalisasi dengan eksotisme, konstruksi gender dalam budaya patriarki Bali, hingga mengkritisi kehadiran dan politik Baliseering itu sendiri.

Secara eksplisit memang sulit ditemukan bagaimana Seniwati Gallery mengarahkan gaya lukisan seniman-senimannya. Hanya saja yang tertulis sebagai misi mereka adalah “Expose the world to the long understated brilliance of Balinese women artists, encourage Balinese girls creativity, assist talented women to market their art” (sumber: http://www.seniwatigallery.com/). Beberapa kata kunci yang bisa digarisbawahi barangkali expose the world, balinese girls creativity, dan market

Jika demikian, mungkin cukup bisa dikatakan misi ini serupa dengan Baliseering yang menampilkan Bali sebagai citra yang eksotis pada dunia global, sekaligus menggarisbawahi perempuan dalam kategori khusus seperti “seniwati”. Sejauh ini, yang bisa diperiksa lebih lanjut tentu adalah pemahaman seniman-seniman Bali generasi terbaru terhadap wacana Balinisasi atau Baliseering ini. Dalam situasi dan ruang belajar seni rupa yang meluas, terhitung cukup banyak yang belajar seni secara formal di luar Bali. Terbukti dengan berdirinya Sanggar Dewata Indonesia, yang sudah bertahan sejak 1970 hingga tulisan ini dibuat (sumber: Almanak Seni Rupa Indonesia: Secara Istimewa Yogyakarta, Iboekoe, Yogyakarta, 2012). 

Proses belajar seni rupa memang tidak melulu diajarkan secara langsung dalam workshop, sanggar, hingga kelas-kelas belajar dan institusi formal. Tetapi bahwa lingkungan, referensi visual patronase, dan wacana dominan pasti mempengaruhi kecenderungan karya tertentu. Ini bisa jadi proses belajar secara alami yang terbekukan dalam berbagai medium dan interaksi. Seniwati Gallery dalam hal ini menjadi salah satu kasus di mana latar belakang kultural mempengaruhi sebuah karya. Pertanyaan lebih dalam yang bisa dielaborasi adalah mata dan ekspresi siapa yang sedang dilayani dalam karya-karya yang demikian.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.