Meniti Jalan Pembebasan-Sebuah Otobiografi oleh Edhi Sunarso

Judul Buku : Meniti Jalan Pembebasan-Sebuah Otobiografi oleh Edhi Sunarso
Penulis : Edhi Sunarso
Editor : Suwarno Wisetrotomo
ISBN/ISSN : 978-602-97402-1-1
Bahasa : Indonesia
Penerbit : PT. Hasta Kreatifa Manunggal
Tahun Terbit : 2010
Tempat Terbit : Yogyakarta
Resensi oleh : Rully Adhi Perdana

Edhi Sunarso adalah seorang seniman yang juga terlibat dalam gerak “menjadi dan menjaga Indonesia”. Lahir di Salatiga, 2 Juli 1932 (Edhi mengarang sendiri tanggal lahirnya ketika menjadi tahanan perang), Edhi merupakan salah seorang seniman patung terpenting di Indonesia. Namun, jalan kehidupannya – berkat hobi atau kegemarannya menggambar – membawanya ke dunia seni rupa.

Terpisah dengan orang tua kandung dan saudara-saudara kandungnya sejak bayi, menjadi komandan regu dan tergabung dalam kesatuan Pasukan Sambernyawa Divisi I Batalion III Resimen V Siliwangi di usia 14, dan menjadi tahanan perang selama tiga tahun, merupakan fase “perjuangan” dalam hidup Edhi Sunarso sebelum memberikan dirinya seutuhnya ke dunia seni. 

Kegemarannya dalam menggambar sudah terbentuk dan mendapat kesempatan untuk berkembang ketika Edhi berada di penjara. Rupanya, kebiasaan itulah yang membuatnya mampu beradaptasi secara cepat ketika ia “ikut-ikutan” membuat sketsa bersama mahasiswa ASRI di Pasar Beringharjo. Pujian atas gambar dan sketsanya, serta ajakan untuk belajar di ASRI datang kepadanya dari seorang pengajar di ASRI kala itu, yang kemudian ia kenal sebagai Hendra Gunawan, seorang seniman tersohor. Sejak saat itu, ia bergabung sebagai siswa Toehorder ASRI (siswa luar biasa, tidak diperkenankan mengikuti pelajaran teori, tapi boleh ikut praktik bersama siswa yang lain).

Ketekunannya dalam menggambar potret, sketsa, menyalin catatan dari teman-temannya yang belajar di ASRI, serta keluwesannya dalam berkomunikasi membuat Edhi mampu mendapat tempat di rumah Hendra Gunawan dan di Sanggar Pelukis Rakyat. Pengalaman Edhi Sunarso dalam membuat patung-patung pribadi dari batu menarik perhatian Hendra. Perhatian, pendekatan, dan didikan Hendra dalam membuat patung dari bahan batu berdampak pada Edhi yang mendapat tugas untuk mengerjakan relief pada salah satu kaki Tugu Muda di Semarang.

Sejak proyek Tugu Muda, relasi antara Edhi Sunarso dengan Presiden Sukarno kian erat. Keinginan Sukarno untuk membangun monumen, patung, dan diorama mampu dieksekusi dengan tepat oleh Edhi. Tentu saja, Edhi dibantu oleh teman-temannya di ASRI, kenalannya di berbagai tempat, hingga pembuat kijing di daerah Kaliurang. Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (Jakarta), Patung Dirgantara, Monumen Pembebasan Irian Barat, Diorama di Museum Benteng Vredeburg, Museum Diorama Monumen Nasional, adalah beberapa tugas besar yang pernah dikerjakan oleh Edhi Sunarso.

Sebagai buku otobiografi, buku tersebut mampu menampilkan secara lengkap perjalanan hidup Edhi Sunarso sejak kanak-kanak hingga ketika buku tersebut diluncurkan (2010). Kisah hidupnya secara pribadi, keluarganya, keterlibatannya sebagai pejuang dan pematung, semua diceritakan secara urut dan rapi. Percakapan-percakapan penting yang terjadi dalam hidupnya dengan Hendra Gunawan maupun Presiden Sukarno, masih mampu ditulis dengan baik. Buku otobiografi ini juga terbilang lengkap karena disertai beberapa foto karya Edhi Sunarso, foto dokumentasi ketika menggelar pameran di Jogja Gallery dan Galeri Salihara, serta foto dengan (alm) Presiden Suharto ketika membicarakan salah satu proyek.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.