Jejaring Kota dan Pameran Keliling Sanggarbambu

Oleh Wahyu Siti Walimah dan Najia Nuriyana

Sabtu, 25 Mei 2019, kami mengunjungi lokasi Sanggarbambu. Melihat suasana sanggar yang asri membuat kami berpikir bahwa orang-orang akan betah berlama-lama di sini. Sesekali terdengar suara air mengalir dari sungai yang mengelilingi bangunan joglo ini. Kami disambut oleh pria berkacamata dan berambut panjang terurai, yang lantas kami ketahui beliau adalah Totok Buchori, ketua Sanggarbambu yang aktif sampai sekarang.

Totok Buchori lahir di Probolinggo, 2 Februari 1959. Beliau adalah salah satu pelukis Indonesia lulusan ISI Yogyakarta pada 1981 yang bergaya realis. Sebelum menjadi ketua, hasrat Totok hanyalah ingin menghidupkan kembali Sanggarbambu yang telah 10 tahun vakum.

Beliau lalu bercerita tentang masa ketika ia membentuk ulang kesekretariatan. Saat itu Totok Buchori telah memiliki nama-nama untuk diajukan menjadi ketua dan mengkonsultasikannya kepada Soenarto Pr. Sayang sekali, tidak ada satupun dari nama-nama itu yang disetujui untuk menjadi ketua. Malahan beberapa sesepuh Sanggarbambu pada 2009 memilih Totok Buchori sebagai ketua, karena melihat loyalitasnya terhadap Sanggarbambu. Sebenarnya ia menolak dijadikan sebagai ketua karena merasa tidak sanggup mengatur dan memimpin organisasi ini. Tetapi apa boleh buat, dengan berat hati, Totok Buchori akhirnya menerima dan kemudian ia diangkat menjadi ketua Sanggarbambu untuk periode 2009 sampai sekarang. 

Dengan masa kepemimpinan yang sudah lama, Totok tentu memiliki kapasitas menceritakan dinamika Sanggarbambu. Topik pertama yang kami tanyakan adalah soal transfer pengetahuannya. Media transfer pengetahuan dalam Sanggarbambu dapat dikatakan unik, karena media yang digunakan salah satunya adalah pameran keliling. Kami menyebutnya unik karena Sanggarbambu melakukan pameran berpindah-pindah tempat, dari satu kota ke kota, dari provinsi satu ke provinsi lain. 

Pada 1963-1965, ketika negara sedang dalam gejolak politik, Sanggarbambu mulai melakukan pameran keliling. Pelopornya adalah 15-20 mahasiswa ASRI yang tergabung dalam Sanggarbambu, antara lain Mulyadi W dan Handoko. Tujuan dari pameran keliling ini adalah untuk mengatakan kepada masyarakat bahwa kesenian itu tidak hanya soal seni rupa, tetapi juga teater. Pameran keliling ini kemudian berlangsung di berbagai kota. 

Kota yang dipilih oleh Sanggarbambu sebagai tempat pameran sekaligus persinggahan adalah kota-kota di sepanjang pulau Jawa dan Madura. Tercatat ada 35 kota di Jawa dan Madura secara berkesinambungan yang dijangkau oleh Sanggarbambu dalam pameran keliling, mulai dari Yogyakarta, Jakarta, Bogor, Bandung, Surakarta, Semarang, Pekalongan, Tegal, Slawi, Balapulang, Bumiayu, Purwokerto, Wates, Klaten, Sragen, Ngawi, Madiun, Ponorogo, Tulungagung, Mojokerto, Surabaya, Bondowoso, Malang, Banyuwangi, Sidoarjo, Pasuruan, Magetan, Jember, Probolinggo, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, hingga Kalianget.

Sanggarbambu tergolong nekat pada waktu itu karena kondisi keuangan mereka sebenarnya sangat minim. Mereka hanya memiliki ongkos satu kali pemberangkatan menggunakan transportasi umum yaitu bus. Maklum saat itu anggota-anggota Sanggarbambu masih menyandang status sebagai mahasiswa, dan tidak mungkin menggunakan uang pribadinya. Soenarto Pr, ketua Sanggarbambu saat itu, pun hanya berbekal kemauan dan keyakinan mendekatkan kesenian terhadap masyarakat dan sedapat mungkin masuk ke dalam kehidupannya, melakukan cara-cara pendekatan agar pameran bisa terlaksana.

Persoalan itu diantisipasi dengan cara mencari dan menghubungi semua kerabat di kota-kota yang dekat dengan lokasi pameran untuk mendapat dukungan tempat tinggal serta tenaga. Setelah itu mereka berkoordinasi untuk mencari persetujuan dan sponsor dari pihak berwenang seperti Bupati, Walikota, Korem setempat. Dengan adanya dukungan dari pihak-pihak tersebut maka pameran keliling dapat berjalan lancar. Pameran tidak selalu berada gedung kesenian, karena memang sangat jarang ditemukan gedung-gedung kesenian pada 60-an. Pendopo kabupaten, gedung pertemuan, pelataran rumah akhirnya sering dijadikan sebagai tempat pameran. 

Di Semarang, pendopo Kawedanan difungsikan sebagai tempat pameran. Di Tegal pameran digelar di sebuah gedung pertemuan di dekat pantai. Di Purwokerto pameran bertempat di balai prajurit dekat Toko Buku Sadria. Dan tetap saja, terhitung sudah 45 tahun sejak Sanggarbambu bermuhibah ke berbagai kota, gedung-gedung kesenian hanya ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali, Bandung, dan Surabaya. 

Di setiap pameran kelilingnya, Sanggarbambu selalu menyelenggarakan kegiatan pendukung seperti demonstrasi cara-cara berkarya dengan membuat sketsa, lukis model, dan membuat patung. Selain itu, ceramah seni dan sastra serta pentas drama juga selalu di suguhkan dalam rangkaian pameran tersebut. Untuk lebih meramaikan apresiasi masyarakat terhadap seni, Sanggarbambu kerap mengadakan lomba penulisan tentang pameran atau pementasan yang sedang berlangsung.

Ada berbagai komentar pada Majalah Pentja, No 9-Th., XVII, halaman 29-31 yang berjudul “Sanggarbambu ‘59” yang menceritakan bagaimana kegiatan pameran keliling tersebut membuahkan hasil. Misalnya, dari Tegal melaporkan bahwa sejak Sanggarbambu berkunjung ke Tegal (hingga tiga kali) kehidupan seni rupa yang ada di sanggar menjadi hidup. Dari Pamekasan Madura, ada pernyataan, “salah satu peninggalan Sanggarbambu ’59 yang akan kami hidup-suburkan ialah drama-arena”. Drama-arena ini selanjutnya melahirkan Festival Drama-arena untuk seluruh masyarakat Madura.

Totok Buchori menjelaskan bahwa Sanggarbambu memiliki tiga komisariat: komisariat Yogyakarta sebagai jiwa, komisariat Jakarta sebagai nafas, dan komisariat muhibah keliling sebagai tubuh. Sampai saat ini, Sanggarbambu tetap konsisten dalam membangun jembatan antara seni dan masyarakat. Beberapa anggota Sanggarbambu yang kembali ke kota asal mereka kemudian terlibat di komisariat muhibah keliling yang menjadi cabang penyebaran Sanggarbambu, antara lain di kota Purbalingga, Purwokerto, Klaten, Solo, Probolinggo dan Lumajang. Namun tak bisa dipungkiri bahwa Sanggarbambu juga merasa perlu regenerasi dan memberi peran kepada anak-anak muda untuk menghidupkan Sanggarbambu di era sekarang yang tentu jauh berbeda.

 

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.