Kalam yang Menggapai Bumi 

Judul : Kalam yang Menggapai Bumi 
Penulis : Koko Hendri Lubis
Penerbit : BASABASI
Cetakan : Februari 2019
Tempat terbit : Yogyakarta
Halaman : 140 
ISBN : 978-602-5783-73-9
Resensi oleh : Nur Rizki Aini 

Ketika berbicara tentang komik akan muncul di benak kita tentang cerita bergambar yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah jalinan cerita. Tidak hanya menarik dari segi penampilan namun komik juga mempunyai beragam jenis cerita. Mulai dari cerita misteri, percintaan, drama hingga petualangan yang juga terbagi atas kategori umur. Oleh karena itu pecinta komik tidak hanya orang dewasa saja. Remaja dan anak-anak pun bisa menikmatinya. Namun, komik sempat menjadi bahan bacaan yang diperdebatkan karena dianggap mempunyai dampak buruk yang dapat merusak dan meracuni pikiran. 

Komik sempat dilarang beredar dan banyak percetakan tidak mau menerima pencetakan komik. Namun salah satu komikus Medan mulai merintis kembali penulisan komik, untuk menunjukkan komik sebagai bahan bacaan yang baik. Saat itu Zam Nuludyn membuat satu karangan pada majalah Tjergam pada 1961. Di situ ia menegaskan bahwa Tjergam sebagai istilah harus dinamis dan revolusioner. Isinya untuk membangun spirit, moral dalam kehidupan masyarakat. Sebagai pembaca kita diajak memperbaiki cara pandang dalam menilai komik yang dulunya dianggap kurang mendidik. Melalui buku ini, Koko Hendri Lubis telah menuliskan perjalanan komik yang dinamis, khususnya dalam konteks daerah Medan. 

Koko Hendri Lubis memiliki latar belakang sebagai seorang peneliti budaya pop dan tradisi lisan di Sumatera Utara. Pria kelahiran 1977 ini telah menulis banyak artikel di berbagai buletin, surat kabar dan majalah. Pada 2017 ia terpilih mengikuti program residensi penulis yang diadakan Kemendikbud dan Komite Buku Nasional di Belanda. Di sana, selama dua bulan ia meneliti arsip dan dokumentasi terkait roman-roman yang terbit di Medan. 

Buku ini merupakan kumpulan esai yang berasal dari karangan di berbagai surat kabar, ceramah dan diskusi tentang komik. Di dalam buku ini terdapat 25 karangan esai yang termasuk di dalamnya dua wawancara dengan dua orang tokoh komik. Harapan penulis bisa membuat pembaca mengerti dan memahami perkembangan komik selama lima dasawarsa belakangan ini khususnya yang ada dan terbit di Medan. Komik Medan diakui khalayak mempunyai gambar yang baik, serta mempunyai ciri khas jalan cerita dan karakter tokohnya yang unik.

Komik remaja di Indonesia pada era klasik menjadi topik di bab awal buku ini. Komik Indonesia yang bertema cerita remaja pernah jadi ikon pada tahun 1960-1970-an. Namun pada 1965-an ada beberapa komik yang dilarang beredar karena anggapan mengandung unsur erotis. Untuk mengatasi hal tersebut para komikus membuat wadah yang bernama Ikatan Seniman Cergamis Indonesia (IKASTI).

Bab kedua dan selanjutnya dari buku ini menceritakan sejarah, biografi dan perjalanan para komikus dari Medan. Ada latar belakang, proses pembuatan, serta prinsip-prinsip yang berbeda di antara para komikus. Beberapa komikus menjabarkan prosesnya dengan sangat teknis, ada pula yang konseptual. Beberapa komikus tersebut adalah Bahzar Sou’yb dengan gaya visual yang memiliki roh, Zam Nuludyn dengan segudang kisah jenakanya, dan Taguan Hardjo dengan idiom identitas bangsa. 

Selain sejarah dan biografi, buku ini juga menyajikan sedikit cuplikan komik yang dibuat oleh para komikus. Salah satunya adalah komik dari Zam Nuludyn yaitu Komik Kebesaran Dewi Krakatau. Isinya menceritakan seorang putri yang bijaksana dengan kegelisahannya soal pernikahan. 

Dalam dua bab terakhir ada dua hasil wawancara antara penulis dengan para komikus. Isinya adalah pengalaman para komikus dalam memulai perjalanan membuat komik serta keluh-kesah mereka. Mereka mempunyai cara masing-masing dalam mempertahankan dan menciptakan ide-ide karyanya. Mereka juga memberikan saran kepada para komikus baru untuk selalu belajar dan mencoba hal baru untuk membuat kreasi komik.

Buku ini cukup memberi informasi lengkap dengan menyajikan 25 esai tentang perjalanan komik khususnya di Medan. Yang menjadi titik fokus dalam kumpulan esai ini adalah dinamika pertumbuhan dan watak para komikus yang merespon sekitarnya. Kepekaan tiap komikus yang beragam dalam skena komik era 1990-an.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2019.