Babaran Segaragunung, Ngelmu untuk Berkarya

Oleh Dwi Rahmanto

Babaran Segaragunung (BSG) merupakan organisasi seni non-profit yang berbasis di Yogyakarta, Indonesia. Ia banyak mengeksplorasi karya-karya sastra, seperti sastra Jawa kuno, dengan menggunakan kesenian sebagai medium. Tujuan utamanya adalah untuk mengeksplorasi ragam tradisi kebudayaan guna memahami kebudayaan saat ini. BSG memfasilitasi kolaborasi dan pertukaran seni, publikasi, pameran, workshop, tour budaya, penelitian dan dokumentasi seni. Berikut adalah hasil wawancara (teks dan video singkat)  antara tim IVAA dengan para aktor BSG, yakni Agus Ismoyo, Miko Malioboro, Ananta O’edan, Alim Bachtiar, Manu J. Widyaseputra, dan beberapa yang lain.

  • Bagaimana proses terbentuknya program Babaran Segaragunung? Apa latar belakang serta tujuannya?

Sejak awal 2000an kami sudah mulai menggali cara untuk membangun metode untuk mengajar proses kreatif yang merupakan bagian budaya tak benda dalam batik dan kesenian lainnya yang tumbuh mengakar di dalam budaya Jawa. Studio kami Brahma Tirta Sari sudah menggunakan proses kreatif ‘Tribawana’ dalam menciptakan karya batik. Dalam hal ini proses Tribawana menggambarkan tatanan hubungan di antara mikro kosmos sebagai kesadaran kami hidup dan makro kosmos sebagai kesadaran hubungan kami dengan alam yang menghidupi kami dan sumber kreatifitas yang menciptakan hidup.

Proses kreatifitas ini pada intinya membangun sinkron di antara jagad-jagad tersebut dan ini berdasar konsep ‘ngilmu kelakone kanti laku’. Secara umum yang terpenting bagi kami adalah untuk tumbuh dan mengakar. Dari sisi ngelmu yang mengakar, kami merasa kurangnya ilmu pengetahuan jika kami ingin berkarya, terlebih untuk selanjutnya membangun program pendidikan demi terwujudnya regenerasi proses yang penting ini.  Oleh karena itu kami berdialog dengan Bapak Manu J. Widyaseputra, seorang filolog di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada.

Proses literasi telah kami lakukan secara intensif sejak 2017 bukan untuk menciptakan siswa filologi, tetapi untuk bersama-sama menggali sastra nenek moyang kita yang menerangkan proses kreatif dan hal-hal yang berkaitan seperti arti rasa, estetika, nilai dan makna, juga bagaimana hal semacam ini dikupas dan dipahami dalam sastra kuno. Sungguh, proses ini sangat luar biasa. Semakin lama kami menggali, semakin kami merasa terpesona, terharu, dan mendapat rasa kesatuan untuk tumbuh dengan ilmu yang sudah dicatat secara rinci oleh leluhur bangsa Indonesia.

  • Siapa saja yang telibat di dalam program tersebut?

Fokus program ini memang untuk pemuda yang terlibat dalam proses kreatif. Ada mahasiswa dari program seni, kriya, musik, dan teater.  Juga, ada mahasiswa tingkat pasca sarjana dan seniman yang lebih tua serta masyarakat biasa yang juga tertarik untuk belajar bersama.

  • Format seperti apa saja yang dipakai di program ini, bagaimana melakukannya, dan mengapa memilih format yang demikian?

Kami memakai sistem belajar upanishad, sebentuk format belajar dalam pusat-pusat belajar di Yogya pada zaman kerajaan Hindu. Menurut sastra kuno, wilayah Yogya, khususnya di kaki Gunung Merapi, dulu dipenuhi semacam pesantren-pesantren yang mengajarkan segala macam kesenian, agama, dan teknologi. Cara belajar ini santai dengan berdialog secara langsung bersama guru dan mengutamakan minat belajar murid.

Di dalam setiap upanishad, ada sastra yang dikupas dan diperdalam dengan kegiatan diskusi. Selain itu, peserta kelompok studi ini wajib membuat presentasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana ilmu ini diterapkan dalam keseniannya. Ini kami lakukan dua kali seminggu. Format tersebut didasarkan atas pengarahan dari Pak Manu karena dia sudah lama menjadi dosen dan ingin memberi kontribusi kepada masyarakat dengan kelompok yang ingin menggali ilmu.

  • Bagaimana sistem keanggotaan/ pesertanya?

Bebas, siapa saja yang mau datang boleh bergabung. Ada orang baru, ada yang lama dan selalu datang silih berganti. Ada yang bertahan untuk mendalami sastra kuno, ada yang terlibat hanya sementara untuk mendapatkan dorongan dalam proses kreatifnya. Tetapi dari teman-teman yang bertahan, akhirnya kami memiliki kelompok inti yang sudah belajar sejak awal bersama-sama.

  • Output seperti apa yang dihasilkan dari Babaran Segaragunung?

Pada Desember lalu, kami mengadakan pameran bersama di Studio Kalahan dengan hasil karya yang diciptakan oleh peserta yang intensif ikut dalam program studi ini. Kami menciptakan performance art untuk pembukaannya bersama mereka.  Kami juga sedang merancang untuk membuat sebuah jurnal dan sudah mulai mendaftar tulisan untuk edisi pertama. Selain itu, kami memiliki program internship selama satu bulan dan pada dua minggu terakhir peserta internship akan menciptakan performance art bersama-sama, dan semua temanya berdasar pada teks-teks kuno yang dipelajari bersama Pak Manu. Program internship ini pernah kami terapkan pada mahasiswa-mahasiswa Seoul Institute of Arts.

  • Apa saja tema-tema yang menjadi pokok bahasan di dalam program ini? Apakah ada sesi khusus membahas seni rupa?

Tema-tema pokok yang dibahas adalah seputar proses kreatif dan segala sesuatu yang kami lakukan berkaitan dengan kesenian.

  • Bicara soal kesenian, tidak akan lepas dari kekaryaan; mencipta karya. Lalu, bagaimana kajian sastra Jawa memandang ‘penciptaan’ (khususnya berkaitan dengan karya seni)?

Wah itu cerita yang sangat panjang!!! Ayo ikut belajar!!!! Nanti kami akan kirim journal edisi I jika sudah dicetak. Ternyata leluhur kami mengupas ini secara rinci sekali. Saat ini kami sedang eksplorasi cara untuk menerapkannya bersama teknologi dan bentuk kesenian kontemporer. Sangat seru tantangannya!!

Wawancara dengan salah satu peserta Kelas Sastra Jawa.

Rubrik ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.