Aku-Aktor: Menyelami Kerja Seni Peran

Judul : Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta
Penyunting : Ibed Surgana Yuga
Penerbit : Kalabuku
Cetakan : Juni 2018
Halaman : 239
ISBN : 978-602-19352-9-3
Resensi oleh : Gladhys Elliona Syahutari

Salah satu bentuk seni pertunjukan yang cair adalah seni peran. Bentuk seni ini dianggap menjadi satu dengan teater atau film, walau pada kenyataannya, seni peran dapat menjadi proses yang terpisah dari teater maupun film karena dapat diaplikasikan di berbagai konteks. Buku Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta yang merupakan terbitan penerbit khusus buku teater, Kalabuku, mencoba membedah cara kerja aktor di Yogyakarta dan mengurai proses pembentukan diri seorang aktor dalam mencipta karakter maupun mengasah kemampuan seni perannya. Buku ini kemudian menjadi pengantar yang baik bagi setiap aktor yang mendambakan sebuah wadah bertukar pikir tentang metode pembangunan karakter. Kita kemudian akan menangkap bahwa, setiap aktor memiliki metode yang terpersonalisasi karena menerapkan campuran berbagai metode pemeranan yang disesuaikan dengan kebutuhan penciptaan atau ideologi pertunjukan tertentu.

Ibed Surgana Yuga, selaku editor buku ini, memberikan sebuah pembuka yang dapat mengantarkan pembaca mengenal maksud dari judul Aku-Aktor. Ibed menerangkan bahwa buku ini merupakan kumpulan catatan proses keaktoran, di mana seorang aktor menciptakan sebuah peran melalui berbagai cara. Terlebih dahulu Ibed menerangkan bahwa aktor memiliki tiga ‘aku’: aku-diri, aku-aktor, dan aku-laku. Perbedaan ini mencakup kedirian seorang aktor sesuai dengan konteksnya yaitu seseorang sebagai dirinya sehari-hari, seseorang yang menjalankan profesinya sebagai aktor, dan seorang aktor yang menjalankan karakter yang telah disematkan padanya. Melalui deskripsi pembuka ini, kita diantar pada pemahaman proses kreatif berbagai aktor Yogyakarta dalam level aku-aktor — sesuai dengan judul besar buku ini.

Terdapat 27 esai — termasuk pengantar — yang ditulis langsung oleh para aktor, secara singkat mengenai proses keaktoran dan metode uniknya masing-masing. Aktor-aktor yang menuliskan prosesnya berasal dari latar belakang genre akting dan penerapan prinsip yang berbeda-beda. Sebaran keberagaman aktor dan aktris juga cukup berimbang, tidak hanya genre akting, tapi juga pada lama pengalaman keaktoran, sampai dengan tempat di mana aktor berkarya. Tiga esai terakhir mencakup pengalaman aktor dari luar Yogyakarta yang diundang menulis sebagai pembanding. Kumpulan esai ini kemudian dibagi lagi dalam lima sub bab. Sub bab Konsep berisikan pemikiran para aktor yang menjelaskan bagaimana keaktorannya dapat memperkuat identitas diri dan idealismenya. Selanjutnya para aktor yang menulis di bagian Metode menjabarkan ragam cara penerapan akting dalam pertunjukan yang akan atau pernah mereka jalani. Dalam sub bab Proses, para aktor menjabarkan lika-liku pelatihan dan jalan menemukan diri masing-masing dalam dunia seni peran. Masuk ke dalam bagian Menengok Ke Depan, terdapat empat tulisan tentang proses keaktoran para aktor senior Yogyakarta yang juga mencakup pandangan mereka tentang generasi aktor penerus. Di bagian terakhir, yaitu Menengok Ke Luar, adalah kumpulan esai keaktoran oleh para pelaku seni peran di luar Yogyakarta.

Penjabaran oleh para aktor begitu beragam, karena ketika kita membaca penulisan dari masing-masing aktor, tidak hanya cara pandang saja tapi gaya bahasanya pun berbeda-beda. Beberapa aktor dapat menjabarkan prosesnya dengan sangat teknis, ada pula yang memang lebih kuat menceritakan konsep yang mereka yakini dalam mendalami seni peran. Misalnya dalam esai pembuka, aktris Agnes Christina menjabarkan bagaimana mengedepankan kenyamanan diri dalam menampilkan sesuatu sebagai bentuk kejujuran dan pandangannya pula mengenai penonton sebagai alam pertunjukan. Esai Agnes kemudian menjadi pembuka yang baik sebab mampu mengemukakan konsep abstrak yang kemudian mampu menghantarkan pembaca ke tulisan-tulisan yang lebih teknis. Contohnya tulisan B.M. Anggana yang menjelaskan tentang metode pelatihan seni peran dan bekal apa saja yang aktor perlukan sebelum pementasan, serta tulisan BaBAM dalam sub bab Metode yang lebih menitikberatkan pada bagaimana para aktor di Cabaret Show menerapkan penampilan dan persiapan apa saja yang diperlukan untuk penampilan cross gender. Melalui ketiga contoh tersebut, kita sudah dapat menangkap bahwa penulisan mengenai proses keaktoran tidak bisa seragam, karena setiap aktor telah melalui proses dan referensi yang beragam — sehingga kekuatan dan kekayaan karya mereka pun memiliki keunikan masing-masing.

Buku kumpulan esai keaktoran ini kemudian diniatkan menjadi salah satu wadah untuk mengarsipkan berbagai bentuk metode seni peran. Usaha pengarsipan ini bisa dibilang cukup berhasil, sebab walau tidak mampu menangkap seluruh pemikiran dan metode aktor Yogyakarta, 27 esai ini nampaknya sudah cukup mewakili pelaku seni peran. Usaha mengarsipkan proses keaktoran sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh Teater Satu Lampung, yang mengumpulkan catatan kreatif setiap aktor dalam kelompok teater dan dibukukan. Alhasil, walaupun berada dalam satu kelompok, pandangan yang diambil dalam proses kreatif tetap memiliki warnanya masing-masing. Hal ini juga dapat kita temukan dalam buku Aku-Aktor: Konsep, Metode dan Proses Keaktoran di Yogyakarta. Jika dalam satu kelompok perbedaan sudut pandang yang diambil beragam, dalam satu ekosistem teater di Yogyakarta diversitas itu kemudian menjelma menjadi sebuah spektrum. Metode pengumpulan tulisan ini kemudian menjadi sebuah rentang warna yang penting dimiliki untuk kolektif arsip dalam mengambil berbagai jenis warna demi merangkai gambaran sejarah, bidang, dan peristiwa yang lebih holistik. Terlebih, seni peran yang identik dengan metode yang berfokus pada penerapan panggung dan kesadaran pengarsipan dalam seni pertunjukan masih belum banyak digalakkan. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk melihat bahwa proses kreatif seni peran tidak bisa dilihat dari dua sisi, seperti bagus-jelek, tepat-tidak tepatnya suatu metode, tapi semuanya sangat bergantung pada jenis seni peran apa yang ingin diperjuangkan serta semangat berkarya yang tiada henti — bahwa semua suara dan gaya bercerita dalam seni peran patut diberi ruang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2019.