Membaca Ideologi Teater, Bercakap dengan Diri

Judul Buku : Ideologi Teater
Penulis : Ikun Sri Kuncoro, Ficky Tri Sanjaya, Abimanyu Prasastia Perdana, Joned Suryatmoko, Ahmad Jalidu, Ibed Surgana Yuga, Papermoon Puppet Theatre, Elyandra Widharta, Rukman Rosadi dan Basundara Murba Anggana, Eko Santosa, Andy Sri Wahyudi, Agnes Christina, Irfanuddien Ghozali, Wahyana Giri MC, Forum Aktor Yogyakarta, Gunawan Maryanto.  
ISBN/ISSN : 978-602-19352-7-9
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Kalabuku
Tahun Terbit : 2017
Tempat Terbit : Yogyakarta

Resensi oleh : Lisistrata Lusandiana

Dari sekian banyak buku yang ada di Rumah IVAA, baik di perpustakaan maupun di IVAA Shop, saya memilih beberapa buku yang satu di antaranya berjudul Ideologi Teater. Saya tergolong awam ketika membicarakan teater, penikmat saja bukan. Tidak semua pertunjukan teater yang pernah saya datangi terekam di kepala saya secara otomatis. Kesimpulan singkatnya adalah tidak ada yang berkesan di hati. Tetapi lain cerita ketika saya berbincang dengan para pegiat teater yang kebetulan ada di sekitar saya. Mulai dari kawan karib saya semasa kuliah, rekan kerja dan teman curhat saya, serta orang-orang teater yang saya temui sekilas. Semua memunculkan setidaknya satu kesan, yakni bahwa dalam percakapannya sehari-hari, pengetahuan yang disampaikan, banyak yang terdengar autentik. Autentik bukan dalam artian asli tanpa pengaruh dan campur tangan unsur lain, tetapi autentik yang lahir dari pengalaman empiris yang dielaborasi dengan pengalaman batin. Atau dengan kata lain, autentik yang dekat dengan jujur. Dari situ saya berasumsi bahwa metodologi teater yang mengelaborasi tubuh dan pikiran ternyata membuahkan pengetahuan yang relatif lebih jujur. Di situlah ketertarikan saya bermula. Bahwa pengetahuan tidak hanya bermuara di kepala, tetapi juga di tubuh, baik tubuh individual maupun tubuh sosial.

Saya tidak membaca buku ini sesuai dengan urutan halaman. Dengan pedoman daftar isi, pembacaan saya melompat dari satu penulis ke penulis lain, dari nama yang paling saya kenal, atau karya yang pernah saya datangi, hingga yang tidak saya kenali sama sekali. Bobot dari tiap tulisan juga tidak ada yang merata. Ada yang sangat deskriptif, sangat analitis atau gabungan dari keduanya. Semua penulisnya merupakan pelaku teater, baik itu sutradara, aktor, penulis naskah, penyelenggara serta penggagas acara, atau kesemuanya itu.

Buku ini terdiri dari dua puluh tulisan yang dihasilkan oleh tujuh belas penulis. Ada satu penulis yang menulis lebih dari satu tulisan, serta ada satu tulisan yang dikerjakan oleh lebih dari satu orang. Tulisannya tentu saja sangat beragam, karena praktik kerja dan refleksi yang dilakukan oleh tiap pelaku juga sangat beragam. Selain itu, preferensi artistik dari tiap pelaku juga sangat berwarna, sangat berbeda satu sama lain, begitu juga dengan titik berangkat dan motivasinya. Semua tulisan berangkat dari hal yang sama, yakni laku dan praktik serta gagasan dan manifestasinya, soal hal-hal yang dilakoni secara berkelompok. Dari situ saya baru tersadar bahwa keragaman praktik seni pertunjukan di sekitar kita sangatlah kaya. Di buku setipis dua ratus halaman itu memuat berbagai pembacaan dan pemaknaan yang luar biasa berwarna.

Di tulisan ini saya tidak akan meringkas poin-poin bahasan di tiap tulisan. Saya akan lebih menekankan pada cara baca saya yang tidak bisa terlepas dari imajinasi yang terpantik dari tiap teks di buku. Imajinasi saya tidak hanya terlempar pada pertunjukan yang kebetulan saya datangi, atau penulis yang juga kebetulan saya kenal. Imajinasi saya juga terlempar pada hal-hal sehari-hari yang saya alami atau bahkan sesederhana pengalaman menonton berita atau talk show yang bisa diakses di Youtube. Tak jarang ketika nonton talk show, debat capres ataupun berita politik, saya nikmati selayaknya nonton pertunjukan teater. Bagi saya para politisi ini memang sesungguhnya pemain teater, maka saya nikmati seperti menonton teater pula.

Dari lembar ke lembar, tulisan ke tulisan, jujur saja, tidak semuanya secara otomatis terekam di benak. Ada yang sangat inspiratif dan memorable, ada yang sekilas lewat. Bagi tulisan-tulisan yang numpang lewat itu bukan berarti tidak bagus tentunya, hanya saja barangkali  tidak dekat dengan apa yang sudah ada di bagasi imajinasi saya sebagai pembaca. Atau sesederhana, sedang tidak dekat dengan kepentingan belajar saya. Tetapi, sejujurnya begitulah proses pembacaan yang sering kali saya lakukan, proses mengaitkan teks dengan imajinasi dan bagasi pengalaman pribadi sang pembaca. Sehingga tak jarang ketika sedang berada di belantara teks, saya tiba-tiba sibuk berbincang dengan diri sendiri, lalu kembali ke teks, begitu seterusnya hingga sampai pada halaman terakhir.

 

Teater sebagai Praktik Inter-Teks dan Tubuh sebagai Medium atas Kehendak untuk Berkuasa

Dari mana teater bermula dan ke mana ia akan bermuara? Di buku yang berisi kumpulan tulisan ini, terdapat satu tulisan berjudul “Sebuah Niatan Menjadi Organik” yang ditulis oleh Ibed Surgana Yuga (Kalanari Theatre Movement). Melalui tulisan tersebut, ia mengartikulasikan praktiknya bersama Kalanari secara mendalam. Bahwa berteater merupakan praktik inter teks yang berangkat dari tubuh-tubuh individu yang ada di dalamnya. Tubuh sebagai teks yang bertemu dengan ruang. Ruang pun dalam konteks ini juga dimaknai sebagai teks yang harus dibaca dengan rinci, didengar dan dirasakan kehadirannya. Juga, praktek inter teks terjadi antara tubuh dengan teks ataupun naskah tertulis yang terdiri dari berbagai macam lapisan kesan, makna dan interpretasi.

Melalui perenungan atas praktik penyutradaraannya, Ibed membawa perkara teater kembali ke dasar, bahwa pertunjukan atau pagelaran ia sebut sebagai ranah politik artistik yang di dalamnya lebih banyak mewadahi kehendak manusia untuk berkuasa. Sehingga dalam prosesnya menuju ke arah pertunjukan, ia lebih banyak menekankan pada aspek dasar ketubuhan, bahwa sebelum melangkah jauh ke perkara akting atau seni peran, ia kembalikan tubuh ke dasar sebagai manusia. Manusia atau tubuh individu yang masing-masing memiliki sejarah personal dan memiliki pengetahuan serta daya resepsi masing-masing untuk memaksimalkan dan mengolah pengaruh serta pengetahuan dari luar. Sehingga proses inter teks yang juga dialami oleh tiap individu yang terlibat dalam proses produksi merupakan proses dialog, baik dialog ke dalam diri serta dialog dengan teks-teks di luar diri, tanpa mengabaikan bahwa setiap tubuh selalu membawa politik kepentingan, yang bisa saja bertabrakan, baik ke dalam maupun ke luar.

Dengan kata lain, Ibed membawa perkara keaktoran ke dasar, yakni perihal melakoni hidup sebagai manusia di tengah lingkungannya pada satu sisi, serta posisi tubuh sebagai sarana atas kehendak untuk berkuasa pada sisi yang lain. Sehingga perkara pertarungan kuasa itu lazim adanya. Justru kita tidak perlu menolak hal tersebut, akan tetapi mengakuinya, sehingga bisa menimbang kepentingan atau kuasa mana yang perlu diakomodasi dan tidak, serta kehidupan dan keseharian yang sesungguhnya tidak kalah pentingnya dari pertunjukan. Dengan begitu, ia tidak hanya menjabarkan metode kerjanya, namun juga secara eksplisit menunjukkan metodologinya sebagai sutradara sekaligus metodologinya sebagai manusia yang memandang dan melakoni praktik penyutradaraan, teater, serta meresapi kesehariannya yang banyak menemui hal-hal subtil.

“Tubuh yang jujur adalah tubuh yang sadar akan berbagai kepentingan dan kebutuhan tubuh. Ini sangat penting untuk pengondisian tubuh sebelum menuju ranah penggelaran yang sebenarnya hanya ranah politik artistik. Ya, pertunjukan cenderung adalah politik-siasat-intrik artistik yang berakar pada naluri manusia untuk berkuasa.” Begitu tulis Ibed ketika membahas salah satu program Kalanari yang diberi nama Tubuh Lamis.

Dengan menggarisbawahi tulisan Ibed di atas, bisa jadi saya sesungguhnya hanya menunjukkan kegumunan saya atau juga menunjukkan arah minat saya pada saat ini. Kelak, di lain waktu dan kondisi, saya akan membaca buku ini lagi, kemudian menarik pemaknaan dan menggarisbawahi hal yang lainnya lagi. Itu hampir pasti terjadi. Dengan begitu, saya menempatkan buku ini bukan sebagai pengetahuan beku. Sama halnya dengan kondisi dan keragaman pembaca yang pastinya dinamis. Di konteks ini, tidak hanya penulis yang memiliki kehendak untuk berkuasa, pembaca pun juga demikian. Selain itu, dari buku ini juga ditegaskan bahwa ideologi bukan sebatas hal-hal yang ada di angan-angan sebagai mimpi dan cita-cita. Ideologi merupakan laku serta mimpi yang sudah dipecah menjadi kerja sehari-hari.

Artikel ini merupakan rubrik Review by Staff dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.