Melampaui Stereotip Bali

Judul Buku :Lukisan Modern Karya I Gusti Kadek Murniasih Dalam Perkembangan Seni Lukis Bali
Penulis : Tjok Istri Mas Astiti, Tjok Udiana N. P.
Penerbit : Pustaka Larasan
Kota : Denpasar
Tahun Terbit : 2007
No. Inventaris : 701 Ast L

Resensi Oleh Dwi Rahmanto

Tulisan ini berangkat dari pengalaman saya bertemu dan kemudian membantu tim audio visual mendokumentasikan pameran I Gusti Kadek Murniasih di Cemeti Art House (sekarang Cemeti: Institut Seni dan Masyarakat) pada April, tahun 2000. Murni adalah sosok inspiratif yang bertutur secara gamblang, meledak-ledak dan berpihak. Bagi saya, karya Murni sangat ganjil sekaligus memancing desir ngeri saat melihatnya. Ini disebabkan oleh berbagai momentum seksual dari senggama sampai hubungan seksual lainnya muncul dengan riangnya. Dalam dokumentasi tersebut saya merekam juga sesi artist talk, dimana setiap karya seperti diabadikan sebagai pengetahuan. Murni sendiri tutup usia pada 11 Januari 2006.

Buku Lukisan Modern Karya I Gusti Kadek Murniasih Dalam Perkembangan Seni Lukis Bali, membahas banyak hal. Diawali dengan runutan kronologis sejak 1920-an, ketika banyak seniman dari berbagai penjuru dunia singgah dan berdomisili di Bali. Mereka  seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, Han Snel, Affandi hingga Basuki Abdullah yang memberi pengaruh dalam memaknai kembali nilai artistik, metode, teknik, sampai pada caranya memaknai budaya. Memasuki 1980, pariwisata Bali memulai geliatnya, ini mau tidak mau mengubah tatanan masyarakat disana. Masyarakat yang awalnya biasa bekerja dengan orientasi sektor agraria, atau pertanian, berubah menjadi industri pariwisata (jasa). Perubahan ini juga mempengaruhi pola kerja di sektor pengrajin barang seni, pelukis, pematung, dan sebagainya.

Perilaku tersebut juga didukung oleh pemerintah setempat. Khususnya Ubud dengan Perda No 3 Tahun 1973 dan revisi tahun 1992, bahwa dalam perkembangan dan pengembangan pariwisata, menggunakan kebudayaan Bali yang dijiwai oleh Agama Hindu sebagai potensi dasar utama. Kemudian sebagai tindak lanjut peraturan tersebut maka dikeluarkanlah SK Gubernur Nomor 528 Tahun 1993 tentang Kawasan Wisata. Kemajuan pesat pariwisata Ubud berdampak pada proses perkembangan fungsi seni lukis. Seni lukis yang pada mulanya digunakan untuk keperluan religi, yang berhubungan dengan ritual dan aktivitas keagamaan (fungsional fine art), bergeser menjadi souvenir fine art, commercial fine art hingga assimilated fine art. Buku ini secara tegas menyatakan bahwa dalam pola kerja kesenian semacam ini, komoditas seni lukis beredar di pasar sebagai investasi, menghasilkan efek domino seperti gejala peniruan, penjiplakan, dan menjamurnya galeri di sekitar Ubud.

Disini letak dimulainya eksistensi Galeri Seniwati. Mereka berani dengan khusus mengapresiasi karya karya seniman perempuan, di dalamnya ada salah satu sosok perempuan yang bernama I Gusti Kadek Murniasih. Terkait dengan profil pribadinya, seniman yang akrab disapa Murni ini lahir di Jembrana, 21 Mei 1966. Pada tahun 1975 keluarga Murni bertransmigrasi di Sulawesi Selatan. Dalam buku ini disebutkan bahwa jiwa pemberontaknya muncul karena semua harta benda dan tanah di jual untuk bertransmigrasi, padahal dia meminta sebagian tanah tidak dijual. Di tanah yang baru, di Sulawesi Selatan, kehidupan ternyata lebih sulit karena infrastruktur jalan, listrik, pendidikan dan sebagainya belum memadai. Maka dia bekerja sebagai asisten rumah tangga pada keluarga tionghoa di Ujung Padang. Pendidikannya pun berhenti di kelas 5 SD, karena sulitnya keuangan dan transportasi. Pada tahun 1982 dia kembali ke Bali, dan kemudian bekerja sebagai perancang perhiasan perak. Murni sempat menikah dengan Ngakan Putu pada tahun 1983, namun empat tahun kemudian mereka bercerai karena Murni menolak dimadu. Mantan suaminya ingin menikah lagi dengan alasan pernikahannya dengan Murni tidak dikaruniai keturunan. Murni dianggap berhasil memperjuangkan hak dan martabatnya. Ini menjadi peristiwa yang langka, seorang wanita menggugat cerai laki-laki.

Asal muasal jiwa seni Murniasih seperti sudah menjadi garis tangan orang Bali. Seolah ada energi terus menerus untuk berkecimpung di kesenian. Sedari di Sulawesi Murni sempat belajar menjahit pakaian, saat kembali ke Bali dia menjadi perancang perhiasan perak, setelah sedih karena perceraian dia menuangkan perasaanya ke galeri-galeri di Bali dan melukis di sepanjang jalan. Di tahun 1988 dia belajar teknik melukis pada I Dewa Putu Mokoh, seorang tokoh seni lukis Bali. Kemudian Murni bekerja pada seorang pelukis Italia bernama Edmondo Zanolin (Mondo). Mondolah yang mendorong kepercayaan diri Murni, supaya membebaskan pikiran-pikiran, dan berani melukis dengan jujur. Akhirnya dia melewati semua pengalaman mengasah teknik lukisnya, dan menemukan cara ungkap bahwa dia tidak lagi melukis dengan tema tradisi atau cerita mitologi. Murni ingin melukis dirinya sendiri. Pengalaman pribadinya dan hubungannya dengan masyarakat. Sikap ini yang akhirnya membentuk diri dan ciri karyanya. Jakob Sumardjo dalam bukunya, Filsafat Seni, berujar bahwa masyarakatlah yang mendidik calon seniman menjadi seniman seutuhnya. Tanpa masyarakat, seorang individu tidak mungkin mengembangkan dirinya menjadi seorang seniman, begitupun profesi yang lain. Dalam hal ini, fungsi sosial muncul karena interaksi, dinikmati oleh siapa, untuk dikagumi, diresapi, dan sebagainya.

Di dalam uraian awal, hal menarik dari buku ini adalah soal fungsi kreatifitas dan fungsi sosial kekaryaan dan kesenimanan Murni di ranah seni rupa Bali dan Indonesia. Keberanian murni membolak balikan bentuk, warna, garis, dan penyampaian yang sangat vulgar tidak hanya menjadi nilai di kekaryaannya, tetapi sekaligus secara sosial mendorong dan mengarahkan perspektif masyarakat atas keberadaan seniman dan perempuan. Murni meletakkan kebebasan mutlak dengan segala sikap dan mental yang terbangun dari pengalaman hidup.  Kreatifitas Murni menuju ke dalam posisi seorang ambang, antara yang belum ada dan ada. Dengan demikian seorang dalam posisi ambang kreatifitas ini, berada dalam kondisi kacau, riuh, kritis, gawat, mencari-cari, mencoba-coba dalam tataran kebudayaan yang sudah, sedang, dan belum dia pelajari. Di ranah kebudayaan, selalu menjadi tantangan untuk menumbuhkan sikap berani berkreatifitas.

Nilai lain dari karya Murni adalah makna. Makna yang dikelola Murni dalam mata telanjang akan tampak vulgar. Melawan entitas yang muncul di masyarakat. Dampak negatif kadang muncul dari bentuk dan karya Murni. Terkadang citraan visual berbeda dibanding dengan cerita-cerita di belakangnya. Bentuk-bentuk organ tubuh wanita dalam bentuk dekoratif yang diambil dari diri personalnya ditampilkan, disini makna dan narasi menempatkan kepekaan Murni atas problematika kaum Perempuan. Murni banyak bercerita tentang kekagumannya terhadap perjuangan wanita, khususnya kepada Ibu.

Secara gagasan, lukisan Murni tidak hanya dibaca sebagai lukisan modern, tetapi juga melebur dalam pembicaraan seni rupa kontemporer. Buku ini dibuat tahun 2007, era dimana ramai kemunculan frasa kontemporer pada berbagai karya dan pergelaran seni rupa. Maka menarik membaca buku ini. Seperti melacak kembali perkembangan seni di Indonesia. Mulai dari yang kita golongkan sebagai seni tradisi, hingga seni modern. Dalam periode yang kita maknai sebagai modern, eksplorasi terhadap berbagai hal coba dilakukan. Teknik-teknik yang memanipulasi objek, hingga lebih melibatkan partisipasi dan interaksi audiens. Tetapi dalam seni tradisi, ruang dan perspektif lebih ditiadakan. Di dalam karya Murni, secara medium terlihat modern karena menggunakan referensi Eropa, yaitu dengan medium seperti cat dan kanvas. Cabang seni yang mengekspresikan pengalaman artistik manusia lewat objek dua dan tiga dimensional. Namun di luar mediumnya, presentasi karya-karya Murni lebih dominan warna yang identik dengan citraan warna tradisi. Meski isu dalam karya-karya murni yang kontekstual dengan situasi zaman, saya menyebutnya sebagai radikalisme estetik. Dimana kekaryaan yang tematik dengan pengalaman diri. Dan satu yang pasti, Murni coba beranjak dari stereotip lukisan-lukisan yang identik dengan citra Bali.

Artikel ini merupakan rubrik Review by Staff dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2019.