Undisclosed Territory #11: We Are What We Eat

Oleh: Hardiwan Prayogo

Undisclosed Territory tahun 2018 ini telah memasuki gelaran ke 11. Event performance art ini mengawali rangkaian acaranya dengan berbagai macam diskusi hingga kuliah umum. Dengan mengambil tema We Are What We Eat, gagasan mengenai performance art dibawa dalam melihat ulang relasi manusia dengan makanan. Bagaimana makanan menjadi salah satu penanda dalam ritus-ritus hidup manusia. Bagaimana makanan menjadi elemen tradisi yang penting dan mewujud dalam simbol-simbol dalam makanan. Lebih jauh, seniman-seniman performance menampilkan karya dengan merespon isu-isu tersebut.

Berlangsung dari 6 hingga 11 November 2018 di studio Plesungan, Karanganyar. 6-8 November berlangsung PALA Project dan Sound Scoring Workshop. Diskusi panel pada 9 November. Kemudian pertunjukan dimulai dari 9 sampai 11 November. Tim IVAA berkesempatan hadir menyaksikan langsung pada hari Minggu, 11 November.

Meskipun bernama studio, Studio Plesungan bukanlah berbentuk bangunan, tapi didominasi oleh tanah lapang dengan pohon rimbun di sekelilingnya. Pertunjukan pertama dimulai pada pukul 15.00, bertajuk “Pseudo Delight” dari Fransisca Retno, yang mereka ulang postingan makanan-makanan mewah di Instagram. Dengan membuat instalasi satu set meja makan lengkap dengan menu makanannya, dengan dikelilingi kursi yang diatasnya diletakkan makanan. Menu makanan yang ditampilkan seperti serabi, gembus, pukis, dan lain-lain. Disampaikan Fransisca bahwa karya ini semacam “rasa iri” memandang kawan-kawan karibnya yang hampir setiap hari memamerkan santapannya di sosial media. Maka pertunjukan ini pun bersifat interaktif, mengajak audiens untuk membuat menu makanannya sendiri, kemudian diunggah ke sosial media masing-masing. Set makanan ini dipertahankan hingga malam.

Sementara itu, dalam waktu yang berdekatan, dimulai juga pertunjukan dari Sakinah Alatas dengan judul “Sekarang Saya Sudah Mau Makan Itu?”. Sakinah menggantung kain putih transparan di satu ranting pohon. Pada kain tersebut dijahitnya suatu benda berwarna coklat berukuran kecil. Seluruh performance menampilkan Sakinah menjahit yang berlangsung selama sekitar 60 menit.

Di tempat lain, Jef Carnay sudah memulai pertunjukannya yang berjudul “Sweet Dreams”. Berbeda dari yang lain, pertunjukan Jef menggunakan iringan musik dan berlokasi di dalam ruangan. Dengan hanya menampung sekitar 20 orang dalam ruang terbatas, pertunjukan ini terasa lebih intens. Jef menampilkan tubuh yang didalam mulutnya sedang menyimpan sesuatu dan berusaha mengeluarkannya. Di akhir pertunjukan, apa yang di dalam mulutnya dikeluarkan dan diletakkan di atas tumpukan yang tampak seperti gula.

Usai pertunjukan Jef, langsung disambut oleh performance dari Ragil Dwi Putra, yang berjudul “I Trace Myself”. Kembali mengambil lokasi di luar ruang, berdekatan dengan instalasi pertunjukan Fransisca Retno. Ragil menampilkan tubuh yang berjongkok di bawah meja. Di atas meja terdapat piring dan gelas yang berisi minyak. Ragil mencoba berdiri sambil membopong meja tersebut. Dalam kesulitannya untuk menyeimbangkan diri, kakinya juga disibukkan dengan melipat-lipat kertas minyak. Pertunjukan ini berakhir ketika Ragil sudah melipat kertas dengan ukuran terkecil.

Tidak lama, penonton diajak berpindah lagi ke satu spot yang memang nampak seperti “panggung” pertunjukan. Graciela Ovejero Postigo, dengan performancenya yang berjudul “Why An Elm Should Give Pears?”. Pertunjukan ini juga menggunakan unsur makanan, yaitu jagung, juga properti lain seperti kain putih, kursi, sapu lidi, dan beberapa bilah bambu. Graciela seperti ingin menunjukan relasi antara makanan dan perempuan pekerja. Penampilannya dilakukan tanpa iringan musik, suara hanya berasal dari aktivitas Graciela menyeret karung berisi jagung, memainkan kain putih dan bambu, membenamkan diri dalam tumpukan jagung. Graciela adalah penutup dari sesi pertama pada hari itu.

Pertunjukan kembali dilanjutkan setelah jeda 60 menit. Dimulai dari Retno Sulistyorini, tampil di lokasi yang sama dengan Graciela. Penonton bisa menyaksikan dengan jarak lebih dekat, berada satu area dengan panggung pertunjukan, melingkari Retno yang tampil berdua dengan seorang pria. Retno lebih menampilkan koreografi tari ketimbang performance seperti penampil-penampil lainnya. Menggunakan iringan musik bersuasana mistis, tarian Retno dan rekannya memperlihatkan intensitas yang cukup dalam. Dengan gerakan sederhana namun terlihat sangat menguras tenaga. Terlihat dari deras keringat yang mengalir dari keduanya. Pertunjukan berakhir setelah 15 menit yang terlihat sangat melelahkan. Penonton pun kembali ke tempat duduknya, sementara panitia bergegas menyiapkan properti pertunjukan performer berikutnya.

Wilawan Wiangthong, seniman asal Thailand ini membawa streamer berisi air berwarna putih, dan satu potongan ranting pohon.  Wilawan membasuhkan air tersebut ke kepalanya, mengangkat satu tempat nasi berisi air ke atas kepalanya, dan berjalan menyeimbangkan diri di atas ranting pohon. Wilawan terus mengulangi aktivitas ini sampai ranting pohon tersebut patah. Alhasil, panggung pertunjukan menjadi penuh tumpahan air dan patahan ranting pohon.

Penampil terakhir adalah Skank. Melati Suryodharmo memperkenalkannya sebagai seniman performance dari Jepang yang sudah sering terlibat proyek kerjasama dengan Studio Plesungan. Skank tidak menggunakan banyak properti, hanya satu pengeras suara berukuran besar yang dibawanya. Pertunjukan ini menjadi satu-satunya yang melibatkan dialog. Skank mengajak satu rekan yang beradegan menanyakan seputar kewarganegaraan, kepercayaan agama, hingga orientasi seksual. Pertanyaan berbahasa Indonesia ini hanya dijawab Skank dengan “Yes” atau “No”. Antara Skank dengan si penanya, selalu dipisahkan jarak antara penonton dan panggung. Jika Skank di panggung, maka si penanya ada di barisan penonton, begitu sebaliknya. Total ada sekitar 50 pertanyaan yang diajukan yang terbagi dalam 3 bagian. Setiap bagian selalu diakhiri dengan Skank yang melompat hingga kelelahan. Pertunjukan diakhiri ketika keduanya bertemu di panggung. Skank menjadi penampil terakhir sekaligus menutup rangkaian acara Undisclosed Territory #11.

Narasi pergelaran festival performance art ini secara umum ingin membicarakan tentang posisi makanan tradisi dan struktur masyarakat tertentu. Sebelum hari pertunjukan, seniman juga diajak untuk berkunjung ke pasar-pasar di Karanganyar. Makanan diyakini sebagai bagian organik dari sebuah tatanan masyarakat. Mulai dari makanan sebagai kebutuhan primer, sebagai mata pencaharian, sebagai gaya hidup, hingga pemaknaan filosofis tentang makanan sebagai metafora atas proses identifikasi diri. Ini jelas nampak dari beragamnya tafsir masing-masing seniman atas makanan. Harus diakui meski publik penikmat kesenian ini terbatas. Namun upaya Undisclosed Territory dalam mendekatkan narasinya melalui persoalan yang relational dengan publik, yaitu makanan, bisa dimaknai secara reflektif sebagai upaya menghadirkan kesenian secara lebih dekat dengan publiknya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.