Catatan Magang Nurul Fajri

Oleh: Nurul Fajri

Brooks was here… tulis salah satu pemeran dalam film The Shawsank Redemption di dinding kamar apartemen tuanya. Saya mengutipnya bukan karena saya merasa tak berguna, kesepian, tua dan ingin mati, seperti aktor yang berperan menulis kalimat tersebut. Saya mengutipnya dengan intensi menyorot pada …was here, bahwa saya juga pernah berada di suatu tempat, dan bagi saya tempat itu berarti banyak.

Agustus lalu, saya mengambil mata kuliah Kuliah Kerja Lapangan Profesi (KKLP) di kampus. KKLP pada dasarnya adalah program magang yang harus dilakukan mahasiswa di instansi pilihannya masing-masing. Untuk dapat meraih gelar sarjana, KKLP adalah wajib. Karena tanpa lulus mata kuliah tersebut, mahasiswa tidak bisa mengajukan judul skripsi, proposal, dan seterusnya. KKLP selanjutnya dalam tulisan ini akan saya sebut sebagai magang.

Di tengah kebingungan menentukan tempat magang, pada suatu malam di awal bulan Juli, saya browsing di internet lalu menemukan IVAA. Saya kemudian mencari tahu soal IVAA, membuka lamannya, men-stalking akun Instagramnya, dan mencoba menemukan apakah ada bidang pekerjaan di IVAA yang bersesuaian dengan konsentrasi jurusan saya di kampus, yakni jurnalistik. Ternyata, IVAA mempunyai program magang untuk bidang keredaksian. Singkat cerita, saya akhirnya menjalani masa magang di keredaksian IVAA untuk periode Agustus-Oktober 2018.

Di keredaksian, saya banyak diperbantukan untuk melengkapi teks profil seniman untuk laman arsip online IVAA. Saya, yang sebelumnya hanya tahu Affandi dari buku pelajaran Seni Budaya ketika sekolah, akhirnya menemui banyak sekali nama-nama seniman lain yang begitu asing bagi saya. Menulis profil seniman ini juga membuat saya mau tidak mau membaca sepak terjang mereka, yang semakin menambah kekaguman saya tentang bagaimana mereka melihat kehidupan sekitar, dan bagaimana mereka mengekspresikan diri melalui karya seni. Dulu saya berpikir, seniman itu mestilah hanya mementingkan diri sendiri, tetapi persepsi saya ternyata tak sepenuhnya benar. Mereka keren. Itu sudah!

Bersama dengan seorang rekan dari bidang dokumentasi, saya juga terlibat dalam peliputan peristiwa seni. Saya belum pernah menghadiri agenda-agenda kesenian di kota asal saya, Makassar, sebanyak yang saya lakukan ketika meliput peristiwa seni di Yogyakarta selama periode magang. Mungkin karena agenda kesenian di Makassar tidak seintens di Yogyakarta, atau mungkin karena saya yang terlalu malas keluar rumah.

Bidang keredaksian IVAA bertanggungjawab untuk mengerjakan buletin dwibulanan IVAA. Sebagai anak magang, saya dan kawan magang lainnya turut dilibatkan sebagai kontributor tulisan untuk buletin tersebut. Saya menulis tentang dua peristiwa seni dan satu tulisan review buku untuk buletin IVAA edisi September-Oktober 2018. Beberapa waktu lalu, ketiga tulisan tersebut mendapat respon positif dari dosen penguji saya ketika seminar untuk ujian magang ini, saya merasa diapresiasi karenanya.

Sebagai pribadi yang tertutup, staf IVAA yang hangat dan gemar guyon cukup membantu proses adaptasi saya selama magang. Pun staf IVAA yang sehari-harinya berkomunikasi dengan bahasa Jawa, adalah salah satu tantangan terbesar saya selama magang. Ya, saya berlatarbelakang Bugis dan sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa. Acapkali saya kadang tertawa untuk hal yang tidak saya mengerti hanya karena sekeliling saya semua tertawa. Pengalaman yang sungguh lucu untuk dikenang.

Tidak berlebihan jika saya katakan membawa pulang banyak pengalaman yang berkesan. Sepulangnya ke Makassar, teman-teman saya langsung menodong dengan rentetan pertanyaan seputar pengalaman magang saya dan hal-hal tentang IVAA. Mereka menyambut antusias apa yang saya ceritakan kendati saya bukan tipikal pencerita yang baik.

Semoga IVAA ke depan semakin maksimal dalam digitalisasi koleksi arsipnya, teks untuk profil senimannya semakin lengkap, dan besar harapan saya juga, IVAA bisa meng-cover lebih banyak lagi peristiwa seni di luar Yogyakarta dan pulau Jawa. Di luar sana, para pegiat seni mestilah sedang bergerilya juga untuk menghidupkan kesenian di daerah mereka. Akhir kata, kepada mbak/ mas staf IVAA, terima kasih atas kesempatan mengenal dan mengalami kerja-kerja IVAA yang mungkin kesempatan seperti ini tidak datang setiap saat dalam hidup saya.

Panjang umur, IVAA!

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Magang dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi November-Desember 2018.