Menjelajahi Arsip: Mengenal Bagong Kussudiardja

Oleh: Hardiwan Prayogo

Dalam rangka memperingati 90 tahun Bagong Kussudiardja, 60 tahun Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja, dan 40 tahun Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK), digelarlah pameran arsip bertajuk Ruang Waktu Bagong Kussudiardja yang dihelat pada 29 September – 3 November 2018 di PSBK. Suwarno Wisetrotomo didapuk sebagai kurator pameran ini. Dalam catatan kuratorialnya menekankan Bagong sebagai seniman yang sadar pengarsipan, telah meninggalkan jejak penanda zaman bagi dunia kesenian. Dengan melihat arsip Bagong mulai dari catatan perjalanan, liputan media, dokumentasi peristiwa kesenian, hingga surat-menyurat, dapat kembali memperkenalkan kiprah kesenimanan Bagong dengan konteks masa kini. Pameran ini menggunakan dua lantai ruang pamer PSBK.

Lantai pertama dari pameran ini menampilkan lini masa kehidupan Bagong. Diawali dari tahun kelahiran, yaitu 9 Oktober 1928 sekaligus latar belakang keluarganya yang dekat dengan aktivitas kesenian. Krida Beksa Wirama menjadi tempat pertamanya menempuh pendidikan seni tari pada 1946. Memasuki masa Orde Lama, dimana Sukarno banyak menggalakan misi-misi kebudayaan ke mancanegara, Bagong bersama dengan seniman-seniman lainnya banyak menciptakan karya-karya tari baru. Dalam salah satu highlight lini masa yaitu tahun 1958 yang menandai berdirinya Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja. Arsip-arsip pada masa orde lama ini, ingin secara lebih dalam ingin menandai Bagong sebagai penari yang melahirkan banyak eksperimentasi, salah satunya dengan perpaduan ritmik antara pantomime dengan gerak tari secara dramatik.

Sebuah kliping tertanggal 23 Juli 1960 dari surat kabar Star Weekly menjadi arsip pertama yang menuliskan karir Bagong sebagai pelukis. Secara garis besar mengetengahkan kehadiran antara seni rupa dan seni musik, dimana diantaranya terdapat seni tari yang merupakan perpaduan antara keduanya. Tulisan ini ditutup dengan kritik pada karya lukis Bagong, yang dinilai meskipun temanya beragam, menunjukan luasnya wawasan, namun belum menonjol secara teknik pewarnaan dan komposisi.

Jika diperhatikan, lini masa dekade 60-an terdapat tahun-tahun yang hilang, yaitu di antara tahun 1963-1966. Sama sekali tidak terdapat arsip di sekitar peristiwa peralihan kekuasaan tahun 1965. Kekosongan ini menjadi menarik mengingat ini adalah salah satu momen-momen paling krusial bagi eksistensi seniman melalui afiliasi politiknya. Memasuki masa orde baru, secara tegas disampaikan bahwa Bagong banyak menangani pesanan dari pemerintah, mulai dari BUMN, korporat, dan lembaga-lembaga lain. Ini bisa dilihat sebagai langkah negosiasi seniman menghadapi pemerintahan yang represif, terlepas dari kontroversinya.

Selain momentum berdirinya PSBK tahun 1978, terlihat banyak arsip yang menunjukkan kedekatan dengan militer. Memasuki dekade 1990-an, dimana usianya menginjak 60 tahun, Surabaya Post menyebut Bagong sebagai koreografer yang menularkan “isme”-nya. Meski Bagong sendiri menolak sebutan bahwa karyanya menuju proses menemukan “tari Indonesia”. Di lain sisi, Bagong juga dikritik sebagai seniman yang sangat dekat dengan pemerintah, menerima karya pesanan, hingga karyanya dianggap murahan. Namun Bagong berdalih bahwa aspek terpenting adalah membuat karya yang komunikatif bagi masyarakat, tanpa mengesampingkan misi, isi dan estetikanya. Dalam tulisan-tulisannya di media massa, terlihat Bagong juga beredar dalam wacana kesenian, terutama di ranah persinggungan antara pembaharuan nilai dan filosofi seni tradisi, dan profesionalitas seniman dengan dorongan turistik. Di samping masih banyak catatan menarik mulai dari protes Bagong terhadap KIAS (Festival Kebudayaan Indonesia Di Amerika Serikat) 1990) karena dianggap melibatkan seniman Lekra, hingga klaimnya bahwa berkesenian adalah berpolitik, namun masih malu-malu mengakui bahwa karyanya menyinggung kritik terhadap politik praktis. “Ujung” dari lini masa ini adalah tahun 2004, dimana Bagong berpulang pada 15 Juni 2004 di usia 76.

Selain lini masa yang disajikan di lantai pertama, lantai kedua ruang pamer juga masih menampilkan koleksi arsip Bagong. Namun lebih fokus pada catatan kliping dan foto dokumentasi. Seluruh arsip yang dipamerkan memang sengaja ditunjukkan untuk dibaca secara lebih mendalam. Maka dari itu di seluruh ruang pamer menyediakan “ruang baca” sederhana. Meski sayangnya beberapa kliping tidak lengkap, baik dari sumber dan tanggal penerbitan, hingga teks yang terpotong. Suwarno dalam penutup catatan kuratorialnya mengharapkan bentangan arsip-arsip Bagong menjadi pemantik atau bahkan rujukan utama dalam penelitian baik sejarah, seni, politik, dan lain-lain.

Harapan ini menjadi semacam “free pass” bagi publik untuk menafsir ulang praktik kesenimanan Bagong. Terlebih pameran arsip ini menekankan pada tahun-tahun yang dianggap menjadi tonggak karir Bagong. Apa yang dianggap penting dalam pameran ini bisa jadi berbeda dari interpretasi publik. Perluasan konteks dan perspektif memang harus muncul secara kritis dalam benak publik ketika dihadapkan pada arsip-arsip ini. Sebagaimana layaknya kerja arsip yang terus memperpanjang usianya dengan terus diaktivasi. Terlihat pameran arsip ini sedang menuju kesana.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.