Nusasonic: Melintas Batas Bunyi

Oleh: Sukma Surya Wijaya, Muhammad Indra Maulana (Kawan Magang IVAA)

Perhelatan Nusasonic berlangsung pada 2-13 Oktober 2018 di beberapa lokasi di Yogyakarta, dan Magelang. Nusasonic diprakarsai oleh Goethe-Institut Asia Tenggara, dan menggandeng kolaborator lintas negara yaitu Yes No Klub (Indonesia – Yogyakarta), WSK Festival of the Recently Possible (Filipina – Manilla), Playfreely/BlackKaji (Singapore) dan CTM Festival for Adventurous Music & Art (German – Berlin) mengusung tajuk utama yaitu Crossing Aural Geographies. Nusasonic yang mengelaborasi wacana multikultur bunyi dan musik eksperimental di Asia Tenggara, silang pendapat dalam kawasan tersebut, dengan Eropa dan negara-negara lainnya. Diskusi, lokakarya, dan pertunjukan seni musik menjadi program yang dihadirkan dalam Nusasonic.

Minggu, 7 Oktober 2018, 14 pelaku seni dipertemukan dalam satu ruang diskusi. Satu dari serangkaian program diskusi Nusasonic digelar di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta pukul 14.30 – 20.30 WIB. Mengangkat empat topik pembahasan yaitu “Interlacing Networks” yang dimoderatori oleh Anna-Maria Strauss dan menghadirkan Erick Calilan, Jan Rholf, Tengal, Wok the Rock, Yuen Chee Wai sebagai pembicara. Inti dari diskusi ini adalah banyak cara dalam menjalin jaringan. Erick Calilan menuturkan bahwa dalam berjejaring, bermula dari bergabung dengan komunitas berbasis seni. Dengan latar belakang yang tidak menempuh pendidikan formal dibidang teknik elektronik, Calilan mengeksplorasi aktivitasnya dengan melakukan eksperimen dan riset mandiri melalui minat khusus yang berkaitan dengan bebunyian sebagai medium artistik.  Kemudian, ia mengembangkan kiprah artistiknya dengan berpartisipasi aktif dalam pertukaran gagasan dan kolaborasi terutama di ranah seniman visual, praktisi seni media baru, peretas, musisi eksperimental, dan seniman bunyi (sound art).

Sesi kedua dimulai pukul 16.00-16.45 WIB dengan pembicaraan tentang “The Cyborg in the River : Sewing Machines to the Ethnic Body” yang diutarakan oleh Tad Ermitaño. Tad Ermitaño yang merupakan tokoh kunci seni media baru di Filipina menyoroti bahwa “teknologi itu penting, karena manusia butuh mesin untuk melanjutkan kehidupan dan bersosial”.

“Self-Organising Structures and Maker Culture” menjadi topik diskusi pada sesi ketiga yang dimulai pukul 17.00-18.00. Andreas Siagian, Arnont Nongyao, Lintang Raditya, Peter Kirn, Yab Sarpote turut angkat bicara tentang topik diskusi pada sesi ini. Berlanjut pada sesi keempat yang merupakan sesi terakhir pada program diskusi Nusasonic kali ini, yang melibatkan Gunawan Maryanto, Yennu Ariendra dan J Mo’ong Santoso sebagai pembicara pada topik “Music and Politic through Raja Kirik”.

Jaranan buto merupakan bentuk kesenian tradisional yang ada di Banyuwangi atau Blambangan. Tarian rakyat yang sebenarnya adalah bentuk dari tiruan atas kebudayaan Mataram yang dilakukan orang Banyuwangi. Namun yang menarik adalah tiruan dari kebudayaan Mataram atau Jogja ini, kemudian digunakan oleh orang Banyuwangi untuk melakukan sebuah bentuk perlawanan kebudayaan. Banyuwangi atau Blambangan adalah satu kerajaan Hindu yang cukup tua di Jawa yang teramat sulit untuk ditaklukan oleh Belanda, Mataram, dan Bali. Banyuwangi diibaratkan seperti daerah yang terus menerus otonom dan melakukan perlawanan. Bentuk kebudayaan Banyuwangi sebenarnya adalah varian dari kebudayaan Jawa yang paling tua yang masih terus dilakukan sampai sekarang. Itu salah satu pijakan utama dari project Yennu dan Moong yaitu Jaranan Buto. Akan tetapi, secara tematik Yennu dan Moong mencoba mengangkat Raja Kirik sebagai suatu bentuk pembunuhan karakter yang dilakukan oleh Mataram kepada Banyuwangi atau Blambangan yang tidak bisa ditaklukan. Maka itu, Mataram mencoba menaklukan dengan cara kebudayaan atau membangun mitologi yang memperburuk citra orang Banyuwangi” tandas Yennu setelah pemutaran Film tentang Jaranan Buto.

Program diskusi lainnya berlokasi di MES 56, adalah “Resonances-Fractures between Kuala Lumpur, Cairo, Yogyakarta”. Dengan menggandeng Nadah el Shazly, dan Sudarshan Chandra Kumar sebagai pemateri dan di moderator oleh Grace Samboh. Diskusi ini membicarakan tentang apa saja tantangan yang dihadapi oleh mereka (pemateri) dalam hal audiens, kancah dan jaringan, lokasi, tradisi lokal dan iklim sosio-politik, hubungan kultural atau historis yang tercipta antara Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah. Selain itu, tak lupa pula membicarakan apakah pengalaman dan warisan lokal mereka berpengaruh terhadap praktik musiknya.

Terlalu banyak kontrol yang dilakukan oleh pemerintah di Kairo yang cenderung membatasi kegiatan bermusik, menjadi permasalahan utama disana yang pada akhirnya membuat banyak orang gugup bahkan takut untuk berekspresi melalui musik. “Baiknya, seniman musik harus diberikan dukungan  oleh produser, bagaimana cara mereka mempromosikan karyanya di media.” Ungkap Nadah el Shazy mengenai musik dan iklim sosio-politik. Sudarshan angkat bicara tentang hubungan kultural yang tercipta antara Indonesia dengan Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa ada banyak kemiripan antara Indonesia dan Malaysia termasuk dalam hal musik. Indonesia memiliki dangdut yang menjadi ciri khas musiknya. Banyak orang-orang Malaysia menyukai genre musik ini. Bahkan ada salah satu lagu dangdut Indonesia, “Keong Racun” dinyanyikan kembali oleh penyanyi Malaysia dengan menggunakan bahasa Malaysia. Tidak cukup sampai disitu, bahkan “Keong Racun” versi Malaysia memiliki versi video musiknya sendiri. Hal ini menjadi salah satu bukti ketertarikan dan hubungan kultural antara Indonesia dengan Malaysia.

Beralih ke program pertunjukan. Dengan menggunakan beberapa lokasi di Eloprogo Art House, panggung 2 dimeriahkan oleh seniman-seniman seperti Wilderness-AGF, Asa Rahmana, Ayu Saraswati, Joee & I,  Menstrual Syndrome, dan Sarana dengan kolaborasi yang luar biasa sebagai warming up acara tersebut. Pertunjukan ini dilaksanakan pada  13 Oktober pukul 15.00 dengan iringan lantunan aliran sungai desa Wanurejo. Sore itu, seniman-seniman dari berbagai daerah silih berganti hilir mudik berdatangan meramaikan pertunjukan tersebut. Sebelum menuju panggung utama, panggung 3 dengan gaya circle  menampilkan penampilan dari Jogja Noise Bombing.

Menjelang malam, sebelum menikmati panggung utama, para penonton juga disuguhi beberapa karya karya seni rupa di galeri sebelum menuju panggung utama. Ada beberapa penampil, seperti The Music Makers Hacklab, mereka adalah laboratorium kolaboratif selama seminggu yang diselenggarakan oleh Peter Kirn dari CDM (cdm.link). Kemudian juga ada Hacklab dari Yogyakarta dengan co-host Andreas Siagian dan Lintang Radittya, merefleksikan aspek bermain musik yang menyenangkan dan kolaboratif, mereka yang terlibat adalah Erick Calilan dan Duto Hardono, Peter Kirn, Lintang Radittya, Storm, Amont Nongyao, Tad Ermitaño, Mica Agregado. Setelah pengunjung berdesakan menikmati musik di galeri, panggung utama pun dibuka oleh Nadah el Shazly. Suara El Shazly sangat berani namun lembut, dieksekusi dengan terampil dari awal sampai akhir. Liriknya puitis dan tajam, membentuk gambar melalui frasa.

Nusasonic sudah berhasil memperpadukan kolaborasi lintas musik Negara secara kreatif dan inovatif. Setiap seniman dari masing-masing negara, dengan latar belakang konteks kultural, sosial, dan politik telah unjuk gigi di hadapan audiens yang beragam pula. Melalui eksperimentasi seni (khususnya seni media baru), teknologi, dan bunyi, kekakuan karena antara batas geografis mencair dalam perhelatan ini. Nusasonic menunjukkan perlintasan dan saling silang batas bebunyian dalam pengalaman personal, hingga global.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.