Laporan Naratif Magang di Indonesian Visual Art Archive periode Mei-Agustus

oleh Putri R.A.E. Harbie

Saya memutuskan untuk magang di Indonesian Visual Art Archive karena rasa ingin tahu yang besar tentang pengarsipan seni. Selain itu saya diarahkan untuk mengunjungi IVAA oleh mantan dosen saya di Tangerang. Kebetulan film tugas akhir saya memang melibatkan arsip dan memanfaatkan archival look, sehingga menurut beliau IVAA bisa menjadi wadah yang tepat untuk ketertarikan saya terhadap arsip dan kompleksitasnya. Selain untuk alasan tersebut, saya juga ingin memperluas pengetahuan dan pengalaman sebelum masuk kuliah di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Mempelajari dinamika seni di Yogyakarta tidak cukup jika hanya mengandalkan perkuliahan saja, saya yakin kesempatan observasi 3 bulan di IVAA akan sangat berguna untuk saya.

Secara pribadi, saya lebih suka menganalisa arsip daripada sekedar membaca buku untuk meneliti suatu karya, fenomena atau perhelatan seni. Menurut saya, arsip memiliki aktualitas yang tidak dimiliki beberapa tulisan penulis atau peneliti dengan subjektivitas dan kepentingan masing-masing. Terdapat kesempatan untuk menikmati arsip sebagai sebuah pengalaman yang dapat diinterpretasikan berbeda seiring berjalannya waktu.

Umumnya pengarsipan seni hanya dilakukan masing-masing organisasi dengan akses yang terbatas. Pendekatan IVAA sangat berbeda dengan organisasi lainnya, usaha aktivasi arsip benar-benar ditujukan untuk masyarakat luas. Sebagai perwujudan usaha tersebut, tahun lalu IVAA pernah menggelar Festival Arsip untuk membangun kepedulian masyarakat tentang arsip secara umum maupun arsip seni. Saya tidak terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, namun ada beberapa dokumentasi yang saya edit agar bisa menjadi arsip yang utuh. Melalui proses tersebut saya merasa IVAA telah berhasil membangun jembatan pengetahuan dan hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Beberapa peneliti dan seniman residensi dari seluruh dunia sering datang ke IVAA untuk membaca fenomena seni yang terjadi di Indonesia. Mahasiswa seni juga sering datang untuk menyelesaikan karya ilmiahnya. Ada juga anak-anak dari sekitar IVAA yang datang untuk memanfaatkan akses internet yang ada (meskipun bukan untuk kegiatan literasi). Orang-orang yang datang ke IVAA cukup beragam dan lintas generasi, sehingga selalu ada dialog-dialog menarik yang terjadi di IVAA.

Selama magang, saya berada di bagian pengarsipan dan dokumentasi. Tanggung jawab saya kurang lebih adalah merekam dan mengedit materi audio visual (beberapa sudah bisa diakses di Youtube channel @rsip IVAA dan Instagram ivaa_id), terkadang juga membantu mengunggah materi arsip online untuk newsletter dan menulis. Setelah 2 minggu melakukan magang, kantor IVAA mulai dipenuhi kawan magang dari berbagai universitas di Indonesia. Akhirnya saya bisa fokus mengolah audio visual saja. Pekerjaan dokumentasi bisa dilakukan kawan magang lainnya. Namun ada kendala lain ketika melibatkan terlalu banyak personel dokumentasi di lapangan yaitu kesulitan mengontrol kebutuhan teknis dan distribusi alat. Setiap hari banyak peristiwa seni yang terjadi di Yogyakarta, sehingga sangat sulit mendokumentasikan semuanya. Untuk melengkapi arsip dan dokumentasi, IVAA membuka peluang donasi.

Seluruh video yang saya edit memiliki kesannya masing-masing, tapi ada satu video paling berkesan yaitu video promosional untuk Archive Showcase “Jiwa Kita”. Video ini melibatkan beberapa arsip video art, performance dan dokumentasi peristiwa seni yang dirangkai menjadi satu. Saya mengalami dialog yang sangat kuat antara elemen visual dengan audio yang berasal dari arsip berbeda tanpa saling menutupi potensi dan intensinya.  Tujuan saya membuat video ini adalah karena menyadari bahwa masih ada jarak antara pengunjung perpustakaan IVAA dengan Archive Showcase, meskipun berada dalam satu ruangan. Pengunjung masih ‘takut-takut’ untuk melihat isi komputer dan arsip-arsip yang dipamerkan. Saya harap arsip bisa lebih approachable dengan cara tersebut.

Secara keseluruhan, IVAA sangat baik dalam bertukar  pengalaman, ilmu dan pemikiran. Banyak kegiatan yang diinisiasi untuk memenuhi kebutuhan para kawan magang, seperti kunjungan ke museum OHD, kunjungan untuk melihat koleksi Istana RI Yogyakarta dan kunjungan ke studio seniman (Pak Subandi Giyanto). Kegiatan magang di IVAA sangat bermanfaat dan membuka pikiran terutama bagi teman-teman yang hendak mengenali situasi seni rupa dan acara seni di Yogyakarta.

Saran saya antara lain adalah agar IVAA bisa mulai berafiliasi dengan lini-lini di seluruh Indonesia, supaya tidak hanya seni rupa Yogyakarta saja yang bisa dicakup tapi seluruh Indonesia. Saya harap setelah IVAA selesai renovasi, IVAA bisa menambah program-program baru di ruang yang baru dan menambah SDM yang lebih banyak. Semoga rasa cinta seluruh staff IVAA terhadap arsip bisa terus ditularkan kepada seluruh individu di dunia seni.