Biennale Jateng #2: The Future of  History

Oleh: Nurul Fajri (Kawan Magang IVAA)

Dengan  alunan musik, wanita berjubah putih memasuki halaman utama Taman Srigunting, Kota Lama Semarang. Jubah putih ini kemudian ditorehkan cat dari kurator, pembuka, dan pemberi sambutan pameran. Prosesi ini adalah bentuk simbolis dibukanya Biennale Jateng #2, The Future of  History. Diselingi kelakar tentang betapa repotnya jika tiba-tiba turun hujan, pembukaan pameran ini berlangsung pada Minggu malam, 7 Oktober 2018. Pengunjung yang hadir terlihat antusias walaupun terhitung tidak cukup ramai untuk ukuran pameran seni dwitahunan berskala nasional. Pameran ini sendiri berlangsung mulai 7-21 Oktober 2018.

Dalam kata-kata sambutan malam itu, beberapa kali disinggung alasan dipilihnya Kota Lama Semarang sebagai lokasi Biennale Jateng #2. Semua tak lepas dari latar belakang historis pada lokasi ini. Lokasi yang dirasa tepat untuk membangkitkan kesadaran sejarah, kota yang tengah berproses dan tidak terperangkap pada romantisme masa lalu belaka. Spirit ini yang tampaknya ingin dilekatkan sebagai filosofi Biennale Jateng #2.

Biennale Jateng #2, The Future of History dikuratori oleh Djuli Djatiprambudi dan Wahyudin. Pameran ini diikuti oleh 27 orang seniman yang berasal dari Yogyakarta, Jakarta, Denpasar dan Bandung. Kendati pameran ini berlabelkan Jateng, tak satupun dari 27 seniman utama itu berasal dari Semarang, bahkan Jawa Tengah. Karya-karya dari para seniman yang berupa lukisan, seni instalasi, seni patung, seni obyek, seni multimedia, seni video, dsb, dipamerkan di 5 tempat berbeda yakni, Semarang Contemporary Art Gallery, Gedung Oudetrap, Galeri PPI, Resto Pringsewu, dan Kedai 46.

Terpisah, Gedung Oudetrap menjadi lokasi pameran untuk karya Galam Zulkifli, Tita Rubi, dan Wimo Ambala Bayang. Lokasi ini hanya menampilkan karya dari 3 seniman, namun dalam ukuran karya yang besar. Kemudian Kedai 46 digunakan sebagai lokasi untuk memamerkan karya-karya parallel artist. Sementara itu, Resto Pringsewu memamerkan karya lukis dengan objek desain sampul buku, dan ruangan khusus untuk memperkenalkan sosok Basoeki Abdullah. Lantai kedua restoran ini memang difungsikan sekaligus sebagai Museum Basoeki Abdullah. Di sana pengunjung dapat menemui beberapa lukisan reproduksi karya Basoeki Abdullah, foto-foto tentang kehidupannya, dan sejumput penjelasan singkat terkait sepak terjangnya dalam dunia seni.

Kemudian Semarang Contemporary Art Gallery menampilkan lebih beragam seniman dari berbagai generasi. Mulai dari Hanafi, Heri Dono,  Goenawan Mohamad, Ngakan Made Ardana, Jompet Kuswidananto, dan lain-lain. Didominasi karya lukisan meski karya-karya tiga dimensional dan instalasi juga menarik perhatian.

Sedangkan Galeri PPI, gedung yang awalnya milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) ini memang disulap menjadi galeri. Meski bernama galeri, gedung ini lebih terlihat seperti gudang karena tidak didesain untuk menjadi ruang pamer. Pengalaman mengalami pameran di ruang ini tentu menjadi menarik, dengan cahaya yang cenderung lebih gelap dan tidak berkonsep white cube. Selain karya seni video Agung Kurniawan, seluruh karya berjenis seni instalasi. Venue terakhir adalah Kedai 46, terletak dalam satu bangunan yang sama dengan sebuah rumah makan. Venue ini menjadi ruang pamer bagi parallel artist. Didominasi oleh karya seni lukis, meski tetap ada beberapa karya instalasi hingga patung. Dari karya yang dipresentasikan, kategori parallel artist bisa dipertanyakan, apakah dalam ukuran estetik atau reputasi karir senimannya.

Tema dan narasi pameran tentang “Sejarah” diharapkan dapat kontekstual dan reflektif di masa kini. Bisa jadi tema ini adalah tindak lanjut pemilihan lokasi, yaitu Kota Lama. Terlepas dari itu, Biennale Jateng #2, The Future of History ini selayaknya bisa dijadikan hajatan dwi tahunan khususnya bagi seniman dari Jawa Tengah. Tidak terkesan hanya “meminjam” lokasi pameran dan dicari-cari tema yang sekiranya sesuai dengan common sense publik atas Kawasan Kota Lama, Semarang.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan September-Oktober 2018.