Politik Tanpa Dokumen

Oleh Senjang Martani (Kawan Magang IVAA)

Judul Buku : Politik Tanpa Dokumen
Penulis          : Muhidin M. Dahlan
Tahun             : 2018
Penerbit       : I:Boekoe
No panggil  : 300 Dah D

..”jangan pernah mimpi memanen kejayaan peradaban (indonesia Jaya 2030) jika tak siap berjalan dalam kesunyian merawat, memupuk, dan menjaga warisan masa silam dengan segenap kesadaran. Bila tidak, aparat pemerintah hari ini akan dikutuk generasi berikutnya sebagai kutu bagi buku, rayap bagi dokumen, dan hama bagi padi yang menghancurkan harapan “petani-petani peradaban.” (Hlm 16)

Arsip selama ini dipahami sebagai kumpulan kertas usang dan berdebu tanpa dipahami informasi penting yang terkandung di dalamnya. Arsip sebagai sumber ingatan atau informasi haruslah dikelola secara serius, tidak asal-asalan apabila kita tidak mau kehilangan jati diri sebagai bangsa karena tidak mampu merawat rekaman peristiwa masa lalu.

Dalam esai-esainya pada buku berjudul Politik Tanpa Dokumen ini, Muhidin sangat jeli dalam menggunakan dan memilih data sebagai referensinya. Ada banyak sekali koran-koran lama yang dijadikannya sebagai data. Seperti dalam esainya yang berjudul “Setengah Abad Teror Kanigoro”, menggunakan kliping di Harian Rakjat edisi 11, 13 Februari 1965 untuk menampilkan narasi lain soal Tragedi Kanigoro. Esai-esai di buku ini juga ditebari oleh bibliografi media dan tokoh yang tidak hanya kaya atau terkemuka tapi juga serius: Bintang Timur, Kompas, Tempo, Medan Prijaji, Doenia Bergerak, Pramoedya Ananta Toer, Tirto Adhi Soerjo, Marco Kartodikromo, dan banyak nama lain.

Bagi para pecandu buku, membaca buku ini akan menjadi pengalaman menarik dan mungkin bisa mengubah cara pandang dalam melihat sejarah Indonesia. Ada banyak peristiwa yang luput atau jarang muncul dalam pembahasan buku-buku sejarah, ada di buku ini. Namun perlu kehati-hatian saat membaca setiap esai di buku ini karena pembacaan yang tergesa-gesa dan tidak hati-hati rawan menimbulkan kesalahan pemahaman.

Melalui esai-esai yang terkumpul dalam buku ini, Muhidin seolah ingin menebarkan “teror” bagi pembaca. Sepakat dengan editor buku ini bahwa esai-esai itu dibuat agar orang lain tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana tidak, separuh buku ini rasanya seperti makian muhidin. Makian-makian itu dibahasakan sedemikian rupa dan dibumbui data-data. Membuat pembacaan terhadap buku menjadi cukup eksploratif.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi September-Oktober 2018.