Sisi Heroik Pelukis Rustamadji

Oleh: Nabila Warda Safitri (Kawan Magang IVAA)

Klaten, 04 Juli 2018. Memperbincangkan sosok Rustamadji agaknya menjadi bahasan yang menarik dalam diskusi sore yang diadakan oleh Pasren Street Art Klaten. Dalam diskusi ini, Mikke Susanto sebagai pembicara mengulik banyak hal tentang sosok Rustamadji . Bergelar maestro menjadi sisi yang menarik untuk dibahas. Bagaimana bisa Rustamadji tercatat sebagai salah satu dari tiga pelukis maestro yang berasal dari Klaten?, menurut Mikke Susanto sosok Rustamadji sangat eksis melalui kekaryaan juga dalam jaringan sosialnya.

Rustamadji merupakan pria kelahiran Klaten tahun 1920.  Dalam karirnya sebagai seorang seniman, Rustamadji menempuhnya sejak tahun 1938 dan hal itu ditempuh dengan cara belajar sendiri atau dalam istilahnya disebut sebagai seniman otodidak. Sebelum bergabung dalam kelompok seninya di Yogyakarta, Rustamadji sempat bermukim di kota Malang. Perpindahan Rustamadji ke Yogyakarta tidak lain karena pada masa itu terjadi pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Gonjang-ganjing situasi politik pemerintah tersebut membuat banyak seniman berbondong–bondong ikut pindah ke Yogyakarta, salah satunya Rustamadji , itu terjadi pada tahun 1946-an. Pada masa itu sekumpulan seniman – seniman yang hijrah ke Yogyakarta membentuk Seniman Indonesia Muda (SIM), namun Hendra Gunawan tidak bertahan lama di SIM sehingga dibentuklah Sanggar Pelukis Rakyat yang didirikannya bersama Affandi. Melalui bekal melukis kerakyatanlah Rustamadji mengalami perkembangan kekaryaan. Dalam pelukis rakyat, mereka lebih  mengutamakan rakyat dan mengesampingkan pemerintahan. Ini menjadi salah satu sebab banyaknya seniman-seniman pelukis rakyat yang tergabung dalam keanggotaan PKI. Dalam mewujudkan misinya untuk kerakyatan, didirikanlah sanggar pelukis rakyat untuk mengajarkan kesenian pada anak-anak. Dalam diskusi, Mikke menunjukkan salah satu foto dimana terdapat sosok Rustamadji yang ikut serta mengajar kesenian.

Seniman sebagai pencatat sejarah merupakan salah satu konsep yang melebur pada pelukis kerakyatan, karena pelukis rakyat dalam proses berkaryanya terjun langsung ke lapangan sehingga mereka bisa merasakan kondisi rakyat. Nampaknya konsep itu diterapkan Rustamadji dalam konsep kekaryaannya. Kita sering mendengar bahwa Rustamadji menghabiskan waktu berkesenian secara total, akan tetapi tidak ada data yang menunjukkan penghasilan Rustamadji selain dari penjualan karya seninya. Bagaimana sosok Rustamadji menghabiskan waktu berkarya secara detail belum sempat diteliti lebih lanjut, namun tentang ranah hubungan sosialnya dengan seniman–seniman hingga presiden Soekarno terekam dalam dokumentasi-dokumentasi pelukis rakyat.

Dari pelukis rakyat, terdapat berbagai realitas yang menarik seperti pengerjaan monumen tugu Semarang karya Rustamadji dan kawan-kawan. Dalam hal ini Edhi Sunarso sangat berjasa dalam proses pengarsipan dari monumen tugu Semarang hingga patung-patung pesanan Soekarno. Monumen tugu Semarang diresmikan langsung oleh Soekarno, dan pada hasil dokumentasi foto yang ditunjukkan oleh Mikke, jelas terlihat ada hubungan antara Soekarno dan seniman yang terlibat dalam pengerjaan monumen tugu Semarang termasuk juga Rustamadji . Lantas bagaimana hubungan Rustamadji dengan Soekarno?. Mikke menemukan bahwa terdapat 2 karya Rustamadji yang dikoleksi oleh Soekarno yaitu lukisan pohon nangka dan lukisan kapal selam, terlihat dalam foto hasil dokumentasi bahwa karya tersebut dibeli saat Soekarno berkunjung ke Sanggar Pelukis Rakyat. Hal itu dapat menyimpulkan bahwa Rustamadji cukup eksis dalam jejaring sosialnya.

Sosok Rustamadji berhasil menjalankan misi sebagai seniman dengan publikasi yang baik, dimana dulu untuk tercatat dalam media-media seperti koran sangatlah susah, jika bisa tercatat di surat kabar merupakan suatu hal yang mewah. Tetapi Rustamadji nyatanya banyak tercatat dalam media koran seperti Star Weekly dan sebagainya. Rustamadji juga banyak tercatat di media lewat pameran-pameran yang diadakan bersama kawan-kawannya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.