PERIHAL KEDIAMAN DAN JOGJA

Oleh: Apriani Kukuh Dwi Pertiwi (Kawan Magang IVAA)

Kamis, 12 Juli 2018. Teater Garasi pukul 18.00-21.00 WIB, digelar pertunjukan dan diskusi bertajuk ‘Con(tra)ceptual Art: Real And Unreal’ yang merupakan bagian dari program Cabaret Chairil Vol.1. Cabaret Chairil adalah ruang transit untuk menampilkan repertoar pertunjukan lintas medium dan disiplin. Tahun ini, dalam beberapa edisinya yang dikuratori oleh Taufik Darwis, bermaksud menelaah isu ‘Kediaman’ sebagai sang alterego dari ‘Kemajuan’. Menghadirkan tiga orang seniman/kelompok untuk membahas tentang isu tersebut, yaitu teater Ghanta (Jakarta), Roka Teater (Yogyakarta), dan Aliansyah Chaniago (Bandung).

Pada hari kedua Program Cabaret Chairil Vol.1 ini, Alin (Aliansyah Chaniago) menampilkan pertunjukan dengan durasi yang cukup panjang. Pertunjukan dimulai dengan disajikannya sekumpulan benda-benda yang dibuang atau sudah tidak terpakai oleh pemiliknya di dalam ruang hitam (black box). Dilanjutkan pemutaran video saat Alin berburu barang-barang yang dibuang atau sudah tidak terpakai dengan cara membujuk atau mempersuasi, bukan hanya barang-barang yang berada di luar rumah tetapi juga barang-barang di dalam rumah yang tidak berpenghuni. Lalu, dibukalah sesi diskusi yang dimoderatori langsung oleh Taufik.

Suasana Diskusi

Taufik mengawali diskusi ini dengan penjelasan singkat tentang tema kediaman yang baru saja ditampilkan oleh Alin. Berangkat dari upaya melihat (sebagian) persepsi warga atas Kota Jogja sebagai ruang tinggal. Sebagai seniman dari luar kota, Alin bermaksud mencoba membuka lagi percakapan mengenai kewargaan seni dengan menggambar sketsa dari pertanyaan, ‘Apa artinya menjadi masyarakat kontemporer dan menjadi masyarakat seni kontemporer Jogja?’. Kota yang sangat identik dengan kesenian yang begitu canggih, di sisi lain Alin juga melihat Jogja seperti tidak bergerak untuk membicarakan hal-hal di sekelilingnya. Bagaimana seni bertautan dengan masyarakat sekitar yang hidup bertetangga?

Cukup singkat pemaparan yang disampaikan oleh Taufik, diskusi kemudian mulai dipantik oleh pernyataan dari John yang melihat ‘Jogja’ lebih jelas melalui video. John mengharapkan adanya desain ulang pada benda-benda temuan itu, ‘Kalau ini kan tetap kursi sebagai kursi yang hanya direlokasi dengan lebih rapi di sini’ tuturnya. John juga mengajukan pertanyaan perihal boleh tidaknya kita berinteraksi dengan karya Alin, contohnya dipegang atau diduduki. Menurutnya, saat datang ke sini seperti layaknya datang ke pameran, kita punya batas dan jarak antara audiens dengan karya yang tidak boleh disentuh.

Kemudian Taufik menimpali pernyataan John, menerangkan bahwasanya situasi yang diharapkan Alin pada pertunjukannya kali ini adalah menjalin percakapan antara audiens dan dirinya selama durasi tiga jam tersebut. Makna itu yang justru ingin dibangun Alin melalui dialognya dengan audiens yang menghasilkan pendapat ataupun kritik terhadap karyanya. ‘Sebenarnya karya ini dibangun atas respon juga ekspektasi publik terhadap karya itu sendiri. Justru ini tantangan buat saya, biar audiens tertarik untuk mendiskusikan karya ini, sekedar bertanya atau menanggapi.’ ujar Alin saat menanggapi harapan penonton tentang desain yang ‘menyusun ruang tinggal baru’. Alin juga menyebutkan bahwa berinteraksi dengan karyanya, entah itu menyentuh atau bahkan memindahkan adalah diperbolehkan.

Di saat pertunjukan berlangsung, perhatian mata penonton tertuju pada Alin yang memperlihatkan pantatnya dengan memakai celana berlubang di bagian belakang. Ide ini baru Alin lakukan setelah ada yang meminta videonya ditayangkan. ‘Saya menganggap benda-benda ini ada di depan rumah seperti saat buang air besar lalu disimpan di muka’ ujarnya merespon pertanyaan dari salah satu penonton. Di bagian selatan Jogja orang-orang menyimpan barang-barang yang tidak terpakai karena tidak ada ruang, akhirnya benda itu disimpan di muka (depan). Layaknya jemuran yang melintang di depan pintu rumah yang menurut Alin tidak seharusnya berada di depan. Hal ini kemudian ditransformasikan oleh Alin yang mencoba melihat situasi Teater Garasi yang sudah mempunyai default dan standarnya, yakni saat masuk akan ada jarak antara karpet hitam ini dengan ruang yang lebih luas. Dalam tayangan video pertunjukannya, Alin hadir sebagai orang dari luar Jogja yang matanya diwakilkan oleh lensa kamera. Alin ingin memainkan sudut pandang orang yang seperti ‘Aku liat ke sini, tapi orang liat pantat.’ Dalam hal logika tontonan dan ditonton, pantat Alin adalah hal yang menghadap ke publik dan hanya sebagai gimmick.

Proses editing pengambilan benda-benda yang dilakukan Alin murni total improve menyesuaikan dengan keadaan di lapangan. Alin mengambil benda-benda yang mewakili kondisi masyarakat Jogja dan identitas ruang. Menurut Alin, pengaruh blackbox ke karya sangat besar, mempunyai jimat dan karisma sendiri. Lighting yang terang dan redup pun sedikit men-distract  walaupun tidak fatal.

Membicarakan tentang wacana kediaman memang tidak bisa dipandang hanya dari satu sisi, mendekati akhir diskusi ada penonton yang berpendapat bahwa menurutnya penampilan Alin akan lebih menarik jika celana berlubang yang digunakannya itu adalah celana yang juga ditemukannya saat berburu barang bekas. Menurutnya juga, peran Alin tadi adalah sebagai tetangga yang justru kontras dengan pernyataan Alin tadi sebagai tamu yang datang dari luar Jogja.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.