Perempuan Modern dan Jiwa Jawa

Oleh Dwi Rahmanto

Seorang perempuan dengan satu set pakaian pernikahan jawa menumbuk bawang merah dan bawang putih di atas cobek. Dilakukannya berulang kali hingga bau bawang menusuk hidung dan air mata. Di punggungnya juga tertulis tegas dengan cat hitam ‘Power Blessing’, ‘Faith Eternal’, ‘Pride’, ‘Dignity’, dan sebagainya. Ini adalah sebuah pertunjukan berjudul ‘Lingga dan Yoni’ dalam rangkaian pembukaan pameran tunggal Fractura Hepatica; Love, Pride and Dignity oleh Andita Purnama Sari. Pameran ini berlangsung di Cemara 6 Galeri-Museum, tanggal 1 – 10 Agustus 2018, dengan kurator Christine Cocca. Andita memajang sekitar 13 karya seni rupa yang meliputi karya-karya lukisan, patung, instalasi dan  performance art. Karya-karyanya memaparkan unsur-unsur yang berpijak pada nilai-nilai perempuan dan tradisi dalam narasi yang penuh simbol dan makna.

Cocca menyebutkan bahwa Andita dalam pameran ini berbicara tentang kemuliaan cinta, harapan tentang hidup dan harga diri serta harkat martabat sebagai perempuan. Andita mencoba merefleksikan dedikasi, cinta yang tulus dan pengorbanan jiwa raga seorang perempuan yang dibalut dalam konsepsi pandangan hidup orang Jawa. Cocca menilai bahwa Andita adalah perempuan modern yang berada dalam momen-momen sakral, dalam situasi tradisi jawa sangat kuat melekat baginya. Ada interseksi antara konsep perempuan idealnya dalam tradisi dengan perempuan modern. Bagaimana keduanya bertemu dengan satu tubuh perempuan, bagaimana ini eksis dan bernegosiasi dalam hidup modern tapi membawa prinsip yang lama. Andita tidak hanya melakukan ini secara personal tetapi mengkontekstualisasikan dengan perempuan di jawa masa kini.

Fenomena kawin siri/kontrak di Indonesia bukan hanya menjadi gosip dan isapan jempol belaka. 2017 lalu terdengar kabar situs nikahsirri.com (kini sudah diblokir oleh Kemenkominfo) yang menggegerkan publik. (sumber: https://www.dream.co.id/news/prostitusi-berkedok-nikah-siri-di-puncak-bogor-1-170926z.html)

Melihat ini, Andita Purnama sebagai seniman tergugah untuk mengadvokasi berbagai kasus dalam praktik nikah siri dan kawin kontrak. Bersama Komnas Perempuan Jakarta, Andita meneliti dan menelusuri, kemudian menjadi lebih banyak tahu resiko-resiko buruk dari praktik ini. Barangkali inilah yang membuat Cocca menyatakan pameran ini sebagai jalan baru dari fase dimana Andita berada dalam situasi ‘heartbreak‘.

Entang Wiharso yang juga membuka pameran ini mengungkapkan bagaimana seni rupa kini tidak terbatas dan sangat universal. Seni tidak mengenal gender, bisa hadir di mana saja, seni sebagai pengait umat manusia. Entang menyoroti bahwa Andita memilih material bukan hanya pertimbangan estetis, tapi juga membicarakan nilai-nilainya secara kritis. Material ini semacam dialog antara yang rapuh dengan yang keras, sekaligus refleksi atas ekualitas gender. Narasi ini yang secara implisit ingin diutarakan dalam pameran ini, dan Entang cukup menggarisbawahi poin tersebut.

Andita sendiri memiliki proses pengkaryaan yang beragam. Mulai dari pemilihan material, cara mengolah material, instalasi, dan isu yang diangkat pun menggunakan berbagai sudut pandang. Sudut pandang ini dikolaborasikan dengan pendekatan idiom idiom jawa. Nilai-nilai  ini sengaja dihadirkan karena menurutnya semua orang akan selalu kembali kepada nilai awal dia berada, dalam hal ini Andita dengan pengalamannya sebagai orang Jawa. Material karyanya juga banyak mengambil dari barang-barang milik pribadi Anditya, seperti stagen, rambut, hingga tempat tidur. Benda-benda personalnya ini dibawa dalam satu rangkaian pintu narasi yang lebih luas, perempuan, modern, dan jawa.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Juli-Agustus 2018.