[Sorotan Pustaka] Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 -2005

Penulis : Semsar Siahaan, Melati Suryodarmo,Halim HD,
Yayak Yatmaka, Mohamad Cholid, Sanento Yuliman, Danarto, Sujiwo Tejo, Yvonne
Owens, Bre Redana, Astri Wright
Penerbit : Yayasan Jakarta Biennale 2017 dan Penerbit Nyala Yogyakarta
Tebal : x+196 halaman
Ukuran   : 13,8 x 20,3 cm

Oleh: Santoso

Buku  Seni Manubilis: Semsar Siahaan 1952 – 2005 terbagi dalam beberapa tulisan sebagai pembuka buku, yang ditulis oleh sahabat Semsar Siahaan di ITB, yaitu Yayak Yatmaka dan Halim HD, kemudian tulisan – tulisan Semsar sendiri dan 6 esai tentang Semsar yang dilengkapi dengan arsip gambar dan arsip kliping surat kabar.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Jakarta Biennale dan Nyala ini menunjukkan cara Semsar melihat peran seni secara kritis dan kaitannya terhadap kemanusiaan dan hak asasi manusia (HAM). Dari sini juga kemudian kita bisa melihat keterlibatannya dalam berbagai aktivitas sosial politik, lingkungan hidup, hingga pendidikan anak. Catatan biografis, esai dan ulasan kritis ini menjadi bagian penting dari mozaik sejarah seni rupa Indonesia. Salah satunya dengan melihat Semsar Siahaan dari aspek kesejarahan melalui perspektif biografi personal, dan perjalanan proses kreatif yang berkaitan dengan posisi serta sumbangsih seniman pada jamannnya.

Semsar Siahaan adalah ikon seniman yang dekat dengan isu-isu sosial politik di Indonesia. Ia menempatkan seni sebagai upaya pembebasan masyarakat dari kemiskinan dan ketidakadilan. Keindahan seni justru muncul dari upaya pembebasan yang dilakukan oleh seniman. Pada 1981, Semsar menggegerkan dunia seni rupa Indonesia dengan mengabukan patung karya Sunaryo, gurunya. Karya itu baru saja kembali dari pameran seni patung internasional di Fukuoka, Jepang. Semsar membakar hangus patung itu, membungkusnya dengan daun pisang, dan menyajikan nasi kuning. Ia menyebutnya “seni kejadian” dan kena skors dari kampus. Bagi Semsar, seni modern Indonesia memuja keindahan estetik. Para seniman memanipulasi seni tradisi untuk kepentingan ego mereka sendiri. Estetika modern ini abai terhadap kenyataan sosial di negeri sendiri, yang sebagian besar terdiri atas kaum agraris miskin (petani dan nelayan). Pada masa Orde Baru, hak-hak dasar rakyat itu dihilangkan dan kemanusiaan mereka ditindas. Semsar meninggal dunia pada 25 Februari 2005 di Bali dan dibawa ke Jakarta untuk disemayamkan di Taman Ismail Marzuki, dan kemudian dimakamkan di Bengkel Teater yang terletak di belakang rumah Rendra.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.