Made of: Stories of the Material

Oleh Dwi Rahmanto

5 Mei 2018 di Yogyakarta menawarkan beberapa pembukaan pameran dalam waktu hampir berbarengan, selain yang paling dekat dengan Galeri Lorong yaitu Gadjah Galeri dengan pameran seni rupa dan performance art, Medium at Play. Dari sekian banyak pameran seni rupa di bulan April – Mei, saya tertarik datang ke pameran Made of: Stories of the Material, pameran ini di gagas oleh Galeri Lorong. Galeri Lorong merupakan salah satu galeri seni yang didirikan oleh Alloysius Suko Widigdo, Maria Ambar Sulistyowati dan Yoshi Fajar Kresno Mukti. Galeri yang didirikan di akhir tahun 2013 ini merupakan ruang pamer yang menjadikan kriya sebagai konsep dan titik tekan. Galeri ini berlokasi di Dusun Jeblok, RT 01, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, atau jalan utama Kampung Nitiprayan dan Jeblok. Dusun yang memang dikenal sebagai dusun seniman, karena banyaknya seniman yang bertempat tinggal di situ.  

Pameran dibuka pada pukul 5.30 WIB oleh Arham Rahman (kurator Galeri Lorong) dan Adelina Luth (Kurator lepas). Pameran ini juga merupakan kerjasama dengan ARCOLABS, yang berdiri tahun 2014 sebagai The Center for Art and Community Management yang merupakan bagian dari Universitas Surya di Tangerang.Project kerjasama ini mengundang lima perupa muda dengan pendekatan karya yang beragam. Mereka adalah Abud Andri William, FJ Kunting, Gintani Swastika & Yahya Dwi Kurniawan, Julian Abraham ‘Togar’, Yosefa Aulia. Mereka bukanlah seniman yang bermain di ranah seni kriya, tetapi nampaknya justru menjadi tantangan tersendiri. Juga dalam pameran ini tidak menampilkan secara spesifik apa itu kriya, tetapi mengambil gagasan-gagasan seni kriya dalam bentuk seni rupa kontemporer. Dalam sambutanya, Arham berkata bahwa pameran ini berangkat dari pemahaman bahwa praktik-praktik kerajinan tidak hanya tunduk pada materialitas, tetapi lebih pada aspek relasional dari prosesnya. Pameran bersama ini mengeksplorasi tiga elemen inti kerajinan sebagai cara berpikir dan membuat -bahan, asal-usulnya, dan prosesnya tersirat- untuk mengungkapkan cerita yang tak terhitung jumlahnya dari dimensi sosial dan budaya yang melekat.

Hal ini terlihat dalam presentasi karya yang beragam, mulai dari instalasi, performance art, keramik, video dan sebagainya. FJ Kunting dalam pembukaan mempresentasikan karya instalasi dan performance art. Kunting menciptakan alat untuk membuat batu cincin, dan memajang berbagai model batu dan bentuk cincin yang sudah siap di pakai. Proses membuat batu cincin ini dipadukan dengan efek-efek suara, yang kemudian memunculkan narasi suara-suara beragam, saling beradu baik dari alat pembuat batu cincin hingga interaksi Kunting saat melakukan performance art. Perpaduan alat manual membuat batu akik dan sound noise/delay menggambarkan bagaimana situasi saat itu dengan dinamika yang sangat mengambang.

Dalam wawancara saya dengan Kunting, dia menjelaskan banyak aspek pencarian data dan cerita soal batu akik. Mulai dari booming yang terjadi di berbagai kelas ekonomi masyarakat hingga cerita soal batu akik pacitan yang dijadikan pemberian kepada Barack Obama, oleh SBY sewaktu keduanya merupakan presiden hingga eksploitasi alam. Kemudian Togar juga bermain-main dengan efek suara. Dari karyanya, dia berbentuk Gong dan Air, suara bergema yang muncul saat suara gong di dalam air cukup menggelitik, seperti suara bergerumuh saat gempa. Eksplorasi lain yang bisa dijumpai dari kolaborasi Gintani Yahya yang menarasikan sejarah minuman keras oplosan dengan nama “Santoso”, yang sangat terkenal di kalangan Yogyakarta dan sekitarnya di tahun 2008.

Pameran ini merupakan satu dari serial program berjudul ‘Back to Craftmanship Series’, Galeri ini berupaya mempertemukan praktik seni kontemporer dengan pendekatan kriya. Seniman-seniman yang dipilihnya merupakan seniman lintas generasi, dengan bermacam pendekatan, yang sengaja dihadirkan agar muncul percakapan dan pertukaran pengetahuan. Di awal kehadirannya pun, galeri ini juga sempat menghadirkan karya-karya dari seniman yang dekat dengan pendekatan tradisi, seperti seniman wayang Sulasno, pelukis kaca yang sangat kuat dalam bertungkus lumus dengan mediumnya.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.