Manifesto 6.0: Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi

Oleh Hardiwan Prayoga

Tim arsip IVAA yang diwakili oleh Hardiwan Prayoga dan M. Hanif Arikhoh (Kawan Magang IVAA) berkesempatan untuk mengunjungi beberapa pameran di Jakarta pada 7-10 Mei 2018 lalu. Salah satunya adalah pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional, yaitu Manifesto 6.0: Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi. Manifesto adalah pameran dwi tahunan yang dimulai sejak tahun 2008. Untuk gelaran keenam ini, yang bertepatan dengan momentum 20 tahun reformasi, pameran ini menghadirkan tajuk “Multipolar; Seni Rupa Setelah 20 Tahun Reformasi”. Menghadirkan tidak kurang dari 60 seniman, karya-karya yang dipamerkan adalah yang dianggap mewakili perkembangan dan penanda zaman atas 20 tahun reformasi. Maka kesan pertama yang akan muncul adalah keragaman atas tema, narasi, hingga pilihan medium karya. Inilah yang sedikit banyak menjadi latar belakang atas dipilihnya Multipolar sebagai judul pameran Manifesto edisi ini.

Pameran yang menggunakan 4 gedung Galeri Nasional mempresentasikan tidak hanya karya seni, tetapi juga Lini Masa Peristiwa Seni Rupa 1990-2017, lebih tepatnya terletak di pintu masuk Gedung A. Menandai tidak hanya peristiwa seni seperti semaraknya gerakan dan kelompok seni kolektif dan pameran seniman indonesia di luar negeri, tetapi juga terbukanya akses teknologi yang melahirkan google hingga youtube, dan fenomena budaya pop seperti lahirnya MTV (Music Television) hingga kematian Michael Jackson.

Dalam hal karya seni, meski bertema seni rupa setelah 20 tahun reformasi, karya terlama yang dipamerkan berasal dari tahun 2012, yaitu The Procces #1, merupakan seni instalasi karya I Wayan Upadana. Selebihnya didominasi karya yang lahir tahun 2016-2018. Secara tema dari setiap karya, akan sangat sulit untuk ditarik satu kesimpulan. Hal ini disebabkan beragamnya isu yang diangkat dalam setiap karya, mulai dari populisme agama karya Jauh Di Hati Dekat Di Mata dari Rudy Atjeh D., kritik terhadap kapitalisme dan indutrialisasi yang terlihat dalam Hore karya Farid Stevy Asta, im obsessed with these culture but i hate it karya Muklay, dan Ketagihan Dikibulin Bandar karya Syaiful Ardianto, yang sangat personal yaitu seni instalasi interaktif karya Putri Ayu Lestari tentang pengalaman menjadi joki three in one yang berjudul Joki-Jokian, dan Photo Shoppu Scrinium karya Nurrachmat Widyasena, hingga lukisan abstrak Menjaga Sunyi yang Perlahan Liar karya Iabadiou Piko. Sebaran tema ini pada dasarnya cukup menarik bagi pengunjung, meski harus diakui pada akhirnya publik akan kesulitan mencari narasi utama dari seni rupa pasca orde baru ini selain kata keragaman atau yang oleh pameran ini dibahasakan sebagai Multipolar. Terlebih karya yang ditampilkan juga hanya dalam rentang waktu 2012-2018.

Merujuk pada catatan kuratorial, seniman yang dipilih dalam pameran ini adalah mereka yang proses karir berkeseniannya dimulai pasca 1998, dan yang dianggap cukup mewakili semangat zaman. Pasca reformasi, selalu ada pertanyaan reflektif seputar kesadaran dan laku seni apa saja yang tengah berlangsung dari generasi yang lahir pada tahun 80-an ke tahun sesudahnya? Pameran ini nampaknya lahir dari gagasan kurasi untuk menghadirkan arkeologi karya-karya seniman pasca 98. Menarik untuk ditandai adalah terjadi berbagai pemikiran dan praktik yang beragam, terutama karena pengaruh dan dinamika sosial budaya melalui lingkungan media dan teknologi.

Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Mei-Juni 2018.