[sorotan pustaka] Kelola Seni: Lukisan, Wayang, Film Hingga Jazz

Penulis : Arinta Agustina Hamid, Citra Aryandari, Indiria Maharsi, Irwandi, Kasidi Hadiprayitno, M. Dwi Maryanto, Mikke Susanto, Sumaryono, Timbul Raharjo
Penerbit : Ombak
Tebal : X+137 Halaman
Ukuran : 16 X 24 Cm

Nomor panggil IVAA Library: 701 Mar K

Oleh Khanza Putri  (Kawan Magang IVAA)

Buku ini adalah kumpulan dari 9 tulisan yang berbicara dalam disiplin tata kelola seni. Bisa disebut sebagai salah satu wantah atas perkembangan dunia seni, ranah tata kelola menjadi bahasan yang semakin banyak dibicarakan. Manajemen seni semakin dibutuhkan karena secara filosofis, pengelolaan seni mengalami sublimasi pemikiran dari ranah teknik menuju seni sebagai strategi pemikiran. Sehingga, mengelola seni bukan saja persoalan bersifat fisik seperti penataan ruang, pemasangan karya, menyosialisasikan karya tapi juga meliputi strategi dalam mengolah persepsi, imajinasi dan intuisi penonton. Lebih jauh lagi, dunia manajemen seni juga dapat difungsikan sebagai pencipta tren, style maker, penggubah peristiwa sampai sebagai analis budaya.

Penyunting menganggap bahwa sembilan artikel yang ada di dalam bunga rampai ini memerlukan klasifikasi khusus. Buku ini tidak bisa digolongkan dalam dua klasifikasi seperti Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, karena masing-masing artikel memiliki keterkaitan antar jenis kesenian. Maka dari itu buku ini terbagi menjadi dua bagian yakni bagian pertama yang membahas ranah teoritis dan bagian kedua yang membahas ranah empiris. Tulisan mengenai ranah teoritis memuat empat tulisan yang ditulis oleh M. Dwi Marianto, Sumaryono, Kasidi dan Mikke Susanto. Sedangkan tulisan mengenai ranah empiris, akan memayungi isu yang menjadikan jenis seni tertentu atau perhelatan khusus sebagai kasus dalam penelitian atau kajian tersebut. Lima tulisan itu ditulis oleh Timbul Rahardjo, Citra Aryandari, Irwandi, Miria Maharsi, dan Arinta Agustina Hamid.

Semua artikel di buku ini menarik karena disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan mengangkat peristiwa ataupun karya yang masih hangat di masyarakat. Seperti misalnya tulisan “SITI: Ketika Film Indie Bertarung di Pasar Mainstream”, ditulis oleh Arinta Agustina Hamid. Menceritakan bagaimana SITI yang mengusung spirit independen, lebih populer dengan sebutan film indie. Mencoba mematahkan stigma bahwa film indie sulit bahkan tidak akan pernah memasuki pasar mainstream. Strategi dan format pemasaran film SITI dikupas oleh penulis untuk memahami bagaimana SITI bisa bermain di pasar mainstream dan meraih banyak penghargaan baik di dalam dan luar negeri. Penulis memaparkan bahwa film ini didistribusikan melalui kantong-kantong komunitas, bioskop alternatif, hingga festival. Pergerakan distribusi melalui jalur festival paling banyak ditempuh karena dinilai akan memberikan poin lebih terhadap karya mereka. Terbukti setelah film SITI melanglang buana di berbagai festival, berbagai tulisan yang mengulas baik dari juri, pengamat, kritikus film membawa perjalanan SITI masuk pasar mainstream.

Gaya penulisan yang mudah dimengerti juga tampak dalam tulisan teoritis di bagian pertama. Tulisan “Kesadaran Sebagai Subjek”, dibuka oleh M. Dwi Marianto yang mengeluhkan gersangnya jalan utama di kawasan Bantul, terutama semenjak Pemda Bantul menginstruksikan penebangan pepohonan di sepanjang jalan. Dalam tulisan ini, M. Dwi Marianto menyampaikan bahwa seseorang yang bermental subjek adalah orang yang berani memimpikan sesuatu dan berusaha mewujudkannya. Penulis kemudian mengkritik mental “wis ngene wae ra papa” (sudah begini saja tidak apa-apa) yang terjadi di aktivitas pameran membuat penyelenggara kurang memperhatikan perbaikan hal-hal kecil yang kerap terjadi seperti pengunjung yang merokok di dekat karya, sound system yang baik tidak disediakan, orang-orang yang seenaknya berbicara dan bergurau saat sambutan yang seharusnya suasana hening dan sebagainya. Di bidang penciptaan, pengkajian, dan tata kelola seni seseorang yang bermental subjek adalah seorang pelaku yang berani merencanakan, mencari upaya dan jalan untuk merealisasikan hal yang digagas.

Secara keseluruhan buku ini cukup memberikan gambaran awal kajian teori dan praktik tata kelola seni, sekaligus “berita” tentang tren pemikiran manajemen seni. Buku ini bisa membantu mahasiswa, pegiat, pecinta, dan segala pilar yang berada di ruang seni-budaya, sosial, manajemen, komunikasi, hingga permuseuman. Mengenali tata kelola seni berarti juga mengenali “medan tempur” dunia kesenian.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.