[sorotan pustaka] Henk Ngantung, Saya bukan gubernurnya PKI

Penulis : Obed Bima Wicandra
Penerbit : CV Budi Utama
Tebal : XXVI,154 Halaman
Ukuran : 14×20 cm

Oleh: Santosa

Buku ini merupakan hasil dari penelitian-penilitian riwayat Gubernur DKI Jakarta, yang pada khususnya Henk Ngantung, dengan nama lengkap Hendrik Joel Hermanus Ngantung. Buku ini menggunakan rujukan primer catatan pers. Awal buku ini menceritakan ikhwal perjalanan berkesenian Henk Ngantung. Henk di usia 15 tahun sudah menekuni satu bidang seni rupa, orang pada zaman itu menyebutnya “Tukang Gambar”. Di usia sebelia itu, dia sudah berpameran atas dorongan guru dan mantan kepala sekolah, menjual lukisan dari rumah ke rumah. Ketekunan dan etos kerja ini yang mengantarkannya ke Jakarta. Dalam perjalanan berkesenian, kematangan seni gambarnya diperoleh dalam rentang tahun 1937-1940 saat menetap di Bandung. Di sini Henk belajar melukis, satu satunya murid dari Professor Zrudolf wengkart, seorang akademisi dan pelukis dari Wina, Austria. Juga di kota Bandung-lah Henk berkenalan dengan pelukis besar Affandi, yang kemudian mengantar lukisannya pameran di toko milik orang Italy di jalan Braga. Henk termasuk salah satu dari sedikit kaum bumiputra yang berkesempatan pameran di sana.

Tahun 1940 Henk Ngantung hijrah ke Jakarta mengikuti pameran pameran yang diselenggarakan oleh Gabungan Lingkaran Seni Batavia, sejak didirikan 1916 banyak melukis pemandangan dan potret diri. Henk menjadi bagian dari kelompok Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi ) yang dimotori oleh S. Sudjojono, seiring itu didirikan Pusat Kebudayaan oleh penguasa Jepang di Indonesia yang dinamakan Keimin Bunka Sidhoso. Pada periode yang sama, tahun 1942 Henk ikut menandai Pameran Besar Seni Lukis. Salah satu karya karya terbaik yang mendapat penghargaan adalah Henk Ngantung. Pada tahun 1943 membuat karya monumental yang menjadi saksi revolusi Indonesia Karya dengan media tripleks berukuran 152 cm x 152 cm berjudul Memanah. Karya ini mengantar kedekatan Henk dengan Sukarno.

Henk juga berorganisasi dan terjun ke dunia politik. Tahun 1959 di Solo, Henk tercatat sebagai sekretaris Umum Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sedangkan di salah satu bidang Lekra, yaitu Lembaga Seni Rupa (Lesrupa) Henk menjabat sebagai ketua. Selain itu juga menjadi anggota Dewan Nasional yang kemudian berganti nama menjadi Dewan Pertimbangan Agung. Namanya perlahan merangkak dan menjadi panitia anggota Sayembara Tugu Nasioanal yang melibatkan seniman – seniman Lekra. Sayembara ini banyak ditentang oleh oposan Sukarno. Kemudian Henk menjadi anggota parlemen Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Henk Ngantung juga merupakan anggota parlemen dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal tersebut membuktikan bila Henk lihai dalam melukis tetapi juga piawai dalam berorganisasi, terutama politik.

Henk Ngantung menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta selama 3 tahun setelah ditunjuk oleh Sukarno. Henk kemudian menjadi gubernur selama 9 Bulan, diberhentikan menjadi Gubernur pada bulan Juli 1965, dan Dr. Soemarno (Gubernur lama) kembali menjabat sebagai Gubernur yang kali ini dirangkapnya dengan jabatan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah sejak 16 Juli 1965. Dalam buku ini tidak disebutkan secara jelas mengapa Henk diberhentikan menjadi Gubernur, hanya disebutkan karena tenaga dan pikiran Henk diperlukan pada bidang lain.

Dalam masa baktinya yang singkat, Henk berkontribusi dalam capaian artistik tata kota, tentu saja ini merupakan buih dari latar belakangnya sebagai seniman. Henk terlibat dalam perencanaan pembuatan Patung Selamat Datang yang berdiri megah di depan Hotel Indonesia (HI) tahun 1959. Patung yang dibuat dalam rangka Asian Games 1962 dimana Indonesia menjadi tuan rumah. Patung yang terletak dibundaran HI dengan tinggi 20 meter. Dengan ide dari Sukarno, sketsa dikerjakan oleh Edhi Soenarso, Trubus dan Henk Ngantung. Pengerjaan dilakukan oleh Edhi Soenarso dengan pengawas Henk Ngantung. Landskap lain yang dibuat dalam periode kepemimpinan Henk adalah pembuatan air mancur tahun 1962. Termasuk pembuat lambang baru Provinsi DKI Jakarta. Diawali dengan diadakannya sayembara yang diikuti 93 peserta, namun tidak ada satupun yang masuk kriteria. Akhirnya Henk menangani sendiri pembuatan lambang Jakarta Raya dengan ilustrasi Jakarta sebagai kota revolusi, kota proklamasi kemerdekaan, dan Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain di ranah artistik, pembangunan dibidang ruang publik, industri dan birokrasi juga dilakukan. Mulai dari pembenahan kawasan kumuh, mendorong dibangunnya rumah-rumah sederhana untuk ditempati masyarakat kurang mampu, membangun Masjid Istiqal, Kantor Pencatatan Sipil, dan Kantor Perekonomian. Proyek pembangunan Jakarta by Pass, meskipun praktiknya terjadi penggusuran penggusuran yang pastinya menimbulkan kecaman dari masyarakat. Industrialisasi dan modernisasi pasar-pasar tradisional diwujudkan dengan renovasi pasar menjadi lebih modern. Melakukan sensus industri yang diharapkan akan menjadi proyek percontohan kota-kota besar di Indonesia, Sensus industri ini meliputi perusahaan Industri kecil maupun besar, asing maupun dalam negeri, milik pemerintah ataupun swasta. Ide-ide ini diperoleh dari lawatan Henk ke luar negeri, dengan menyediakan fasilitas hiburan bagi masyarakat Jakarta, salah satunya mendirikan Nigcht Club dan departement store.

Henk Ngantung diberhentikan menjadi Gubernur pada bulan Juli 1965. Pasca Gerakan 30 September 1965 nama Henk Ngantung tidak luput dari pemeriksaan militer, walaupun tidak pernah sampai mendekam di balik jeruji besi. Cap komunis karena keterlibatannya secara aktif di Lekra yang merupakan underbow PKI mau tidak mau tetap melekat. Henk tinggal di rumah kecil di gang Cawang, Jakarta Timur hingga akhir hayatnya di bulan Desember 1991. Kehadiran buku ini menjadi salah satu upaya untuk berkontribusi dalam penulisan sejarah. Henk Ngantung sebagai seniman yang terlibat aktif dalam politik dan pernah memiliki jabatan strategis di pemerintahan, tidak banyak dibekukan kiprahnya baik di bidang politik maupun seni.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.