Musrary #9 Rio Satrio

Oleh: Dwi Rahmanto

Rio Satrio, sejujurnya nama ini masih asing di kancah musik Jogja. Tetapi setelah mendengarkan karyanya, saya yakin musisi ini layak diapresiasi lebih. Dikenal dengan nama panggung Rio Satrio, singer-songwriter asal Samarinda kelahiran 21 Januari 1994 ini bernama asli Muhammad Janwar Rien Satrio. Memulai karir bermusik di usia muda dengan bergabung di berbagai band bermacam aliran. Rio akhirnya menemukan jalur terbaiknya dengan bersolo karir.

Malam 19 Februari 2018 lalu menjadi spesial bagi Musrary #9 dengan kehadiran Rio Satrio. Kali kedua berkunjung ke Yogyakarta sekaligus melakukan mini tour dan mini konser di sejumlah gigs Jogja. Berpakaian serba hitam, dan konser mini dimulai dengan cerita dongeng tentang pengembara dan hujan, juga sosok pria tua dan gubug yang sangat jelek. Dalam kisahnya pengembara dan pria tua saling bertanya setelah melihat hujan sangat lebat, dalam gubug tidak layak huni itu si pengembara melihat si pria tua sangat bahagia dan berteriak. Pria tua sepakat bahwa hujan membawa keberuntungan bagi tanah kita, dan gubug yang hancur bisa dibuat lagi hingga ratusan kali.

Rio Satrio telah merilis sebuah album berjudul Cerita Daun dan Bumi, single dengan judul yang sama menjadi andalan album pertamanya ini. Sisanya berisi 8 single yang menarik untuk didengarkan. Rio membawakan musik folk yang sederhana namun kaya nada. Lirik lagu yang diciptakan biasanya bercerita tentang pengalaman pribadi, kisah orang-orang terdekat, persoalan dan pelajaran hidup, serta kecintaan pada alam. Di akhir mini konsernya, Rio ditantang untuk membuat lagu secara spontan tentang apapun, khususnya yang dia temukan di Rumah IVAA. Lagu dadakan tentang IVAA menjadi penutup meriah dan semakin mencairkan suasana, dibalas dengan tepuk-tangan panjang dan bahagia hadirin Musrary kali ini.

Artikel ini merupakan rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.