[sorotan dokumentasi] Pameran Tunggal Alie Gopal: Main

Oleh: Sagita Rani (Kawan Magang IVAA)

“Main, Bermain, Main-Main” adalah tema dari pameran tunggal Alie Gopal yang diselenggarakan pada 15 Maret – 22 Maret 2018 di Taman Budaya Yogyakarta. Alie adalah perupa yang terakhir kali berpameran tunggal pada tahun 2008. Semenjak itu, Alie merasa memiliki hutang yang harus dilunasi. Berawal dari celotehan beberapa teman saat pembukaan pameran tunggalnya Januari 2008 lalu, bahwa mungkin Alie bisa berpameran tunggal dengan karya-karya khasnya sepuluh tahun lagi. Kalimat itu terngiang terus dalam benaknya, Alie terus berupaya untuk merealisasikannya.

Akhirnya Maret 2018 ini, Alie berhasil melangsungkan pameran tunggal ketiganya, seperti apa yang dibayangkannya sepuluh tahun silam. Pameran bertajuk Main ini menceritakan tentang dunia Alie bermain-main. Bermain dalam berbagai presentasi karya seni rupa dua dan tiga dimensi, dengan medium dan ukuran yang beragam tersaji dalam pameran ini. Karya-karya ini dibuat dalam rentang waktu sepuluh tahun, dari 2008 hingga 2018. Dalam hal karya, Alie mengakui jika dirinya lebih nyaman dengan cara berkarya yang bebas dan tidak berpatok. Ia mengaku sangat senang bereksperimen dengan berbagai media. Bereksperimen melalui berbagai media rupanya telah di lakukan oleh Alie jauh sebelum menjadi seorang seniman. Sejak kecil ia mengakui sering membuat benda-benda di rumahnya menjadi bahan eksperimen. Sedikit banyak inilah yang mengilhami judul dan tema pameran tunggalnya kali ini. Alie bercerita bahwa dengan orang tua berlatar belakang militer, sulit baginya untuk tidak mendapat penolakan keras tentang kecintaan dan gairahnya pada dunia seni. Hingga akhirnya, Alie bersekolah di Yogyakarta untuk mendalami seni rupa, perlahan-lahan dukungan dari keluarga datang juga, hingga akhirnya keluarga kemudian sangat mendukung karirnya.

Jarak tahun antar pameran tunggal yang cukup jauh ini disebabkan oleh berbagai macam alasan. Di samping Alie tetap berusaha konsisten dengan setiap hari terus menerus menghasilkan karya berbentuk apapun. Tetapi, banyaknya ajakan pameran bersama membuatnya bimbang, di satu sisi tidak ingin dianggap sombong jika menolak ikut serta, di sisi lain dia harus mengumpulkan karya untuk pameran tunggal yang sudah dijanjikan pada dirinya sendiri. Adanya kesadaran bahwa eksistensi seorang seniman harus tetap terwujud dalam karya-karyanya, membuat Alie memutuskan beberapa kali “mencomot” karya yang sudah disiapkannya untuk diikutsertakan dalam beberapa pameran bersama.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini pula, Alie lebih sering berperan sebagai partner seniman berkarya. Saat mengikuti pameran bersama pun, karya Alie lebih sederhana dan tidak terlalu mencolok jika dibandingkan dengan karya-karya seniman lainnya. Membantu kawan-kawannya untuk mempersiapkan karya dan pameran dalam diskusi yang insentif, bisa jadi membuat Alie kehilangan banyak waktunya sendiri untuk berkarya. Namun, Alie mengakui justru ini adalah proses mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman untuk menghasilkan karya-karya baru. Pameran tunggal ketiganya ini merupakan perwujudan dari proses panjang dan berliku ini, dengan tetap meletakkan imaji-imajinya yang khas.

Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Maret-April 2018.