Musrary Edisi ke-6: Slipping Pills

Oleh: Wimpy Nabila F.Z. (Peserta Magang IVAA)

Di akhir Januari ini, menonton konser musik “Musrary” menjadi salah satu alternatif hiburan.  Musrary (Music Library) merupakan program rutin bulanan yang diadakan oleh IVAA. Konsep yang disajikan pada acara ini ialah eksplorasi suara, visual, kolaborasi dengan seniman dan sebagainya untuk merespon ruang perpustakaan IVAA.

Pembeda Musrary dengan acara konser musik lainnya adalah tidak ada pembatas antara penonton dengan performer. Artinya penonton dipersilahkan bertanya dan mengulik tentang karya atau bahkan proses berkarya musisi performer di setiap jeda pertunjukan.

Musrary sempat off selama 2 bulan, akan tetapi pada bulan Desember Musrary kembali  mengadakan pertunjukan dengan menghadirkan Slipping Pills. Mengaku sebagai sebuah ruang untuk bermain dan bergembira, menyiasati dunia yang semakin tua. Dibentuk pada tahun 2011 oleh musisi Teguh Hari Prasetya dan Purnawan Setyo Adi. Slipping Pills beranggotakan Teguh Hari Prasetya (Vokal dan Bass), Hengga Tiyasa (Gitar), Aga Yoga Perkasa (Gitar), dan Gendra Wisnu Buana (Drum). Pada tahun 2012 Slipping Pills telah merilis mini album pertamanya “Kpd. ytc. Lies”.

Dengan dekorasi payung-payung di panggung yang sederhana, menambah kesan teduh malam itu. Slipping Pills membuka pertunjukan dengan lagu yang berjudul “69 di 98”, dianggapnya sebagai lagu politis karena berkaitan dengan negara. Penonton terlihat khidmat menghayati setiap lagu yang dinyanyikan oleh Teguh sang vokalis yang sesekali menghisap rokok. Suasana pecah gelagak tawa penonton menyambar ketika masing-masing personil unjuk kebolehan memainkan alat musiknya. Pesan-pesan yang disampaikan di setiap lagu Slipping Pills sangat dalam.

Dalam Musrary kali ini, Slipping Pills membawakan kurang lebih 8 lagu. Yang menarik adalah ketika Teguh menyampaikan petuah kepada penonton bahwa “Cinta beda agama bukan bagaimana cintanya tapi bagaimana negara sudah masuk ke dalam ranjangnya”. Bisa dibilang lagu-lagu mereka merupakan lagu pemberontakan, salah satunya dengan mengangkat isu terkait pernikahan beda agama di negara Indonesia yang tidak diterima secara sah. Lirik-lirik yang dihadirkan sebagai sindiran, sekaligus pembelaan bagi para penikmatnya.

Di akhir pertunjukan, di tutup dengan penampilan Teguh bernyanyi solo membawakan lagu yang baru saja dibuatnya pagi hari sebelum pertunjukan Musrary dan diberinya judul “perselingkuhan” yang menurut dia sangat zaman now.

 

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.