Diskusi: Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Pada Jumat, 19 Januari 2018 di Rumah IVAA pukul 15.30, digelar diskusi dengan tajuk “Europalia dan Wacana Pseudo Internasionalisme”. Diskusi tersebut membicarakan dinamika keterlibatan Indonesia di Europalia, sebuah festival budaya dan seni internasional yang diselenggarakan di Belgia dan negara-negara tetangga. Perwakilan seniman dan kurator yang terlibat, yakni Agung Kurniawan, Hestu Setu Legi, Sita Magfira dan Agung ‘Geger’ Firmanto (Lifepatch), serta Alia Swastika hadir sebagai pembicara. Irham Nur Anshari hadir sebagai moderator.

Setelah dibuka oleh Irham, Alia mengawali diskusi ini dengan memberikan penjelasan singkat tentang Europalia. Alia mengatakan bahwa Europalia merupakan acara atau misi kebudayaan untuk kesenian Indonesia di luar negeri. Sebelum Europalia, Indonesia pernah menyelenggarakan misi kebudayaan demikian, 25 tahun silam di era Soeharto pada 1990-1991 dengan nama Pameran KIAS (Kebudyaan Indonesia di Amerika Serikat). Jika KIAS merupakan inisiatif dari pemerintah, Europalia berbeda. Indonesia menjadi negara Asia keempat yang diundang oleh Eropa untuk menjadi tamu setelah Turki, India, dan Cina. Semua pameran dikuratori oleh dua pihak, yakni Indonesia dan Eropa. Bagi Alia, keterlibatan negara dalam situasi globalisasi ini menjadi hal yang menarik.

Namun, bicara soal keterlibatan, Alia menyayangkan adanya ketimpangan dialog, ketika kurator Barat dalam perumusan pameran sudah menawarkan tiga kata kunci konsep yang sulit ditembus. Tiga kata tersebut adalah Archipelago (ke-nusantara-an), Ancestor, dan Biodiversity. Pembiayaan acara yang diberikan oleh Indonesia sekitar 70-80% tidak sebanding dengan keseimbangan perdebatan antara kurator Indonesia dan Barat. Gagasan kurator Indonesia terkait konsep pameran tidak diakomodasi lebih lanjut.

Kemudian Alia sedikit menceritakan pengalamannya ketika menjadi kurator di beberapa pameran saat itu. Salah satunya adalah pameran dari Iswanto Hartono yang digelar di Oude Kerk, salah satu gereja tertua di Amsterdam. Bentuk karyanya adalah patung lilin J. P. Coen, pahlawan besar Belanda, yang dinyalakan di salah satu ruang gereja. Melalui karya ini Iswanto mencoba mengulik koneksi sejarah antara Oude Kerk, yang terkenal sebagai monumen para pahlawan (penjajah); simbol etnosentrisme Eropa pada abad ke-17, dengan masa kolonialisme di Banda. Karya yang dibuat oleh Iswanto ini bisa dilihat sebagai pernyataan politik, apalagi ketika patung lilin J. P. Coen yang dibakar menjadi pembicaraan media nasional dan para akademisi di sana.

Pameran kedua yang diangkat adalah On Paradise yang dibuat oleh Jompet Kuswidananto. Jompet mencoba mencari hubungan antara agama dan politik dengan membuat karya lampu gantung dengan cahaya yang gemerlap. Alia mengatakan bahwa konsep dari karya ini berangkat dari fenomena pemberontakan di Banten pada 1888. Sedikit tentang anti modernisme, tetapi sebenarnya lebih kepada keinginan untuk membangun surga yang utopis. Juga yang menarik adalah ketika masuk ke ruang pameran ini, pengunjung seolah tidak melihat fakta sejarah. Mereka hanya melihat karya visual yang dipamerkan.

Selain Iswanto dan Jompet, Agung ‘Geger’ Firmanto dari Lifepatch juga turut serta memamerkan karya yang dikuratori oleh Alia. The Tale of Tiger and Lion menjadi judul pameran mereka. Melalui pameran ini Sita Maghfira mengatakan bahwa Lifepatch mencoba mengulik hubungan antara dua tokoh kunci sejarah Kolonial Belanda di Indonesia – Hans Christoffel dan Si Singamangaraja XII. Dengan menggabungkan artefak sejarah, materi arsip, dan karya seni, mereka menyampaikan hasil penelitian mereka terhadap koleksi Christoffel (artefak jajahan yang ia bawa ke Belgia) dan temuan di lapangan, yakni daerah Toba, Sumatera Utara. Geger juga menambahkan bahwa Lifepatch ingin menghadirkan narasi sejarah versi pemenang (pemerintah dan akademisi), dan versi lain yang muncul dari kebiasaan atau adat tanah Toba. Sita menambahkan bahwa melalui proyek ini Lifepatch menjadi belajar lebih banyak tentang sejarah, bahwa narasi sejarah tidak pernah tunggal.

Tidak ketinggalan, Hestu Setu Legi juga turut memberikan kontribusi pada ajang internasional ini. Melalui koridor Performance Club, Hestu merespon landscape yang ada di ruang pamer dan sekitarnya. Sesuai ciri khasnya, dengan menggunakan tanah liat untuk membuat mural bentuk pohon lambang kesuburan, situasi industri yang terinspirasi fenomena Kendeng, dan lain-lain.

Di koridor lain, Power and Other Thing, Agung Kurniawan juga memamerkan karyanya. Charles Esche menjadi salah satu kurator yang bekerja bersama Agung untuk proyek ini. Dengan bentuk video mapping, Agung menghadirkan kembali karyanya yang berjudul Gejolak Malam Keramat yang bicara isu ‘65. Apa yang menarik dari karya Agung adalah, ia memilih ruang bawah tanah sebagai lokasi pameran. Bagi dia ruang bawah tanah dimaknai sebagai tempat para tikus bersarang; juga seperti mausoleum (kuburan orang-orang Yahudi), yang mencerminkan perjuangan harkat kemanusiaan. Dalam karya ini, Agung berusaha memaknai koneksi konteks ’65 dengan Eropa yang ternyata ada secara geopolitik.

Setelah cukup lama para pembicara membagikan pengalamannya, sesi diskusi mulai dibuka. Sebuah pertanyaan menarik muncul dari Ngakan Made Ardana. Ia mempertanyakan istilah pseudo yang dipakai; apa yang sebenarnya ingin disampaikan? Kegagalan Europalia? Atau apa?

Pertanyaan tersebut direspon oleh Alia dengan cerita pengalamannya ketika berdebat dengan para kurator Barat. Baginya, label internasional yang disandang Europalia tidak sesuai dengan keterbukaan terhadap kebudayaan lain secara faktual. Alia mengatakan, “Selama proses, standar-standar mereka sulit ditembus.” Maka globalisasi seni tidak terjadi dan konsep internasionalisme yang dibangun masih kuno.

Sedikit berbeda dengan respon Agung yang mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang lain. Ia mengatakan bahwa secara strategis, tujuan dari festival ini belum nampak jelas. Diplomasi kebudayaan yang terlihat perlu untuk diulik lagi. Namun, ada aspek yang cukup melegakan ketika tidak ada batasan untuk seniman yang terlibat. Buktinya, beberapa seniman bisa membuat karya yang cukup sensitif.

Menyambung pembicaraan yang cukup serius ini, Nindityo Adipurnomo ikut bertanya, “Bagaimana dialog bilateralnya? Pertanyaan itu muncul atas kecurigaan terhadap kecenderungan-kecenderungan negara ‘penjajah’ yang ingin mengembalikan artefak-artefak yang telah dicuri. Padahal kita hidup di jaman komunikasi virtual, tapi barang-barang curian itu hendak dikembalikan; barang-barang yang sudah tidak punya konteks. “Ini sama saja menghidupkan mitos yang sudah mati,” ungkap Nindityo. Geger kemudian merespon kegelisahan Nindityo dengan sebuah dialognya bersama Opung Bakara ketika melakukan studi lapangan di Tanah Toba. Ada tiga pandangan dari Opung Bakara terkait artefak dalam konteks kolonialisme dan masa sekarang. Menurut Opung Bakara ada tiga bentuk aktivitas membeli suatu barang: membeli barang dengan membayar, membeli barang dengan barter, dan membeli barang dengan membunuh/ merampas. Bagi beliau, bentuk yang ketiga itulah yang harus diungkap. Bukan persoalan barang, tetapi lebih kepada hal membunuh atau merampas-nya.

Diskusi semakin terkesan serius ketika Linda Mayasari memberikan kritik terhadap para seniman yang terlibat. Berangkat dari pengalamannya yang melihat pameran tersebut secara langsung, ia mengatakan bahwa, “Seniman-seniman di sana dijadikan arkeolog, di-etnografis-kan.” Bagi dia wacana kolonialisme yang masih berkembang kurang diangkat. Agung pun merespon kritik Linda tersebut dengan cukup tegas, bahwa arkeologi itu bukan sesuatu yang cacat. Ia juga merupakan hal besar. “Seniman tidak lebih tinggi dari etnografer. Ia juga bertugas mencatat.” Terkait eksotisme, Agung lebih melihat ini sebagai perjumpaan. “Saya berjumpa dengan rasa kehilangan akan masa lampau,” ungkap Agung. Nindityo, sebagai bentuk keprihatinan, juga menambahkan bahwa kita nampaknya sedang loncat menggunakan legitimasi mereka (Barat) untuk melihat benda-benda kita. Lantas Linda dengan tegas meluruskan apa yang telah dikatakannya dengan, “Aku lebih menekankan pendekatannya, bukan hirarki seniman dan arkeolog.”

Terkait kelanjutan atau pertanggungjawaban dari festival Europalia ini, Agung mengatakan bahwa ia setuju jika pameran tersebut dibawa dan dipamerkan di Indonesia. Baginya pameran itu mampu mengolah aspek intelektual dari benda. Irham menutup diskusi dengan statement yang kurang lebih sama. Harapannya di era globalisasi ini, misi kebudayaan Indonesia tidak terbungkus ke dalam wacana internasionalisme yang semu.

Artikel ini merupakan rubrik Rubrik Agenda Rumah IVAA  dalam Buletin IVAA Dwi Bulanan edisi Januari-Februari 2018.