[Sorotan Dokumentasi] Biennale Jogja XIV: Merangkum Peristiwa Sosial dalam Peristiwa Seni

Oleh: Rudi Rinaldi

Biennale Jogja tahun ini fokus bekerja sama dengan negara Brasil, yang secara letak geografisnya sejajar dengan Indonesia, yaitu dilewati oleh garis khatulistiwa. Biennale Equator menjadi upaya nyata untuk membangun definisi baru berkaitan dengan gagasan antarnegara, serta memberikan alternatif terhadap relasi antarnegara dalam kancah globalisasi secara umum.

Pameran Utama

Tujuan dari kerja sama dengan negara dari Benua Amerika tersebut adalah untuk mewujudkan pameran seni rupa sebagai agenda utama dalam gelaran besar dua tahunan ini. Dengan mengangkat tema “Stage Of Hopelessness”, pameran Biennale Jogja XIV: Equator #4 diselenggarakan pada 2 November hingga 10 Desember 2017.

Seluruh gedung pamer Jogja Nasional Museum (JNM) Yogyakarta digunakan sebagai ruang utama pameran yang melibatkan 39 perupa undangan. 27 di antaranya merupakan perupa WNI yang aktif berkarya dalam enam tahun terakhir, 12 sisanya adalah perupa asal Brasil. Tiga di antaranya kemudian mengikuti residensi di Yogyakarta. Pemilihan perupa dari Brasil tersebut berdasarkan rekomendasi Gabriel Bogossian, seorang kurator dan organisasi video asal Brasil.

Bertindak sebagai kurator adalah Sigit Pius Kuncoro, dibantu oleh Forum Ceblang Ceblung sebagai Direktur Artistik. Keduanya bekerja sama merespon ruang pamer dengan format tujuh poin yang bebas diinterpretasi oleh para perupa peserta pameran. Tujuh poin itu adalah Penyangkalan atas Kenyataan, Kemarahan pada Keadaan, Keputusasaan atas Kehilangan, Kepasrahan atas Ketiadaan, Penghiburan atas Kehilangan, Kesadaran pada Keadaan, dan Penerimaan atas Kenyataan.

Selain lukisan, pameran utama ini juga menampilkan beragam medium seperti patung, desain grafis, instalasi, video, dan fotografi. Karya-karya itu ditempatkan di ruang-ruang yang dirancang secara strategis untuk menguatkan masing-masing tema yang disampaikan. Sementara di luar gedung, sebuah karya ditampilkan yang secara eksplisit berintegrasi dengan karya-karya di ruang pamer.

Mencermati karya para seniman, nyaris seluruhnya adalah karya baru. Beberapa karya memang pernah tampil di hadapan publik sebelumnya, namun telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan tema utama pameran. Meski demikian, hal ini tidak akan mengganggu Anda dalam menikmati keseluruhan karya yang dipamerkan.

Agenda Pendukung

Parallel Event diselenggarakan pada 28 Oktober hingga 3 Desember 2017. Program ini terdiri dari pameran di beberapa titik di Yogyakarta dengan merangkul keterlibatan ruang dan komunitas seni yang lebih luas. Pelibatan ini menjadi sangat penting untuk membangun pemahaman bahwa seni bisa dilihat sebagai satu produksi pengetahuan yang tidak hanya ‘terpusat’ pada satu titik tertentu.

Selain agenda di atas, dibentuk pula Biennale Forum sebagai penyelenggara diskusi, kuliah umum, simposium, artist talk, dan workshop yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang kritik serta ruang pembacaan. Agenda ini terlaksana dari 4 November hingga 7 Desember 2017 di beberapa titik di Yogyakarta. Biennale Forum selalu mengangkat tema yang berbeda dan aktual pada setiap sesinya. Hal ini dimaksudkan untuk merespon isu-isu peristiwa seni atau berbagai peristiwa yang sehari-hari menjadi perbincangan hangat di masyarakat kita.

Bagian terakhir dari agenda pendukung pameran utama Biennale Jogja adalah Festival Equator. Diagendakan pada 10 Oktober hingga 2 November 2017, Festival Equator menjadi rangkaian peristiwa untuk mengawali sekaligus mendukung acara sebelum pembukaan Biennale Jogja. Festival ini mengundang beberapa seniman untuk membuat karya yang berhadapan langsung dengan kenyataan sosial. Dengan demikian, diharapkan masyarakat merasakan semangat hajatan berkesenian di tengah dinamika kehidupan sosial.

Tiga Narasi Besar

Sigit Pius Kuncoro selaku kurator secara spesifik menjelaskan 3 narasi besar yang dibangun berkenaan pengelenggaran Biennale Jogja XIV tahun ini, yaitu:

  1. Organizing Chaos

Bagian atau mengorganisasi kekacauan ini menjadi permulaan dari seluruh rangkaian acara yang diwujudkan dalam Festival Equator. Organizing chaos dalam hal ini membicarakan tentang ketidaklaziman yang sulit untuk dimengerti di tengah-tengah masyarakat hingga merebaknya wabah kegilaan sebagai penanda akan terjadinya perubahan.

2. Stage of Hopelessness

Bentuk dari narasi ini adalah pameran utama Biennale Jogja XIV. Di dalamnya terdapat tujuh poin yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

3. Managing Hope

Bagian ini mengelola harapan, mencoba menawarkan percakapan-percakapan produktif yang dilandasi kesadaran akan hadirnya momen-momen traumatik dalam kehidupan kita sebagai momen estetik.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA September-Desember 2017.