Musrary Edisi ke-5: Jono Terbakar

Penulis: Era D.S. (Peserta Magang IVAA)

Gelaran diskusi musik di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) yang baru dirintis sejak Maret 2017 ini merupakan acara yang  mewadahi pertemuan musisi, kritikus dan pendengar musik Yogyakarta. Pada edisi ke-5 Juli 2017 kali ini Musrary menghadirkan Jono Terbakar.

Jono Terbakar adalah duo akustik heavy-mental dari Yogyakarta yang terdiri dari Nihan Lanisy dan M.N. Hidayat. Dalam acara ini Jono (Hidayat) tampak hadir sendiri, rekannya Terbakar (Nihan) tidak hadir kerena sakit usai manggung di Jakarta. Karena Terbakar tidak bisa hadir, malam itu Jono mengajak temannya Mas Tobi dari Gatal Production untuk berkolaborasi dengan video klip yang ditampilkan saat acara berlangsung. Mas Tobi juga sempat mengusulkan agar desain cover album ke-2 dibuat sayembara.

Acara ini dimulai pukul 20.00 WIB diawali dengan sebuah lagu berjudul Sepatu Sporty. Jono Terbakar telah menelurkan satu mini-album (Sugeng Kunduran, 2014) dan satu full-album (Dunyakhirat, 2015) dan beberapa single.

Jono Terbakar membawakan beberapa lagu andalannya seperti: Titik Dua Bintang, Tualang, Ziarah, dan lain-lain. Dalam penampilannya Jono juga menyelipkan komedi sehingga penonton tidak akan bosan untuk menontonnya. Apalagi di lagu ke-3 Jono menyanyikan lagu berjudul Atos (Kudu Piye Tuips) sontak membuat semua penonton tertawa terbahak-bahak karena kelucuan dalam lirik lagu dan cara menyanyikan lagunya. Inilah cuplikan lirik yang membuat semua tertawa:

“Bu, iki teh e kok ora legi yo?”
Lha malah diwangsuli
“Sewu kok njaluk legi, mas!”
“Sewu kok njaluk legi, mas!”
“Sewu kok njaluk legi, mas!”

Di tengah acara Jono terbakar juga membagikan albumnya kepada penonton yang aktif bertanya dalam diskusi musik tersebut. Jono terbakar rupanya sempat lama menghilang dari dunia musik. Dia mengatakan sebab berhenti di dunia musik itu karena terlalu mendalami agama dan menganggap musik itu haram. Waktu itu dia juga persiapan ingin memiliki anak.

Jono membuat semua lagu itu intinya yang happy. “Walaupun liriknya sedih tetapi setelah mendengarkan akan terasa happy mentalnya,” ujar Jono. Dulu proses awalnya Jono Terbakar itu cuman dari gitar klasik sama handphone aja. Seperti lagu cinta yang sering diputar di radio-radio Yogyakarta. Dari usia SMP Jono sudah memainkan gitar elektrik dan lain-lain. Tetapi Jono mengatakan anggota grup band umumnya ada 5 dan itu tidak nyaman, jadi dia bikin 2 personil saja.

Kali ini Jono Terbakar juga berkesempatan untuk menafsirkan film Ziarah melalui kacamatanya dan kemudian dituangkan dalam serangkaian nada khas Jono Terbakar. Film Ziarah adalah karya sahabatnya BW Purbanegara, dia butuh seniman yang bisa memindah mediakan film, musik, tari, dan lain-lain. Di April 2017 ia berencana merilis mini-album “Ziarah” yang di dalamnya terdapat 4 lagu. Lagu-lagu tersebut mencoba menarik pendengarnya ke suasana cinta dalam bentuk perjalanan, pencarian, kesetiaan, dan refleksi akan kematian.

Dalam acara ini Jono Terbakar menutup dengan sebuah lagu berjudul Tualang dan penonton bertepuk tangan dengan meriah.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli-Agustus 2017.