Mural #OTEWE4

Penulis: Anggie Noorida (Peserta Magang IVAA)

Mural #OTEWE4 kali ini bekerja sama dengan IVAA, dengan merespon lantai amphitheater yang ada di Rumah IVAA. Pengerjaan mural selama 2 hari di tanggal 17-18 Juli 2017 dan peluncurannya di 22 Juli 2017, bersamaan dengan acara #UpdateYourCity dari Kindmagz. Untuk konsep sendiri mereka membuat peta Yogyakarta dari sudut pandang yang berbeda. “Pada saat memilih peta Yogyakarta, aku ngobrol dengan Kotrek. Bagaimana jika menggambarkan masalah yang ada di Yogyakarta dengan cara yang berbeda? Sepertinya asik… Kemudian muncullah beberapa karakter di peta seperti Sleman dengan karakter Gunung Merapi, Kulon Progo dengan karakter Bandara, Yogyakarta, Bantul, dan Gunung Kidul dengan karakter manusia yang ada di dalamnya. Bagaimana masyarakat menanggapi adanya pembangunan,” kata Kotrek.

Sebenarnya proyek ini bagi Ismu Ismoyo dan Kotrek sendiri berkenaan dengan proyek Otewe yang sedang mereka garap tentang alat transportasi di Yogyakarta yaitu sepeda. “Ironis ketika Yogyakarta sebagai kota sepeda tapi ternyata minim ruang publik sepeda di Yogyakarta,” ungkap Ismu. Sebelumnya mereka sudah membuat mural di beberapa titik, yaitu Alun-alun Kidul, Nitiprayan, Giwangan, dan di IVAA adalah lokasi ke-4. Untuk mural sendiri rencana mereka ingin membuat 7 sampai 10 mural. Di setiap titiknya menceritakan permasalahan transportasi sepeda yang ada di daerah itu. Untuk gambar yang ada di Rumah IVAA konsepnya adalah bagaimana menceritakan cara pandang kondisi kota Yogyakarta, yang pasti sepeda ada di dalamnya.

Dalam proyek #Otewe ada 3 hal yang menjadi harapan sang inisiator, yaitu membangun ingatan orang tentang kota Yogyakarta sebagai kota sepeda, yang kedua adalah melihat bahwa kota Yogyakarta tidak dirancang untuk kendaraan besar jadi sepeda itu bisa menjadi solusi mengurangi kemacetan, dan yang ketiga adalah membangun sedikit nostalgia seperti sepeda membuat dialog tersendiri dengan warga yang lain (pengguna sepeda). Sebenarnya penggunaan sepeda di kota Yogyakarta besar akan tetapi fasilitas belum mendukung seperti marka jalan yang ada di jalan, ataupun ruang tunggu yang ada di lampu merah.

Lewat pengerjaan mural ini diharapkan segala permasalahan di Yogyakarta dapat direfleksikan lewat kegiatan berkeseniaan, danmural ini salah satunya. Mengkritik Yogyakarta tidak hanya lewat tulisan saja, tetapi berbicara juga bisa melalui jalan kesenian. Hal inilah yang ingin disampaikan Kind Magz kepada publik Yogyakarta.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Agenda Rumah IVAA dalam Buletin IVAA Juli–Agustus 2017.