Merajut Arsip Menyulam Penelitian

Oleh: Martinus Danang Pratama Wicaksana*

Seorang perempuan muda dengan getol asyik membaca sambil menuangkan pikirannya ke dalam laptop pribadinya. Dia tampak asyik sendiri menuliskan banyak ide-ide yang dia dapatkan. Dengan luwes dan lincah jari-jarinya menari mengetikkan berbagai macam kata-kata dalam laptopnya. Dengan serius dia menyelesaikan penelitiannya dalam lokakarya ini. Dia adalah Annisa Rachmatika Sari (26 tahun) yang kerap disapa Nisa, salah seorang peserta lokakarya IVAA.

Tahun ini IVAA berecana mengadakan Festival Arsip atau FEST!SIP IVAA, yang bertajuk “Kuasa Ingatan”. Dengan tema yang digagas ini IVAA berharap dapat menekankan pada pentingnya ingatan dan masa lalu yang tergambarkan melalui arsip.

Dalam mempersiapkan FEST!SIP tahun ini IVAA secara khusus menyelenggarakan Lokakarya Pengarsipan dan Penulisan Seni Rupa. Lokakarya ini sendiri diadakan mulai bulan Mei-Juni 2017 yang lalu di Rumah IVAA. Antusiasme peserta yang mendaftar cukup banyak yakni 32 orang. Namun setelah proses seleksi, panitia meloloskan 13 orang untuk mengikuti lokakarya.

Tujuan dari lokakarya ini sendiri adalah untuk mengajak para peserta belajar melakukan penelitian di bidang seni budaya  dengan menggunakan arsip. Bahkan IVAA juga mengajak peserta untuk berkarya lewat tulisan-tulisan. “Sebenarnya saya ikut lokakarya awalnya ingin belajar nulis dan tertarik dengan kesenian secara khusus,” tutur Nisa.

Banyak dari peserta yang mengikuti program lokakarya IVAA ini berawal dari keinginan untuk belajar menulis. Apalagi dalam proses pembekalannya mereka dibekali langsung oleh Muhidin M. Dahlan yang kondang dalam penulisannya. Dari sana peserta diajak untuk menyalurkan ide-ide penelitian mereka lewat budaya tulis-menulis sehingga menghasilkan sebuah karya penelitian yang baik.

IVAA juga mengajak peserta lokakarya untuk menyentuh arsip sebagai sebuah bahan untuk penelitian. Sesuai dengan misi dan tujuannya di mana IVAA ingin mendekatkan arsip seni rupa sebagai bahan untuk belajar bersama. IVAA sendiri melihat arsip sebagai sebuah bahan yang paling penting untuk dihadirkan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga masyarakat tidak lagi memandang arsip sebagai benda yang asing yang disimpan dalam lemari dengan suhu yang rendah, namun arsip dihadirkan untuk dekat kepada masyarakat sesuai dengan tujuan lokakarya ini.

Lewat lokakarya ini para peserta diajak untuk bersentuhan dengan arsip dalam melakukan penelitian kesenian. Peserta diajak untuk menggunakan arsip sebagai sumber yang digunakan selama proses penelitian. Selain itu, dalam lokakarya ini peserta juga diajak untuk mengenali sistem pengarsipan ala IVAA, yang disampaikan dalam sesi metodologi pengarsipan seni rupa IVAA. Melalui lokakarya ini, IVAA berharap bisa melanjutkan upaya regenerasi serta melakukan persebaran ilmu dan gagasan yang mendukung produksi pengetahuan. Menariknya, banyak generasi muda yang cukup antusias dengan proses ini. Sehingga banyak pengalaman menarik yang bisa saling dipertukarkan.

Banyak keuntungan yang didapat dari penelitian dengan menggunakan arsip. “Dalam lokakarya ini saya meneliti tentang Ullen Sentalu, dengan menggunakan arsip ternyata didapatkan bahwa konstruksi bangunan Ullen Sentalu memiliki kepentingan tersendiri,” ungkap Nisa ketika menyelesaikan penelitiannya dalam lokakarya kemarin.

Bahkan Nisa beranggapan bahwa penelitian dengan menggunakan arsip sangat membantu sekali dalam penelitian. Arsip sebagai sumber yang sangat penting dalam melakukan proses penelitian. Sehingga dengan menggunakan arsip dapat mengobyektifkan berbagai permasalahan-permasalahan dalam penelitian. Inilah segelintir pengalaman dari Nisa salah satu peserta lokakarya dalam penelitiannya dalam menggunakan arsip.

Kini para peserta lokakarya telah menyelesaikan penelitiannya dan bersiap untuk mengorbitkan pengalamannya dalam penelitian berbasis arsip kepada khalayak umum. Lewat program lokakarya ini, IVAA berupaya agar arsip semakin dekat dengan masyarakat, yang bukan sebatas benda yang disusun secara rapi di lemari pendingin.


*Martinus Danang Pratama Wicaksana, (l.1995) mahasiswa asal Surabaya ini aktif berorganisasi sejak SMP. Di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pun ia aktif di Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Natas USD. Di Natas, ia mengawalinya dengan bertanggung jawab sebagai Redaktur Pelaksana hingga kini menjadi Pemimpin Redaksi. Martin memulai magangnya di IVAA pertengahan Juni ini selama dua bulan dan akan diperbantukan dalam Program Biennale Forum yang merupakan kerja sama IVAA-Biennale Jogja tahun ini.


Artikel ini merupakan bagian dari Rubrik Festival Arsip dalam Buletin IVAA Mei-Juni 2017.