#Sorotan Pustaka | Maret – April 2017

Oleh: Melisa Angela

Salam jumpa lagi di Rubrik Sorotan Pustaka. Rubrik ini dibuat untuk memberikan pemutakhiran kabar mengenai Perpustakaan IVAA. Bila Anda berkunjung ke RumahIVAA maka begitu memasuki pintu depan, maka Anda akan langsung menjumpai Perpustakaan IVAA di selasar kiri ruang publik IVAA. Di sana Anda bisa membaca-baca buku, katalog pameran seni rupa, majalah, jurnal, berbagai tulisan akademis tentang seni rupa Indonesia, dan koleksi komik indie kami. Namun untuk meminjam, Anda perlu mendaftar menjadi KawanIVAA yang keanggotaannya berlaku seterusnya tanpa kadaluarsa. Dalam seminggu, Anda diperkenankan meminjam dua buah buku. Apabila belum selesai membacanya, Anda bisa memperpanjang masa peminjaman untuk satu minggu berikutnya dengan cara memberitahu terlebih dahulu pustakawan IVAA, Santosa, melalui alamat email ivaa-service@ivaa-online.org atau menelepon RumahIVAA di nomor 0274 375262.

Jumlah koleksi Perpustakaan IVAA yang sudah tercatat ada sejumlah 12.052. Untuk menelusurinya Anda dapat membuka Katalog Perpustakan IVAA di tautan library.ivaa-online.org. Berita baik yang bisa kami kabarkan adalah pada dua bulan terakhir kami mendapatkan banyak sumbangan koleksi baru dari anggota perpustakaan dan rekan-rekan lain, yakni sekitar 350 koleksi baru.

Beberapa koleksi perpustakaan yang menarik perhatian kami telah diulas di dalam rubrik Sorotan Pustaka edisi kali ini. Yang pertama adalah buku/katalog seni fotografi dengan desain sampul yang memukau berjudul “Identity Crisis: Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese”. Brian Arnold, seniman fotografi asal Amerika Serikat – yang rupa-rupanya sangat mencintai kebudayaan Indonesia – menyusun buku ini. Dalam risetnya selama tiga tahun, beberapa kali Brian mencari data di IVAA; maka setelah menyelesaikan proyeknya ini, ia segera mengirimkan satu bukunya untuk bisa diakses publik di Perpustakan IVAA. Buku kedua yang kami ulas adalah buku program dari sebuah kolektif seniman muda di Yogyakarta, Ace House Collective. Kolektif yang juga mengelola sebuah ruang seni di Jalan Mangkuyudan ini nampaknya tak ingin program-programnya yang telah banyak bergulir terlupakan begitu saja seiring waktu. Di buku ini kita bisa menyimak narasi dan dokumentasi foto dari masing-masing proyek seni yang sekaligus menjadi karya bagi kolektif tersebut. Buku terakhir yang kami ulas adalah buku yang mencerahkan bagi pekerja yayasan seni nirlaba semacam kami. Buku ini berjudul “Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja,” diterbitkan oleh Arkom Jogja bersama INSISTPress. Betapa tidak, buku ini mengemukakan beberapa tegangan dan kegelisahan yang dihadapi para pekerja NGO, dengan berbagai tanggung jawab beserta dosa sosial yang tidak jarang berjalan-beriringan.

Di bawah ini adalah tautan menuju masing-masing ulasan buku, selamat membaca.


1.Identity Crisis:  Reflections on Public and Private Life in Contemporary Javanese
Oleh: David Ganap

2.Ace House Collective Workbook
Oleh: Wibi Palgunadi

3.Pengorganisasian Rakyat dan Hal-hal yang Belum Selesai: Belajar Bersama Arkom Jogja
Oleh: Lisistrata Lusandiana


Artikel ini merupakan rubrik Sorotan Pustaka dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.