Made in Prison: Berkarya Dalam Penjara? Pasti Bisa!

Oleh: Grace Ayu Permono Putri

Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Narkotika yang tergabung dalam Paguyuban Tiyang Biasa (PASTI BISA) mengelar Pameran “Perbedaan Itu Indah” dengan tema “Rukun Agawe Santoso”, di Lapas Narkotika Kelas II A pada 2 hingga 4 Februari 2017 lalu. Berbagai macam karya seni ditampilkan, terdapat lukisan, patung, sablon, dan sebagainya. Rangkaian acara lain yang bisa ditemukan ialah workshop cukil serta aktivitas melukis di atas kanvas yang membentang sepanjang 30 meter dan pertunjukan musik hadroh Al-Taibun.

Selain itu ada diskusi seni dengan tema “Seni Penjara dan Posisinya dalam Diskursus Kesenian Indonesia”. Dalam diskusi itu AC. Andre Tanama serta Iwan Wijono menjadi pemantik, sementara yang menjadi moderator ialah salah seorang narapidana. Dalam diskusi tersebut, Andre Tanama mengatakan bahwa ia tidak berkompeten soal ‘seni penjara’ karena narapidanalah yang dapat merasakan apa itu seni di dalam penjara, maka ia pun menjelaskan dengan perspektif pengamat. Ia mengelaborasi makna penjara dalam arti fisik maupun non-fisik. Di lain pihak Iwan Wijono sebagai pemantik kedua menambahkan tentang bagaimana melihat penjara dalam arti spiritual.

“Acara ini merupakan bukti banyaknya agenda dan program positif serta membangun yang dilangsungkan di lapas sebagai wadah aktivitas dengan kreatifitas seni dengan segala keterbatasan yang ada,” ujar Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika kelas II Yogyakarta, Erwedi Supriyatno dalam siaran persnya. Erwedi Supriyatno juga kemudian berkisah bahwa ia pernah menjadi pelukis kaki lima Malioboro pada tahun 1989-1990, sehingga ia bisa memahami warga binaannya yang membutuhkan ruang, waktu, dan kesempatan untuk tetap berkreasi.

Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan ‘makan nasi penjara’ dengan menu berupa sayur, ikan, dan nasi yang menurut beberapa seniman rasanya cukup enak.

Kakanwil Kemenkumham DIY, Dewa Putu Gede, mengatakan bahwa kegiatan yang diinisiasi oleh lapas dan paguyuban seniman-seniman ini dapat mengembangkan segala potensi dalam berkesenian dari setiap warga binaan di lapas. Tujuannya untuk membantu warga binaan meningkatkan kemampuan dalam mengurangi ketergantungan obat-obatan. Harapannya, dengan berkesenian mereka akan kembali mendapatkan dunianya.

Di salah satu rangkaian acaranya yakni mural bersama, seniman senior Kartika Affandi putri dari maestro Indonesia Affandi turut memeriahkannya. “Papi saya jadi seniman besar juga tanpa narkoba, jadi usahakan jangan diulangi lagi ya,” Kartika berpesan.

Pameran yang menampilkan lebih dari 100 karya itu menampilkan cerita dari masing-masing penghuni lapas dengan sebaran tema yang beragam. Dari tema personal yang berbasis pengalaman selama di penjara, lingkungan, hingga tema-tema sosial, yang berupaya menjadi bagian dari kritik atas pembangunan.

Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik Lapas Khusus Narkotika Yogyakarta Marjiyanto mencatat per 2 Februari 2017 ada 226 penghuni lapas dan 35 di antaranya seniman atau memiliki hobi seni; ada perupa, pematung, dan pemusik. Dari situlah lahir Paguyuban Tiyang Biasa pada Desember 2016, yang diketuai oleh Santoso Ari.

|klik disini untuk melihat dokumentasi foto|


*Grace Ayu Permono Putri (l.1996), mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Tatakelola Seni di kampus ISI Yogyakarta yang sangat tertarik dengan pengelolaan perhelatan acara seni. Maka Grace banyak terlibat di dalam berbagai kepanitiaan pensi, pameran seni rupa, maupun perhelatan budaya lainnya. Dalam magangnya di IVAA, Grace membantu penyelenggaraan kegiatan di RumahIVAA serta menulis resensi sebagai bagian dari kerja pendokumentasian IVAA.


Artikel ini merupakan bagian dari rubrik Sorotan Dokumentasi dalam Buletin IVAA Maret-April 2017.