Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas

Soal Residensi, Secara Mendalam dan Meluas
Diskusi Berseri, 17 – 16 November 2016, di RumahIVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

“Your Trip, Our Adventure” merupakan rangkaian dua hari diskusi yang berupaya melihat fenomena pertukaran budaya secara mendalam dan meluas. Di hari pertama, fenomena ini ditempatkan sebagai soal yang perlu dibongkar tajam dan dicari relasi kuasanya, semacam usaha untuk zoom in. Sementara diskusi hari ke dua merupakan upaya zoom out, dengan menempatkan fenomena residensi ini pada konteksnya, yakni di tengah usaha percepatan pembangunan dan masifnya pengembangan industri wisata.

Pada diskusi hari pertama, Tiatira hadir sebagai pemantik diskusi. Sebagai peneliti soal residensi yang dilakukan bersama tim kajian arsip IVAA, ia memberikan paparan sejarah residensi, baik ketika ditempatkan sebagai istilah maupun kegiatan. Setelah itu Malcolm Smith, salah satu anggota kolektif Krack! memaparkan sebagian kecil dari penelitiannya soal program pertukaran budaya dan kaitannya dengan struktur kelas sosial. Ia juga memberikan penjelasan soal bagaimana agenda penyandang dana memainkan pengaruhnya dalam aktivitas pertukaran budaya. Sementara di sisi lain terdapat logika pemerintah suatu negara yang selalu ingin menjadi pusat. Elia Nurvista, seniman yang banyak melakukan residensi, membagikan motivasinya dalam melakukan residensi, di tengah konteks kesenimanannya.

Sementara diskusi hari ke dua dengan tema ‘Budaya Berpindah dan Arah Gerak Kota’ lebih membawa pembahasan pada kondisi kota Yogyakartayang laju perubahannya semakin dikencangkan melalui berbagai macam rezim penataan. Dari paparan yang diberikan serta diskusi yang kemudian bergulir selama kurang lebih tiga jam, forum ini mampu mengeksplisitkan berbagai persilangan kuasa dan rezim yang merupakan elemen dari percepatan pembangunan, yang banyak menentukan wajah kota Yogyakartayang dipaksa menjadi urban.Dimulai dari paparan Pitra Hutomo, arsiparis dan peneliti IVAA, yang mengartikulasikan arah gerak perubahan Yogyasebagai ruang hidup beserta peran seniman dalam laju perubahan tersebut. Setelah itu, Maria Adriani, dosen arsitektur UII sekaligus perencana ruang urban, memberikan paparan menyeluruh dari hulu sampai hilir soal bagaimana Yogyakartadipaksa menjadi ruang urban. Sementara pemantik diskusiketiga ialah Rosyid Adiatma, akademisi, yang sedang melakukan penelitian soal identitas dan perebutan ruang. Ia tengah melakukan tahap awal dari penelitian di desa Tambakharjo, Tugurejo, Karanganyar. Dalam paparannya ia membagikan beberapa cara pandangnya yang dipakai dalam penelitiannya tersebut.

Kedua forum ini berlangsung sebagai ruang berbagi masukan, pemikiran, posisi dan strategi hingga sebagai sarana kritik dan otokritik bagi para pelaku dan penggerak aktivitas seni budaya.