Pengantar Meraba Wajah Sosial Kota: Sebuah Catatan Tentang Pojok Arsip IVAA

Pengantar Meraba Wajah Sosial Kota: Sebuah Catatan Tentang Pojok Arsip IVAA

Archive Showcase, 17 November – 31 Desember 2017, di Rumah IVAA
Oleh: Lisistrata Lusandiana

Sekira kurang lebih satu semester ini IVAA secara rutin gelar pojok arsip, yang setiap dua bulan sekali berganti tema. Kali ini, kami menghimpun beberapa kepingan peristiwa yang sengaja kami susun untuk menggarisbawahi berbagai tonggak yang menjadi penanda arah gerak ruang hidup kita. Sebagai warga yang merasa memiliki ruang ini, sebagian dari kita tentu sudah bisa merasakan bahwa kota ini sedang bergerak ke arah yang tidak kita suka atau tidak kita sepakati.

Di satu sisi hampir setiap hari kita terus dihadapkan pada berbagai narasi yang menguatkan model pengembangan dan pembangunan kota dengan narasi istimewanya. Sementara di sisi lain, di tengah narasi dominan keistimewaan, terdapat geliat warga yang tidak diam, merespon situasi ini sebagai kondisi yang tidak baik-baik saja. Terhitung sejak masa reformasi, geliat dan dinamika politik kewargaan hampir selalu ada. Sementara posisi seniman dan pekerja budaya yang hidup di kota Yogyakarta Jogja ini sering kali menjadi bagian di dalamnya.

Peristiwa dan catatan sejarah yang dihadirkan di sini tidak melulu terkait langsung dengan soal peristiwa jadi yang sudah berupa acara dan kegiatan yang kemudian diberi nama peristiwa seni dan budaya. Di tengah proses hadirnya karya ataupun acara selalu terdapat konteks ataupun udara yang membuat nafas dari peristiwa kultural tidak mungkin hidup tanpanya.

Berbagai tonggak, yang tidak harus besar dan monumental, sengaja kami hadirkan, mengingat kecenderungan kita yang memiliki ingatan pendek. Kita seringkali lupa atas beberapa peristiwa yang telah lewat, sehingga tidak jarang kita melakukan pengulangan yang tidak perlu.

Harapannya, kita tidak kemudian begitu saja larut pada wajah kota kita yang dibuat seolah ‘istimewa’, namun lebih terpancing untuk bertanya sambil meraba wajah lainnya yang sesungguhnya lebih nyata. Karena di situlah terdapat wajah sosial dari suatu ruang hidup. Pojok arsip yang sempit ini tentu tidak mampu merepresentasikan seluruh wajah sosial yang berdinamika saat ini. Namun setidaknya ini menjadi awalan dan sebagian kecil dari proses kerja tim program, yang sedang mengumpulkan model-model kerja seni budaya yang ada di sekitar kita dan kaitannya dengan arah gerak ruang hidup yang bernama Yogyakarta. Semoga kita tidak terlalu lama larut dalam lamunan massa.