Ketika Seni dan Sejarah Beririsan: Ulasan Kuliah Umum Seni dan Sejarah

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

1

Pada Rabu dan Kamis, 14 & 15 September 2016, Ark Galerie mengadakan kuliah umum Seni dan Sejarah, yang menghadirkan Arin Rungjang sebagai pembicara. Kuliah umum hari pertama diadakan di RumahIVAA, sementara pada hari Kamis, kuliah umum diadakan di Universitas Sanata Dharma (USD), bekerja sama dengan PUSDEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik). Selain Arin Rungjang, Yerry Wirawan, seorang dosen sejarah USD, juga menyampaikan materinya.

img_6641

Diskusi ini diawali dengan presentasi karya seni dari Arin yang berjudul Mongkut (dalam bahasa Indonesia berarti mahkota). Melalui video dan pembuatan replika Mongkut, Arin mencoba menghadirkan Mongkut sebagai sebuah simbol dari proses penelitian sejarah yang ia lakukan. Sebuah simbol relasi antara Thailand dengan Perancis pada masa pemerintahan Raja Rama IV (1851-1868) dan Napoleon III (1852-1870). Pada masa itu, sebagai bagian dari strategi menghadapi kolonialisme Perancis dan Inggris, Raja Rama IV memberikan replika Mongkut kepada Perancis dan Inggris, sebagai sebuah tanda persetujuan perdagangan dan beberapa kebijakan politik asing. Melalui karya seni ini Arin juga ingin menunjukkan kedaulatan Thailand dalam menghadapi kolonialisme. Kedaulatan yang tentu mengundang banyak perdebatan.

Dalam proses menghasilkan karya ini, Arin melakukan penelitian sejarah untuk mengetahui relasi antara Thailand dengan Perancis di masa kolonialisme. Yang menarik adalah bahwa ia menggunakan metode penelitian sejarah yang cukup berbeda dengan apa yang dilakukan para sejarawan pada umumnya. Ia menggunakan metode penelitian sejarah dengan perspektif seni. Intuisi yang lahir dari sebuah pengalaman pribadi menjadi dasar pencariannya. Berawal dari relasinya dengan seorang berwarganegara Perancis, dengan berbagai dinamikanya, Arin tergerak untuk mencari tahu relasi antara Thailand dengan Perancis dalam konteks sejarah. Bagi dia, relasi dua negara tersebut dalam konteks sejarah memiliki hubungan dengan pengalaman personalnya. Dari narasi kecil yang sangat personal menuju metanarasi yang kompleks. Menggunakan ‘yang sekarang’ sebagai konteks untuk membuka kembali sejarah yang diketahui sedikit orang.

Secara lebih mendalam, Arin sebagai seorang seniman yang melakukan penelitian sejarah, ingin mengatakan bahwa yang menjadi poin penting adalah bukan melulu soal sejarahnya, melainkan motif di balik tindakan di masa lampau. Tentang bagaimana sejarah itu dibentuk. Kekuatan ide di balik keberadaan objek. “How the object becomes a history,” ujar Arin.

Metode yang unik ini memunculkan respon dari kacamata sejarawan. Yerry Wirawan, seorang dosen sejarah di Universitas Sanata Dharma dalam diskusi ke dua memberikan pendapat bahwa metode penelitian sejarah dengan perspektif seni sebenarnya juga sebuah proses historiografi. Namun, imajinasi dan intuisi mungkin menjadi hal yang lebih menggerakkan para seniman untuk melakukan studi sejarah. Ia juga mengatakan bahwa imajinasi juga diperlukan para sejarawan dalam melakukan penelitian. Dengan imajinasi dan sumber kedua, seperti aktivitas interaksi dengan masyarakat, mendengarkan musik, menikmati suasana tempat ibadah, para sejarawan akan terbantu untuk membangun imajinasi sejarah yang terhubung dengan konteks sekarang.

Pertemuan antara seni dan sejarah bukanlah sebuah pertemuan yang mau menentukan siapa yang akan memenangkan diskursus, akan tetapi sebuah pertemuan menggembirakan yang membuka pandangan baru. Pandangan akan posisi intuisi dan pengalaman personal yang mampu menuntun seniman untuk melihat sejarah, serta soal imajinasi yang mampu membantu sejarawan menghubungkan yang dulu dengan yang sekarang. Seni dan sejarah dapat berjalan beriringan, meski dengan cara yang berbeda.