Diskusi dan Bedah Buku “Sejarah Estetika”

Oleh: Krisnawan Wisnu Adi

Senin (19/9) pukul 19.00-21.30 WIB IVAA bersama beberapa komunitas lain, seperti Kedai Kebun Forum (KKF), KUNCI Cultural Studies, BRIKOLASE, Impian Studio, Jogja Medianet, dan Indie Book Corner mengadakan diskusi dan bedah buku ‘Sejarah Estetika’ di KKF. Acara ini merupakan bagian dari pameran Buku Andalan 2016. Secara khusus, diskusi ini dihelat dalam rangka melakukan apresiasi secara adil, baik bagi penulis dan publik. Di satu sisi harus adil bagi penulis, karena penulis perlu mendapatkan masukan dari pembacaan yang tidak sebatas glorifikasi dan puja-puji, sementara yang dimaksud adil bagi publik ialah bahwa publik juga layak membaca karya yang berkualitas dan setidaknya mendekati komprehensif. Martin Suryajaya sebagai penulis buku Sejarah Estetika turut hadir sebagai pembicara, menceritakan perjalanan penulisan buku ini. Selain itu, hadir juga dua pembahas, yakni Stanislaus Yangni (penulis dan kritikus seni rupa) dan Wahmuji (pegiat Mediasastra.com dan lingkar belajar kritik sastra). Tak kalah seru, diskusi ini dimoderatori oleh Arham Rahman.

Diskusi dan bedah buku ini diawali dengan sambutan oleh Yustina Neni sebagai tuan rumah KKF sekaligus salah satu pemrakarsa pameran Buku Andalan 2016. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya semangat berdagang sebagai kekuatan dan jalur untuk mengusahakan pergerakan secara sosial dan ekonomi. Dari situlah KKF menjadi ruang alternatif untuk menggelar beberapa aktivitas sosial humaniora, salah satunya adalah diskusi dan bedah buku ‘Sejarah Estetika’.

img_2461

img_2466

Martin menjelaskan bahwa porsi utama dalam bukunya ini adalah tentang kajian pemikiran estetika atau filsafat seni. Pada awalnya juga diceritakan latar belakang proyek penulisan yang disponsori oleh Indonesia Contemporary Art Network (ICAN), yang kemudian menjadi alasan bagi Martin dalam menentukan porsi tulisan. Tentu, alasan di atas membawa dampak adanya beberapa kekurangan dalam buku Martin. Diskusi ini diharapkan dapat membuka kritik dan evaluasi yang kelak  dipertimbangkan.

Latar belakang tersebut juga disampaikan Martin pada kuliah umum di gedung pascasarjana ISI Yogyakarta beberapa jam sebelumnya. Dalam kuliah umum tesebut Martin mengatakan secara lebih mendasar bahwa keberadaan buku ini dilatarbelakangi oleh usaha untuk memberi sumbangan kritik seni (seni rupa) dalam bingkai filsafat. Fokus buku ini adalah pada kebaharuan atau perubahan pemikiran manusia tentang estetika dari periode klasik (pra-sejarah) hingga kontemporer. Tujuannya adalah untuk mendobrak bias estetika modernis yang menciptakan pembedaan kesenian secara biner. Dengan menggunakan sumber primer, Martin melakukan penelitian selama setahun untuk menghasilkan buku dengan ketebalan mendekati 1000 halaman tersebut.

Beberapa penilaian muncul dari para pembahas. Wahmuji, memberikan ulasan dengan memblejeti metodologi sejarah atau historiografi yang dipakai oleh Martin. Ia berpendapat bahwa buku karangan Martin lebih tepat disebut ‘Sejarah Estetika Barat’. Sedikitnya ulasan tentang sejarah pemikiran estetika timur, membuat buku ini didominasi oleh pemikiran para tokoh barat. Lalu ia menilai bahwa historiografi yang dilakukan Martin cenderung berkutat pada perdebatan konsep-konsep besar secara dialektis, selalu dalam alur yang bertentangan satu sama lain. Selain itu ia juga berpendapat bahwa buku ini tidak memiliki fokus spesifik pada kritik seni bidang tertentu.

Sementara ulasan kedua diutarakan oleh Stanislaus Yangni (kerap dipanggil Sius). Sius merasa bahwa pembahasan pemikiran tokoh-tokoh di dalam buku ini sudah cukup asik, meski di saat asik-asiknya mengikuti perjalanan konsep dari tiap pemikir, ia harus kecewa karena harus terputus, lalu pindah ke pemikir beserta pemikiran yang lain. Pernyataan Wahmuji soal alur buku yang dialektis juga diiyakan oleh Sius. Bagi Sius, dalam penyusunan sejarah, tidak harus melulu berkutat pada perdebatan dialektis, relasi atau tiap pergeseran estetika nampaknya juga perlu untuk diperlihatkan. Selain itu, ia melihat adanya perubahan posisi estetika paska fenomenologi, di mana estetika semakin lama tidak lagi menjadi objek yang dibicarakan. Estetika menjadi cara bicara itu sendiri. Di sinilah, penulisan sejarah estetika Martin menemui ketidakmungkinannya, namun tetap ditulis. Bagi Sius, penulisan sejarah estetika di bagian-bagian setelah fenomenologi menjadi terasa sangat gamang.

1

Ruang diskursif semakin hidup ketika Martin merespon beberapa kritik di atas. Terkait anggapan terhadap bukunya yang terlalu ‘barat’, Martin menjelaskan bahwa keterbatasan waktu penulisan menjadi faktor awal. Di samping itu kajian sejarah estetika timur membutuhkan metode penelitian yang lama dan tentu dengan dana besar. Terpencarnya berbagai sumber primer di konteks masyarakat timur akan membuat peneliti mengeluarkan tenaga ekstra untuk menelitinya.

Martin menambahkan bahwa buku ini memang ditujukan untuk pemula, pembaca jenjang S1 (bidang seni, filsafat, dan sastra), dan siapapun yang tertarik seputar topik estetika. Ia mengakui bahwa hal ini menyebabkan kurangnya penjelasan yang detail dan lebih bernuansa general. Nuansa demikian diantisipasi Martin dengan menggunakan fokus pada perdebatan konsep-konsep besar secara dialektis. Bagi dia, cara tersebut mampu membantu pembaca untuk mendapat peta pemikiran dengan masing-masing argumennya.

Terkait estetika sebagai pembicaraan, sebagai yang bukan objek lagi, Martin merespon bahwa akan menjadi sangat rumit ketika hal ini diterapkan dalam penulisan buku Sejarah Estetika-nya. Pembaca akan merasa kesulitan memahami isi dari buku. Kendati di sana-sini terdapat kekurangan mendasar dalam penulisan sejarah estetika, buku ini tetap penting sebagai peta yang terbentang untuk mempelajari rimba pemikiran estetika yang luas nan rumit.