Pameran Arsip IVAA di National Gallery Singapore

Laci reproduksi arsip tulisan tentang seni rupa Indonesia
Laci reproduksi arsip tulisan tentang seni rupa Indonesia

Pameran berlangsung di National Gallery Singapore, hingga November 2017.

Simak juga foto-foto penyelenggaraan pameran melalui tautan ini.

Salah satu interpretasi arsip diolah khusus menjadi video animasi dengan teknik speed drawing berikut.

 

IVAA menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya pada rekan-rekan pekerja seni yang telah turut membuat pameran ini terpajang dengan optimal. Tak lupa ucapan terima kasih terbesar kami sampaikan pada para pengarsip, peneliti, penulis, dan orang-orang yang telah mengerahkan daya dan upayanya untuk menelusuri dan melestarikan dokumen, rekaman, maupun ingatan mereka.

Sejarah seni rupa Indonesia, dan sejarah pada umumnya di Indonesia, adalah subyek yang berangsur-angsur populis di tengah ketidakmapanan. Karena itulah, kita semua harus cermat menelaah sejarah menurut berbagai versinya, kemudian terang dan jelas memaknai dampak dari berbagai versi tersebut.

Interpretasi arsip yang kami lakukan kiranya dapat dirangkum menjadi pengantar di bawah ini.

“Sangkal Putung, Merangkai sejarah seni rupa Indonesia yang patah-patah”

Dinamika dan perjalanan seni rupa di Indonesia tercatat lebih tua daripada usia Republik Indonesia. Sanento Yuliman, esais dan pendamping Gerakan Seni Rupa Baru menyebutkan bahwa tradisi lukis di Indonesia dimulai sejak zaman prasejarah, dan dibuktikan dengan penemuan cap tangan dan penggambaran lain di dinding gua, terutama di kepulauan Indonesia Timur.

Kesejarahan seni rupa Indonesia tersusun atas serpihan-serpihan informasi yang senantiasa disempurnakan oleh para peneliti. Penulisan sejarah seni rupa modern Indonesia secara linear selalu diawali dengan penokohan Raden Saleh, pelukis yang terdidik di Eropa masa Romantisisme. Namun, kehadiran Raden Saleh tidak secara langsung menentukan arah kajian seni rupa Indonesia selanjutnya, karena melukis dengan kanvas dan cat minyak masih merupakan privilese bagi kalangan bangsawan. Baru setengah abad setelah meninggalnya Raden Saleh, muncul ke permukaan sekumpulan pelukis yang menamakan diri PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Salah satu pendirinya yang kemudian menjadi sekretaris, S. Sudjojono, rajin menuliskan aspirasi dan opininya demi mengukuhkan identitas seni dan seniman di tengah masyarakat Indonesia.

Ketika itu, Sudjojono mengkritik tidak sesuainya lukisan naturalis dipraktekkan oleh para pelukis Indonesia. Penggambaran “Hindia Belanda yang molek” tidak diinginkan lagi oleh para pelukis generasi baru, dan Sudjojono menjadi advokat utama untuk kemunculan lukisan-lukisan dengan sensibilitas sosial masa itu. Maka, tidak heran jika Sudjojono masih diminta menjadi narasumber untuk diskusi-diskusi seni rupa yang terdokumentasikan seksama di dekade 70-80an. Pengalamannya dijadikan sarana reflektif untuk ranah seni budaya yang menginjak kemapanan, di antara situasi sosial politik yang senantiasa bergolak.

Mendengarkan rekaman suara dari diskusi-diskusi tersebut akan membawa kita membayangkan, bagaimana sesungguhnya ranah seni budaya di Indonesia berulang kali dipolitisir untuk kemudian didepolitisi lagi. Terusirnya Belanda oleh Jepang di masa Perang Dunia ke-II, pernyataan kemerdekaan Republik Indonesia, perpindahan ibukota karena krisis pemerintahan, sampai pemberangusan ideologi komunis dan berbagai tragedi penyertanya, tidak mampu menghentikan keinginan pekerja seni Indonesia untuk terus mencari makna dari kecintaan mereka atas kesenian. Meskipun untuk mencapai itu, tak urung mereka harus menciptakan identitas yang terpisah dari kecenderungan masyarakat di masanya.

Secara umum cakupan materi pameran sebagai berikut:

  • Elaborasi mula seni rupa sebagai praktek formal di Indonesia. Penokohan Raden Saleh dan kontroversi seputar penokohan tersebut melalui makalah Harsja W. Bachtiar dan Peter Carey dan rekaman diskusi di TIM antara Dan Soewarjono, Sudjojono, Oesman Effendi.
  • Latar sosial di P. Jawa pasca politik etis, melalui penokohan Ki Hadjar Dewantara dan peran Taman Siswa dalam menumbuhkan identitas kebudayaan Indonesia.
  • Jejak seniman asing di P. Bali melalui penokohan Rudolf Bonnet dan Walter Spies dan peran Pita Maha sebagai infrastruktur sosial bagi orang Bali yang berkesenian sebagai laku budaya dengan asosiasi ritual.
  • Kebutuhan PERSAGI melalui Sudjojono untuk menetapkan kisi-kisi identitas lukisan Indonesia dan mencari pengakuan dari pihak-pihak berkuasa yakni pemerintah kolonial Belanda, lembaga seni budaya bentukan Jepang, kemudian melalui Soekarno.
  • Eksplorasi seniman yang mengalami pendidikan Belanda dan Jepang sebagai upaya melegitimasi praktek masing-masing, melalui pembentukan cikal bakal infrastruktur seni yakni sanggar dan kemudian akademi seni. Masa ini mulai ada rekaman yang menyinggung peran seni untuk masyarakat, keterlibatan seniman dalam kancah politik praktis, dan identifikasi karakter praktek seniman Jogja-Bandung.
  • Latar politik di Indonesia yang menguat karena mapannya Partai Komunis Indonesia, di kesenian melalui aktifnya LEKRA mengirimkan delegasi untuk peristiwa budaya di luar negeri. Bentrok politik 1965 berimbas pada perlakuan buruk untuk anggota LEKRA dan ancaman bagi upaya kesinambungan praktek seni secara keseluruhan. Sikap saling tuding antar seniman karena ideologi politik mewujud melalui dibuatnya Manikebu sebagai kontra dari Manifestasi Politik yang secara eksplisit menyebutkan bahwa praktek seni budaya di Indonesia harus mutlak mendukung visi negara dengan sistem Demokrasi Terpimpin.
  • Di tengah gencarnya penumpasan ideologi komunis di seluruh Indonesia, pemerintahan Suharto digugat karena kebijakan poleksosbud oleh mahasiswa dan kalangan muda, diantaranya seniman. Di kesenian, mahasiswa juga didera stagnasi dari pengajaran seni yang patuh menunggu tren seni rupa Barat. Mahasiswa ASRI dan IKJ berupaya menggoyang status quo di kampus dengan mogok kuliah, pameran karya yang nyleneh menurut standard pengajaran akademi seni rupa, dan menulis di surat kabar. Beberapa mahasiswa dikeluarkan dari akademi, dan bersama beberapa rekannya yang lolos dari sanksi melanjutkan semangat Seni Rupa Baru.
  • Ideologi Seni Rupa Baru kemudian menyenggol beberapa soal di luar wacana seni itu sendiri, yakni pengolahan data tentang lingkungan melalui Proses ‘85, ekspresi tentang perubahan dinamika sosial budaya masyarakat modern melalui Pasaraya Dunia Fantasi, yang kemudian menjejak kemapanan di tingkat birokrasi melalui Biennale Jakarta 1993 dan Pameran Negara-negara Non Blok 1995.
  • Di Yogyakarta, dinamikanya berlangsung dalam tempo perlahan dan sporadis. Perkumpulan tidak resmi di Seni Sono yang membaurkan internalisasi seniman 70an-90an antara seni rupa, sastra, dan seni pertunjukan diantaranya diwujudkan melalui Binal Eksperimental Arts.
  • Berangsur-angsur, praktek seni Yogyakarta-Bandung-Jakarta semakin mapan menurut jalurnya masing-masing. Sorotan terutama diberikan pada naluri seniman untuk membawa seni ke tengah masyarakat, dengan konsep yang beragam tentang penonton, partisipan, hingga tudingan keberpihakan pada komersialisasi seni. Performance art, dianggap sebagai salah satu bentuk ekspresi yang senantiasa aman bagi seniman, dalam rangka berpraktek di tengah asumsi masing-masing atas masyarakat dan belum ternodai komersialisasi seni.

Tim Kerja:

Farah Wardani (Inisiator – National Gallery Singapore)
Hafiz Syed (Inisiator – National Gallery Singapore)
Cheng Jia Yun (Administrator – National Gallery Singapore)
Pitra Hutomo (Kurator Arsip)
Mahardika Yudha (Rancangan Presentasi, Periode I)
Anang Saptoto (Koordinator Reproduksi Materi dan Rancangan Presentasi, Periode II)
Melisa Angela (Koordinator Bahan)
Christy Mahanani (Koordinator Komunikasi)
Sita Magfira (Pengolah Arsip)
Umi Lestari (Pengolah Arsip, Periode I)
Dwi Rahmanto (Koordinator Pemasangan Materi, Editor Video)
Rifqi Mansur Maya (Pengolah Arsip)
Sukma Smita (Pengolah Arsip)
Tiatira Saputri (Pengolah Arsip)
Alit Mranani (Pengolah Arsip)
Prihatmoko Wicaksono (Ilustrator interpretasi arsip)
Aria Pradifta (Tata letak reproduksi cetak)
Maria Uthe (Tata letak buku elektronik)
Viki Bella (Tata letak buku elektronik)
Akiq AW (Tim Pemasangan Materi)
Mirna Adzania (Penerjemah indeks arsip dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris)