Editorial: Menggembosi Jogja

Yogyakarta telah gembos. Daya angin yang menjadi kekuatan dari dalam telah pergi. Ironisnya, gembosnya Yogyakarta justru terjadi dengan kuat sejak keistimewaan Yogyakarta menjadi wacana politik nasional dan gejolak identitas lokal yang menguat. Serentak dengan menguatnya wacana Keiistimewaan Yogyakarta di dalam realitas justru memperlihatkan lansekap kota yang berubah secara masif dengan tanda hadirnya pembangunan hotel, mall, apartemen, kondotel, dan lain sebagainya. Pertumbuhan perumahan, mal, hotel, apartemen, dll, semakin pesat berbareng dengan privatisasi kepemilikan tanah dan komodifikasi ruang kota, hancurnya lingkungan dan merapuhnya tatanan sosial pertetanggaan. Keistimewaan Yogyakarta sebagai jargon identitas tempat merupakan istilah menarik bagi Yogyakarta yang berbeda dengan kota-kota lain, namun juga mengandung pisau bermata dua: di satu sisi bisa menggerakkan orang banyak dalam berbagai level mempunyai kepekaan keruangan yang cukup merata di sebuah kewilayahan; di sisi yang lain ia mengokohkan secara jelas keberadaan Yogyakarta sebagai destinasi, sebagai lokasi – dan itu akan mempercepat hancurnya ruang hidup bersama. Sebagai destinasi, lokasi, dan tempat (place),… tanah-tanah dan ruang-ruang Kota Yogyakarta mengalami privatisasi dan komodifikasi tidak terkendali, menancap seperti paku besar yang membuat gembos daya hidup (keistimewaan) lingkungan dan warganya. Tanah, seperti halnya ruang, merupakan dasar hidup orang banyak, benih dari persemaian kesejahteraan, budaya, dan berkembang-biaknya kemanusiaan. Privatisasi tanah dan komodifikasi ruang menggembosi dasar-dasar hidup orang banyak dan mematikan dayanya.

Menggembosi Yogya merupakan proyek mengumpulkan tulisan sekaligus melakukan pembacaan ulang terhadap Yogyakarta. Kata gembos dan menggembosi dirasa cukup representatif untuk menggambarkan situasi dan gagasan perubahan daya hidup Yogyakarta. Hal-hal yang menjadi sumber menggembos-nya daya hidup tersebut perlu disingkap terus-menerus. Menggembosi Yogya ini bertujuan untuk mendokumentasikan, membagikan dan menyebarluaskan cara membaca dan gagasan mengenai Yogyakarta yang beragam. Dengan cara seperti ini, kami mengikutsertakan diri sebagai bagian dari kegelisahan warga Yogyakarta yang aktif untuk melakukan kerja-kerja resistensi Yogyakarta yang gembos. Melalui website, kami mengumpulkan sekaligus membagikan kembali beragam tema-isu-gagasan orang dari berbagai refleksi amupun basis kerja-kerja yang dilakukan bersama sebagai reaksi maupun aksi atas perubahan-perubahan yang terjadi di sebuah lokasi yang bernama Yogyakarta. Berbagai gagasan, reaksi maupun aksi ini penting dibagikan bersama, di(re)presentasikan, dan direfleksikan sebagai upaya membangun “keruangan yang telah hilang”, melakukan permainan, dan semoga bisa memberi daya dorong dan inspirasi bagi perjumpaan antarorang dalam konteks resistensi keruangan sebuah kota.